🎙️ BERITA REPUBLIK VIRAL, SUARA NURANI DUNIA
Dialog Interaktif Gaya Podcast
Tema: Kata-kata yang Menjadi Jembatan: Penghormatan untuk Võ Thị Như Mai
Pembawa Acara (Laras):
Assalaamu ’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh, selamat berjumpa kembali di Suara Nurani Dunia. Di udara yang membawa kabar dari seberang samudra, hari ini kita akan mendengar bagaimana kata-kata bisa menembus batas lautan, bahasa, dan budaya. Seolah memiliki nyawa sendiri, puisi mampu memeluk hati siapa saja yang mendengarnya.
Kabar datang dari Perth, Australia: Seorang penyair kelahiran Vietnam, yang kini menjadikan benua ini sebagai rumah keduanya, baru saja mendapatkan penghormatan tertinggi di kancah sastra dunia. Selamat datang di obrolan kita hari ini, dan mari kita sambut narator kami, Buya Gus Arief.
Buya Gus Arief:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih, Laras. Benar sekali, seolah angin berhembus membawa kabar indah: Penghargaan Sastra Internasional Naji Naaman edisi ke-24 tahun 2026 baru saja memberikan penghormatan kepada seorang wanita karier yang cantik dan imut yang yang luar biasa, Võ Thị Như Mai. Penghargaan ini bagaikan mercusuar yang menyala sejak tahun 2002, didirikan di Lebanon oleh Yayasan Naji Naaman—ia tidak sekadar memberi piala, melainkan memeluk karya-karya yang membawa cahaya kebebasan, keindahan seni, dan kasih sayang antarmanusia.
Laras:
Wah, terdengar begitu agung! Saya dengar, persaingannya sangat ketat, bukan?
Buya Gus Arief:
Sangat ketat, Laras. Bayangkan: sebanyak 4.127 jiwa penulis dari 83 negara, menulis dalam 27 bahasa yang berbeda-beda. Setiap kata mereka adalah do’a, setiap baris adalah perasaan. Namun dari ribuan suara itu, hanya 88 orang Penulis Terbaik yang dipilih sebagai yang paling menyentuh hati. Dan di antara mereka, nama Võ Thị Như Mai bersinar terang.
Laras:
Apa yang membuat karya beliau begitu istimewa hingga mampu menembus keragaman itu?
Buya Gus Arief:
Lihatlah kumpulan puisinya yang berjudul The Shape of Return—bentuknya indah, jiwanya dalam. Ia ditulis dalam dua bahasa, Inggris dan Bengali, seolah dua tangan yang saling bergandengan. Puisi ini bercerita tentang ingatan yang tak pernah pudar, tentang siapa diri kita sebenarnya, tentang perjalanan panjang meninggalkan tanah kelahiran, tentang rasa memiliki yang selalu merindukan pulang. Bahasa di sini tidak lagi menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan yang membiarkan hati saling bertemu. Ia membuktikan: rasa rindu, harapan, dan cinta adalah bahasa yang dimengerti oleh seluruh umat manusia.
Laras:
Benar, sastra itu seolah memiliki nyawa yang berbicara langsung ke sanubari. Selain menulis puisi, apa lagi yang dilakukan oleh penyair hebat ini?
Buya Gus Arief:
Kata-katanya tidak hanya hidup di atas kertas, Laras. Ia juga bergerak menjalin persahabatan. Sebagai Koordinator Wilayah Oseania untuk Gerakan Puisi Dunia, ia bagaikan burung dara yang terbang bebas membawa pesan perdamaian. Ia percaya, melalui sastra, kita bisa berbicara meski berbeda bahasa, dan saling memahami meski terpisah jarak.
Laras:
Dan tahukah pendengar sekalian, kabar lain yang membahagiakan: Võ Thị Như Mai yang tinggal di Perth ini beberapa hari yang lalu telah hadir di tanah air kita! Beliau menjadi delegasi dalam Festival Literasi Minangkabau Internasional ke-4 pada 3 hingga 7 Juni 2026 kemarin, bahkan berbagi pandangan sebagai pembicara tentang pendidikan di tengah zaman kecerdasan buatan (AI).
Buya Gus Arief:
Sebuah pertemuan yang indah, bukan? Ia yang menjembatani budaya, ia telah berbagi pemikiran tentang bagaimana manusia tetap menjadi manusia di tengah kemajuan zaman. Perjalanan panjang Penghargaan Naji Naaman selama 24 tahun ini telah mengumpulkan lebih dari 45.000 suara dari 144 negara, diterjemahkan ke dalam 136 bahasa—semua berlandaskan satu tujuan: menanamkan nilai kemanusiaan.
Laras:
Jadi, apa makna sesungguhnya dari penghargaan ini bagi Võ Thị Như Mai sendiri?
Buya Gus Arief:
Bagi beliau, ini bukan sekadar medali. Ini adalah pengakuan bahwa setiap kepulangan—baik kembali ke ingatan, ke bahasa ibu, ke budaya, maupun kembali mengenal diri sendiri—adalah awal yang indah. The Shape of Return mengingatkan kita: pulang bukan berarti mundur, melainkan membawa empati, kasih sayang, dan harapan untuk membangun masa depan.
