Beritarepublikviral.com // TANAH DATAR, — Pada hari Kamis yang diberkahi Allah SWT, tanggal 25 Juni 2026, angin yang berhembus melintasi dataran subur Tanah Datar terasa berbeda: ia membawa serta irama dendang yang riang, wangi rempah kuliner khas, dan gema langkah sejarah yang bangkit kembali.
Di kawasan suci dan bersejarah Istano Basa Pagaruyung, serta hamparan luas Lapangan Cindua Mato, tanah kelahiran kerajaan besar ini seolah melebarkan pelukannya, tembok‑tembok bangunan tua berbisik kenangan kejayaan masa silam, sementara langit biru di atasnya membentang lebih cerah menyambut satu peristiwa agung: Pembukaan Resmi Festival Minangkabau 2026 — ajang di mana akar masa lalu bertemu erat dengan harapan masa depan! 🎉🏛️
Di tengah lautan warga dan tamu yang berkumpul penuh sukacita, berdiri tegak dan menyampaikan pesan arahan yang mendalam Bapak Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah.
Dalam ucapannya yang bergema menyusuri setiap sudut halaman istana, beliau menegaskan satu kebenaran yang kini semakin nyata dan terang: Bahwa Budaya bukanlah sekadar peninggalan diam yang disimpan rapi di lemari sejarah atau dipajang hanya untuk dilihat semata.
Tidak! Budaya itu adalah harta paling berharga yang tetap berdenyut hidup; ia adalah Aset Strategis, adalah Sumber Kekuatan Asli, sekaligus Mesin Penggerak Utama yang mampu menarik dan membuka jalan luas bagi kemajuan pariwisata, melahirkan beragam kreasi ekonomi baru, dan yang paling utama — mengalirkan manfaat nyata serta meningkatkan derajat kesejahteraan langsung ke dalam rumah‑rumah dan dapur keluarga masyarakat luas.
Prestasi mulia pun turut menyertai langkah indah ini: untuk keenam kalinya berturut‑turut, Festival Minangkabau kembali diakui dan masuk resmi ke dalam daftar agenda kebanggaan nasional bernama Kharisma Event Nusantara 2026.
Penempatan ini bukan sekadar gelar tambahan, melainkan bukti pengakuan dari negeri yang luas: bahwa di sini lahir ajang andalan yang memiliki tugas ganda luhur — sekaligus menjadi ruang pelestarian agar nilai‑nilai leluhur tidak pernah putus, sekaligus menjadi jalan raya pembuka bagi pertumbuhan sektor pariwisata daerah yang semakin bersinar.
Di hadapan Istano yang megah dan saksi bisu zaman dahulu itu, Gubernur dengan indahnya menyebut pertemuan besar ini sebagai: “Sebuah Ruang Pertemuan Agung — di mana Masa Lalu datang berkunjung membawa pesan, Masa Kini berdiri menyambutnya dengan karya, dan keduanya bergandengan tangan melangkah meneruskan jejak menuju Masa Depan yang cerah.”
Jauh melampaui sekadar keramaian seremonial atau pesta hiburan sesaat, festival ini lahir dan tumbuh membawa misi yang jauh lebih dalam dan kokoh: ia berfungsi sebagai Tempaan Penguat Identitas.
Di sini, setiap warga yang hadir seolah kembali disuntikkan semangat agar rasa memiliki dan kebanggaan menjadi makin membara di dada; agar Jati Diri Minangkabau tetap berdiri tegak, tidak goyah, dan tidak luntur meski diterpa arus zaman yang terus berubah wajah.
“Perlu kita sadari bersama,” ujar Bapak Gubernur dengan nada yang penuh penghormatan kepada tanah tempat berpijak, “bahwa saat ini kita berdiri dan berkumpul di tengah wilayah Luhak Nan Tuo — sebidang tanah yang kedudukannya sangat istimewa, suci, dan berakar paling dalam di seluruh peta sejarah serta kebudayaan Ranah Minang.
Maka, segala budaya yang kita usahakan pelihara dan tampilkan hari ini, tidak boleh hanya menjadi benda mati atau cerita kosong: ia haruslah tetap bernapas, berjalan bergerak, dan — yang paling penting — terus memberi air kehidupan serta manfaat nyata bagi keseharian dan penghidupan masyarakat pemiliknya.” 🕊️🌱
Untuk membuktikan bahwa kekayaan itu benar‑benar masih hidup dan kaya rupa, Festival tahun ini membentangkan karpet pertunjukan yang sangat luas dan berwarna‑warni: mulai dari barisan Pawai Budaya yang berjalan gagah bagaikan kerajaan bergerak; tarian‑tarian tradisional yang setiap lekuk geraknya menyimpan makna mendalam; iringan Arak‑arakan Jamba yang membawa kenangan sistem persaudaraan lama; hingga momen paling akrab dan lezat: Tradisi Makan Bajamba yang menyatukan ribuan orang dalam satu meja panjang persaudaraan.
