Beritarepublikviralnews.com. Batam Antusiasme masyarakat untuk bergabung ke dalam PMB Batam Kota kian menguat. Jumlah anggota yang telah menembus lebih dari seratus orang menjadi penanda bahwa organisasi dakwah ini semakin dipercaya dan mendapatkan tempat di hati publik. Namun, di balik semangat pertumbuhan, para pengurus dan anggota justru memilih langkah penuh kehati-hatian.
Diskusi internal yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan dinamika pemikiran yang matang. Di kalangan anggota, muncul kekhawatiran bahwa penerimaan anggota baru tanpa mekanisme yang jelas bisa mengganggu jadwal dakwah yang selama ini sudah tertata. Karena itu, sejumlah pihak mengusulkan agar proses rekrutmen dilakukan secara terbuka dan adil—mulai dari seleksi, audisi, hingga melibatkan pihak luar sebagai penilai independen. Usulan ini dipandang penting agar keputusan tidak bersifat sepihak dan menghindari sentimen kecemburuan.
Isu “jalur lobi” juga menjadi perhatian. Anggota menegaskan bahwa siapa pun yang hendak masuk melalui pendekatan personal harus tetap mengikuti prosedur yang disepakati bersama. Transparansi dianggap kunci untuk menjaga kondusivitas dan menghindari kesan bahwa organisasi ini bisa diakses dengan cara-cara yang tidak sehat.
Di sisi lain, terdapat pandangan yang lebih inklusif. Bagi sebagian anggota, penambahan pendakwah justru merupakan keberkahan: dakwah adalah amanah bersama, bukan tanggung jawab segelintir orang. Selama penambahan anggota tidak melukai kekompakan internal ataupun menimbulkan kesan negatif di mata publik, langkah membuka pintu selebar mungkin masih dianggap relevan.
Kaderisasi: Meneguhkan Masa Depan Dakwah
Sorotan lain mengarah pada pentingnya regenerasi. PMB Batam Kota dinilai perlu menyiapkan kader sejak dini agar kesinambungan dakwah tidak hanya bertumpu pada satu generasi. Namun, ada pula pengingat agar pengurus baru tidak dibebani ekspektasi berlebihan sebelum mereka resmi dikukuhkan.
Terdapat pula suara yang meminta fokus pertama diarahkan ke perapian internal. Beberapa anggota dinilai masih belum mendapatkan jadwal dakwah, sehingga membuka pendaftaran baru tanpa menyelesaikan persoalan lama dikhawatirkan menambah beban organisasi—termasuk urusan insentif dan kebutuhan operasional lainnya.
Keadilan juga menjadi isu yang mencuat. Ketika anggota dari luar wilayah memperoleh jadwal lebih cepat dibandingkan anggota lama yang berdomisili di Batam Kota, sebagian merasa kebijakan tersebut kurang proporsional. Karena itu, ada usulan agar penerimaan mempertimbangkan domisili demi menjaga rasa keadilan dan efisiensi koordinasi.
Meski demikian, ada pula pendapat yang lebih terbuka: selama seseorang berdomisili di Batam Kota, pintu keanggotaan sebaiknya tetap terbuka. Semakin banyak anggota diyakini dapat memperkuat jejaring silaturahmi dan menghidupkan kegiatan organisasi.
Pengingat tentang Ekspektasi dan Alternatif Terbuka bagi Jamaah
Salah satu catatan penting dalam diskusi adalah pengelolaan ekspektasi. Ketika seseorang resmi menjadi anggota, tuntutan di kemudian hari hampir pasti muncul—mulai dari pembagian jadwal, bantuan sosial, hingga layanan organisasi. Sebab itu, bagi individu yang ingin berdakwah tanpa keterikatan administratif, tetap dipersilakan melanjutkan dakwah secara mandiri tanpa harus masuk dalam struktur PMB.
Untuk urusan menuntut ilmu, organisasi sepakat membuka ruang seluas-luasnya. Kajian dan halaqah tetap dapat diikuti oleh siapa saja tanpa persyaratan keanggotaan. Bahkan, muncul gagasan untuk menghadirkan kajian rutin bertema Islam dan Peradaban Modern guna memperkaya wawasan jamaah. Usulan ini disambut positif.
Diskusi panjang yang berlangsung di PMB Batam Kota menunjukkan kedewasaan organisasi dalam menghadapi pertumbuhan. Di satu sisi terdapat gelora untuk membuka diri, namun di sisi lain kerangka kebijakan harus disusun dengan teliti agar organisasi tetap tertata, adil, dan bebas dari beban berlebih. Dakwah, sebagaimana tercermin dari perdebatan para anggota, bukan hanya soal semangat mengajak kepada kebaikan, tetapi juga tentang kebijaksanaan dalam mengelola manusia, menjaga keadilan, dan menyiapkan masa depan bersama.
( Ns )