Laras:
Terima kasih banyak, Buya Gus Arief. Benarlah, puisi adalah bukti nyata bahwa kata-kata bisa hidup, bisa menyentuh, dan bisa menyatukan kita semua.
Buya Gus Arief:
Terima kasih kembali. Semoga kisah rekam jejak perjalanan seorang wanita tangguh, Võ Thị Như Mai ini dapat menginspirasi kita untuk terus menjaga persatuan, merajut persahabatan, dan membiarkan kata-kata yang baik terus mengalir.
Laras:
Demikian kabar yang menyentuh hati dari kami. Tetaplah mendengarkan suara yang menyejukkan jiwa.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

🎙️VIRAL REPUBLIC NEWS, THE VOICE OF THE WORLD’S CONSCIENCE Interactive Podcast Dialogue
Theme: Words That Build Bridges – A Tribute to Võ Thị Như Mai
Host (Laras):
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh – peace, mercy, and blessings be upon you. Welcome back to Voices of the Human Soul. Today, carried on the winds from across the oceans, we explore how words can cross the boundaries of distance, language, and culture. Poetry seems to take on a life of its own, reaching out to touch the heart of anyone who listens.
News comes from Perth, Australia: a poet born in Vietnam, who has made this continent her second home, has just received one of the highest honors in the world of literature. Welcome to our conversation, and please join me in welcoming our guest, Buya Gus Arief.
Buya Gus Arief:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh – and peace be upon you too. Thank you, Laras. It is as if a gentle breeze brings wonderful tidings: the 24th edition of the Naji Naaman International Literary Award for 2026 has just honored a remarkable, graceful, and outstanding woman of letters – Võ Thị Như Mai. This award stands like a beacon of light, established in Lebanon in 2002 by the Naji Naaman Foundation for Free Culture. It is far more than a trophy; it embraces works that carry the light of freedom, the beauty of art, and compassion among all people.
Laras:
That sounds truly magnificent! I understand the competition was extremely fierce, wasn’t it?
Buya Gus Arief:
Indeed it was, Laras. Imagine: 4,127 writers from 83 nations, creating works in 27 different languages and dialects. Every word they wrote carried a prayer, every line held deep feeling. Yet from among these thousands of voices, only 88 were selected as the most outstanding, their works touching hearts most deeply. And among them, the name Võ Thị Như Mai shines brightly.
Laras:
What makes her work so special that it can transcend such great diversity?
Buya Gus Arief:
Consider her collection of poetry titled The Shape of Return – as beautiful in form as it is profound in spirit. Written in both English and Bengali, it is as though two hands have joined together. This poetry speaks of memories that never fade, of discovering who we truly are, of the long journey of leaving one’s homeland, and of the enduring longing to belong. Here, language is no longer a dividing wall, but a bridge that allows hearts to meet. It proves that longing, hope, and love form a universal language understood by all humanity.
Laras:
How true – literature seems to possess a life of its own, speaking directly to the soul. Beyond writing poetry, what else does this remarkable poet do?
Buya Gus Arief:
Her words do not live only on paper, Laras. She also works actively to build connections and friendship. As the Oceania Regional Coordinator for the World Poetry Movement, she is like a dove flying freely, carrying messages of peace. She believes that through literature, we can communicate even when we speak different languages, and understand one another even when separated by great distances.
Laras:
And listeners may be pleased to know another wonderful piece of news: Võ Thị Như Mai, who resides in Perth, visited our country recently! She served as a delegate at the 4th International Minangkabau Literacy Festival, held from 3 to 7 June 2026, and even shared her insights as a speaker on education in the age of Artificial Intelligence.
Buya Gus Arief:
A truly meaningful gathering, was it not? As someone who bridges cultures, she shared her thoughts on how we can remain truly human amid the rapid progress of our times. Over its 24-year history, the Naji Naaman Award has brought together more than 45,000 voices from 144 countries, with winning works translated into 136 languages – all united by a single purpose: to nurture the values of our shared humanity.
Laras:
So what does this recognition truly mean for Võ Thị Như Mai herself?
Buya Gus Arief:
For her, it is far more than a medal. It is an acknowledgment that every return – whether to cherished memories, to one’s mother tongue, to cultural roots, or even to discovering one’s true self – marks a beautiful new beginning. The Shape of Return reminds us: returning is not about turning back, but about bringing empathy, compassion, and hope to build a brighter future.
Laras:
Thank you so much, Buya Gus Arief. It is indeed true that poetry stands as living proof that words can come alive, touch hearts, and bring us all together.
Buya Gus Arief:
Thank you as well. May the story of this remarkable woman and her journey inspire us all to cherish unity, weave bonds of friendship, and let words of goodness continue to flow freely.
Laras:
And that brings us to the end of our heartfelt news segment. Keep listening to voices that bring peace to the soul.
Wassalaamu ’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh – peace, mercy, and blessings be upon you all.