Tak ketinggalan pula permainan‑permainan riang warisan anak nagari, pameran benda‑benda pusaka yang bercerita masa lampau, hingga deretan stan penuh hasil karya: Produk UMKM dan Karya Ekonomi Kreatif yang berwarna‑warni dan penuh ide baru. Semua keanekaragaman ini bersatu membuktikan satu fakta jelas: Bahwa Budaya Minangkabau bukanlah sesuatu yang kaku dan tertinggal — melainkan tetap relevan, lentur, dan mampu tumbuh berkembang selaras beriringan dengan napas kemajuan zaman.
Namun di balik segala kemegahan panggung dan keindahan pertunjukan itu, Bapak Gubernur tetap menegaskan satu arah kebijakan yang tidak boleh tergeser: Bahwa Pariwisata Budaya sejati haruslah selalu berpihak, berpusat, dan membawa pulang manfaat langsung kepada rakyat pemilik tanah ini.
“Perhatikanlah dengan teliti bagaimana alur manfaatnya berjalan,” tegas beliau menggambarkan gambaran ekonomi yang hidup itu. “Saat hari‑hari festival berlangsung riuh: maka gerakan tangan pengrajin UMKM menjadi makin cepat dan sibuk; meja‑meja kuliner dipenuhi pembeli yang mengantre; kamar‑kamar penginapan di sekitaran Tanah Datar kembali penuh sesak; dan anak‑anak nagari mendapatkan ruang luas serta kesempatan emas untuk berkarya, menampilkan bakat, dan menghasilkan penghasilan. Inilah tepatnya bangunan kemajuan yang kita impikan dan kita bangun bersama: Pariwisata yang berakar kuat pada tanah budaya, dan setiap akarnya menyalurkan air kehidupan langsung ke warga sekitar.”
Data nyata pun ikut berbicara mendukung optimisme ini: tercatat bahwa pada Triwulan Pertama tahun 2026, pertumbuhan ekonomi seluruh Provinsi Sumatera Barat berhasil mencatat angka yang menggembirakan sebesar 5,02 persen.
Dan di antara banyak pendorongnya, satu peran utama tidak bisa disangkal: kenaikan jumlah kunjungan wisatawan yang makin ramai, serta dampak positif yang terus mengalir dari rangkaian pengembangan dan penyelenggaraan acara‑acara budaya bermutu seperti ini.
Agar gema keindahan itu terdengar semakin jauh melintasi batas pulau dan samudera, Pemerintah Provinsi pun terus memperluas jaringan promosi: merambah dunia maya dan media digital, serta menjalin kerja sama erat dengan para penggiat konten kreator — supaya wajah indah dan kekayaan tersembunyi Sumatera Barat semakin dikenal luas oleh dunia luar.
Dari sisi pusat negara, sambutan hangat dan dukungan penuh pun mengalir deras. Bapak Nova Arisne — Kepala Biro Data dan Sistem Informasi di lingkungan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, hadir menyampaikan apresiasi yang tinggi.
Beliau menilai penyelenggaraan Festival ini bukan sekadar pesta daerah, melainkan Satu Momen Penting dan Strategis yang bertugas ganda: menjadi pijakan kuat untuk mempercepat langkah kebangkitan kembali pariwisata Sumatera Barat pasca‑masa sulit, sekaligus menaikkan citra agar Budaya Minangkabau dikenal dan diakui sebagai daya tarik wisata yang memiliki nilai tinggi, khas, unik, serta berdaya saing tegak di panggung persaingan global.
Sementara itu, dari sisi tuan rumah Kabupaten Tanah Datar, Bapak Bupati Eka Putra turut menambahkan makna mendalam lainnya: bahwa di tengah keramaian dan kegembiraan ini, terselip pula tugas mulia untuk Memperkenalkan kembali dan Menanamkan kembali Nilai‑nilai Luhur Asal‑Usul.
Khususnya tiang utama yang tak pernah terganti bagi seluruh kehidupan di tanah ini: Falsafah Agung Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah — yang harus tetap berdiri kokoh sebagai pondasi utama dalam setiap langkah pengembangan budaya maupun pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.
Beliau pun mengajak seluruh lapisan elemen masyarakat, tua maupun muda, untuk terus mengikat tali persaudaraan dan bergerak bergotong royong — bahu‑membahu memperindah dan memajukan wajah daerah tercinta ini, terlebih lagi sebagai langkah bangkit dan pemulihan semangat pasca‑terjadinya bencana alam yang pernah menyentuh tanah kita.
Upacara pembukaan yang megah dan penuh kehormatan ini pun dihadiri oleh deretan tamu kehormatan yang melengkapi kemuliaannya: hadir Wakil Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, segenap Bupati dan Wali Kota dari seluruh kabupaten dan kota se‑Sumatera Barat, unsur lengkap Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, keluarga besar Raja Alam Istano Pagaruyung, perwakilan terhormat dari Bundo Kanduang yang datang berkumpul bahkan dari luar negeri sekalipun, serta puluhan pemangku kepentingan, tokoh adat, dan pelaku usaha daerah yang sama‑sama memegang janji: Menjaga, Mengembangkan, dan Mengangkat Budaya Minangkabau agar tetap bersinar terang selamanya 🕋💐
(Laporan: Tb Mhd Arief Hendrawan)


