Sari artikel terbitan Lorong Sufi
Oleh Abdul Hakim
Perputaran kehidupan ini sangat sarat pesan moral dan pendidikan jati diri, termasuk aneka bencana sebagai bumbu “masak” kehidupan dan guru spritual yang unik mengajarkan kesadaran makna menuju perbaikan batin dan prilaku dari Allah untuk hambaNya, lewat berbagai nuansa dan kronik pesan cerita musikal alam semesta.
Allah membuat bencana alam sebagai mozaik besar menempa hambaNya supaya tanah dan menganggapnya sebagai isyarat surat cinta kasih sayangNya. Menurut Rabuatul Adawiyah cinta Allah wajib dibalas dengan ketulusan tingkat tinggi, Mahabah Allah dibalas dengan ketaatan kepadaNya, yang walaupun Allah tidak membutuhkan balasan dari hambaNya atas segala kebaikanNya. Musibah sebagai isyarat surat cinta sayang Allah lewat berbagai instrumen kehidupan, bertanda Allah semakin sayang dan kasih, dan itu selalu dinaikkan Allah level-level kecintaan itu.
Ibnu Atha’ilah Al Samarakandi dalam kitabnya Al-Hikam, menuliskan dalam ungkapannya bahwa musibah bagi kalangan sufi menjadikan pertanda Allah semakin mencintai hambaNya, dan cara Allah membuka kesadaran atas pemahaman tentang musibah itu. Pesan cinta itu bisa ditanggapi dengan perasaan hati sikap Zahir prilaku dengan tidak mengeluhkannya, dan justru dari sana akan membuat prilaku makin takwa dan saleh Amaliah hamba kepada Allah, Merasakan tercerahkan dengan cahaya Ilahi yang menembus relung batin spiritual untuk menguak lebih dalam lagi “surat surat” cinta Allah itu sebagai pembelajaran tingkat langit, bagi penyucian batin, terhadap hikmah dibalik musibah. Sebab sebesar apapun ujian Allah maka sebesar itu pula cara Allah menaikkan derajat duniawi dan derajat ukhrawi bagi seorang muslim.
Ada tingkatan pembelajaran, bagi orang awam musibah sebagai bencana yang sulit diterima, dan biasanya terjadi sikap menyalahkan yang lain, bahkan menyalahkan Allah. Bagi kalangan ulama umum musibah, sebagai ujian dan disikapi dengan pasrah diri dibarengi dia penolak musibah.Sementara bagi kalangan sufi dan ulama khawasil khawas, musibah adalah pembelajaran level peningkatan derajat kultivasi menuju kualifikasi “pengisian” tenaga terdalam kasih cinta Allah untuk memberi energi ilmu hikmah ke dalam jiwa seseorang.
Menurut Jaluliddin al-rumi, bencana dan musibah merubah sebuah lorong “luka” yang Allah menyembuhkan lewat penyinaran cahaya ilmu ma’rifat billah yang memberi nuansa Ilham bagi volume kualitas diri menjadi hamba terbalik pilihanNya.
Musibah sebagai ikhtiar doa langit yang cahaya menembus dinding-rintihan zikir seorang sufi yang bermunajat dalam kedekatan tanpa batas Musibah sebagai tirai kesufian yang disingkap dengan kacamata ma’rifat, sehingga doa-doa untuk membalas kecintaan diri kepada Allah makin memuncak pada tataran pendakian tazkiyatun nafsi, musibah sebagai zikir pembersih jiwa tapa letupan keluhan baik di hati, perasaan pikiran bahkan di lisan.Yang ada hanya sanjungan pujian bagi Allah, yang makin membukakan tirai Ilmu TertinggiNya kepada hamba yang taat.
Musibah sebagai “kitab suci” kehidupan yang dibaca berulang dan ditafsirkan dengan ilmu suluk sufi, sehingga menjadi lautan ayat kauniyah (ayat-ayat cinta alam semesta) pembangkit kesadaran jiwa tertinggi.(Bersambung)
H.Abdul Hakim, M.Ag.Dosen Ilmu Tasawuf Tarekat dan Sufisme Kontemporer Fakultas Ushuluddin UIN Antasari Banjarmasin Kalimantan Selatan


