Beritarepublikviral.com // TANAH DATAR , — Pada hari yang diberkahi Jumat, 26 Juni 2026, matahari seolah melangkah lebih lembut dan bersinar lebih ramah saat menyinari bumi Luhak Nan Tuo.
Kawasan suci dan bersejarah Istano Basa Pagaruyung yang berdiri tegak bagaikan mahkota tanah ini, kini kembali melebarkan pelukannya dengan lebih hangat lagi; tembok‑tembok kayu kunonya seolah berbisik riang mengenang masa‑masa kejayaan dahulu, sementara hamparan luas Lapangan Cindua Mato di dekatnya telah berubah wajah sepenuhnya: ia kini berdenyut penuh kehidupan, bergetar mengikuti irama langkah ribuan warga dan tamu yang berdatangan — menandai dimulainya Hari Kedua rangkaian kemegahan Festival Minangkabau 2026 🎉🏰.
Jika hari pertama adalah pembukaan yang megah dan penuh wibawa, maka hari kedua ini lahir dengan jiwa yang lebih akrab, lebih ceria, dan lebih mendalam menyentuh jantung kehidupan rakyat. Di sini, setiap sudut tempat seolah ikut berperan: pohon‑pohon besar di sekeliling istana menggoyangkan dahan‑dahannya mengikuti irama musik yang melayang; udara yang berhembus tidak lagi kosong, melainkan telah dipenuhi dan dijahit indah oleh dua hal paling khas Ranah Minang: keharuman rempah masakan otentik yang mengundang selera, serta gema nada‑nada seni yang berkelana dari satu ujung ke ujung lain halaman luas ini 🎐🍛.
Dan di tengah keramaian yang penuh makna ini, deretan agenda utama pun tersusun rapi bagaikan untaian permata baru yang ditambahkan ke kalung budaya daerah:
🎤🎶 PANGGUNG HIBURAN RAKYAT: GEMA SUARA YANG DIKENAL DICINTAI SEMUA
Di titik paling pusat Lapangan Cindua Mato, panggung utama telah berdiri tegak dan siap menyambut momen yang paling ditunggu‑tunggu dengan hati berdebar: Kedatangan dan Penampilan Langsung dari sosok legendaris tanah kelahiran sendiri — Ibu Upiak Isil! 🎵✨ Namanya saja sudah berjalan membawa kenangan di setiap sudut nagari; suaranya yang khas, penuh perasaan, dan sarat cerita kehidupan rakyat, seolah memiliki kekuatan ajaib untuk menyatukan ribuan hati yang hadir menjadi satu irama yang sama. Saat nada‑nada itu meluncur keluar, lapangan luas ini pun ikut bernyanyi bersama — membuktikan bahwa seni budaya adalah bahasa persaudaraan yang tak pernah usang dimakan waktu.
💃🥁 PAGELARAN SENI DAN BUDAYA: TARIAN YANG BERBICARA, BUNYI ALAT MUSIK YANG BERSEJARAH
Tidak jauh dari situ, panggung‑panggung seni membuka tirai keindahan yang tak kalah megahnya. Di sini, gerakan tarian tradisional hadir bukan sekadar sebagai keindahan mata semata — melainkan kisah‑kisah leluhur yang bangkit berjalan kembali di atas tanah asalnya. Ada barisan tarian kolosal yang bergerak serempak bagaikan gelombang samudra; ada pula Atraksi Silek — seni bela diri warisan yang setiap ayunannya menyimpan pelajaran tentang keberanian sekaligus kesantunan budi pekerti. Udara pun terus dipenuhi oleh nyanyian berirama dari alat‑alat musik yang seolah berbicara sendiri: denting indah Talempong yang menari di udara, gema dalam Gandang Tambua yang memanggil ingatan akar persaudaraan, serta alunan lembut namun merdu dari seruling Saluang yang mampu menyentuh hingga ke dasar sukma — semuanya dibawakan dengan penuh rasa bangga oleh perwakilan yang datang dari berbagai penjuru nagari di Tanah Datar 🪘🎶.
🪀🤸 PERMAINAN ANAK NAGARI: KEMBALI KE MASA YANG SEDERHANA NAMAN KAYA MAKNA
Di sudut lain yang paling ceria dan penuh gelak tawa, terbentanglah ruang khusus yang mengundang siapa saja untuk melangkah mundur sejenak ke masa‑masa indah silam: Pameran dan Peragaan Permainan Tradisional Minangkabau Tempo Dulu. Di sini, setiap jenis permainan yang ditampilkan bukan sekadar hiburan masa kecil belaka; ia adalah wadah hidup kearifan lokal yang dulu mengajarkan anak nagari tentang ketangkasan, kejujuran, kerja sama, dan kesabaran. Benda‑benda sederhana itu seolah bercerita: “Dulu kami menjadi teman tumbuh kembang generasi besar, dan hari ini kami kembali hadir untuk mengenalkan kembali jejak indah itu kepada anak‑anak zaman sekarang.” Suara riuh gembira dan tawa yang lepas menjadi bukti paling nyata bahwa warisan ini tetap dicintai dan tetap hidup.
📜👑 FESTIVAL MATRILINEAL & PAMERAN BENDA PUSAKA: BELAJAR DARI JEJAK YANG TERTINGGAL
Lebih mendekat ke tubuh megah Istano Basa, tersusunlah ruang‑ruang yang bernapas lebih tenang namun penuh bobot hikmah: Ruang Edukasi Sistem Kekerabatan Matrilineal sekaligus Pameran Koleksi Benda‑Benda Pusaka. Di sini, setiap penjelasan yang disampaikan bukan sekadar pelajaran sejarah kering — melainkan pembukaan jendela pemahaman tentang satu sistem sosial unik yang menjadikan garis keturunan ibu sebagai tiang utama persaudaraan di Ranah Minang. Di sampingnya pula, benda‑benda tua yang tersusun rapi di dalam etalase seolah membuka mata dan bercerita bisu: senjata‑senjata kebesaran, perhiasan adat, hingga naskah‑naskah lama — semuanya adalah saksi bisu yang masih menyimpan jejak napas kejayaan masa lalu, mengajarkan kita: bahwa untuk melangkah tegap ke depan, kita tidak boleh pernah lupa dari mana asal kita berpijak 🕋📖.
🧶🥘 BAZAR UMKM & PASAR KULINER: DI MANA TANGAN KREATIF BERTEMU CITA RASA ASLI
Dan tidak lengkap rasanya pertemuan besar keluarga Minang tanpa denyut jantung paling meriah: Bazar Produk UMKM dan Pasar Kuliner yang terbentang luas penuh warna serta aroma menggugah selera. Di setiap stan yang berjajar rapi, terlihat jelas bagaimana tangan‑tangan terampil rakyat masih terus bergerak mencipta keindahan: ada kerajinan tangan yang dibentuk dengan penuh kasih, ada pula peragaan megah Kain Tenun Songket yang benang‑benangnya seolah berkilau menceritakan kemewahan dan ketekunan budaya. Di sisi lain, aroma masakan menguasai udara sepenuhnya — mengundang siapa saja untuk berburu dan menikmati Rasa‑rasa Asli Otentik khas Tanah Datar dan seluruh Sumatera Barat; setiap suapan yang masuk bukan sekadar memberi kenyang raga, melainkan membawa serta rasa cinta tanah air yang hangat masuk ke dalam dada 🧆🧵.
📸📱 LOMBA FOTOGRAFI & KONTEN KREATOR: MENGABADIKAN KEINDAHAN AGAR TERBACA DUNIA

Sebagai penutup yang indah sekaligus jembatan menuju zaman masa kini, terselenggaralah pula ajang kreatif yang terbuka lebar bagi setiap pengunjung: Lomba Mengabadikan Momen dan Pembuatan Konten Digital. Kamera‑kamera dan gawai yang terangkat di mana‑mana seolah menjadi mata‑mata tambahan yang bekerja rajin: menangkap setiap lekuk keindahan Istano, setiap kilau senyum peserta, setiap gerak tari, dan setiap jejak pesona budaya Tanah Datar. Lewat tangan‑tangan kreatif ini, kebesaran hari‑hari festival tidak hanya berhenti di halaman Istano saja — melainkan akan terbang melintasi dunia maya, membawa nama dan wajah indah Ranah Minangkabau semakin jauh melintasi batas pulau dan samudera 📡🌏.
Saat matahari perlahan mulai menurun melanjutkan perjalanannya dan bayangan Istano Basa makin memanjang memeluk lapangan, satu hal terasa sangat jelas tertanam di udara: Bahwa di hari kedua ini, tanah Tanah Datar bukan hanya menyaksikan pertunjukan semata — melainkan merasakan kembali bagaimana budaya itu bernapas, bergerak, bekerja, dan memberi manfaat nyata bagi rakyatnya. Istano berdiri bangga, Cindua Mato bergema penuh kenangan, dan hati setiap jiwa yang hadir pulang membawa satu pesan abadi: Di sini, di Bumi Pagaruyung — Warisan Tidak Pernah Mati, melainkan terus mekar dan terus bersinar terang selamanya.(Tb Mhd Arief Hendrawan)


