Seminar Sastra Internasional IMLF-4: Ketika Puisi, Kecerdasan Buatan, dan Budaya Minang Berpelukan
Beritarepublikviral.com//Bukittinggi, – Di dalam ruang agung Istana Bung Hatta, tempat yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa, kata-kata dan gagasan berkumandang bagaikan simfoni yang merdu. Di sanalah, pada hari yang penuh makna, terselenggara Seminar Sastra Internasional bertema agung: “Literature 5.0: Puisi, Kecerdasan Buatan, dan Budaya Minangkabau”. Sebagai bagian dari rangkaian puncak Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-4 (IMLF-4), pertemuan mulia ini menjadi panggung pertemuan jiwa-jiwa puitis, pemikir, dan akademisi yang datang dari berbagai penjuru dunia, bersatu hati menyoal hakikat kata, nilai kemanusiaan, dan arah peradaban di tengah gempuran kemajuan zaman.
Forum ini menjadi wadah cahaya, tempat di mana para ahli dan penyair menelusuri persimpangan jalan antara jiwa manusia yang puitis dengan kecerdasan mesin yang canggih. Diskusi mengalir bagaikan sungai yang jernih, menanyakan satu hal mendasar: Ke mana arah kata-kata kita berlayar? Apakah teknologi akan memadamkan cahaya sastra, atau justru menjadi sayap yang membawanya terbang lebih tinggi, menjangkau seluruh penjuru bumi tanpa pernah kehilangan ruhnya?
Jawaban demi jawaban terangkai indah, meyakinkan kita bahwa: Teknologi adalah alat, manusia adalah jiwa. Mesin bisa meniru rima dan merangkai kalimat, namun ia tak akan pernah mampu menciptakan rasa, air mata, senyum, dan kedalaman pengalaman hidup yang menjadi napas sejati setiap karya sastra.
Suara-suara bijak dari tanah air dan seberang samudra hadir menyapa, membawa pandangan luas dan renungan yang menyentuh:
1. Aminur Rahman (Bangladesh) – Penyair & Penerjemah Dunia
Beliau membuka mata hati kita, mengingatkan bahwa puisi adalah rahasia jiwa yang lahir dari derita, suka cita, dan pengalaman hidup yang nyata. “Mesin pintar boleh meniru bentuk, namun ia tak punya rasa; ia tak pernah menangis, tak pernah rindu, dan tak pernah hancur hatinya,” ucapnya lirih namun tegas. Beliau pun mengajak kita menjadikan teknologi sebagai jembatan emas: mempermudah terjemahan, menyatukan bahasa, dan membawa kearifan Minangkabau serta nilai kemanusiaan terbang menembus batas negara, menyuarakan perdamaian ke segenap penjuru dunia.
2. Dr. Imran, S.Ag., M.Hum. (Indonesia) – Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat
Membawa amanah negara, beliau menegaskan: Bahasa adalah nyawa identitas. Di era serba digital ini, kita tidak boleh mundur atau takut. Justru, kecerdasan buatan harus kita genggam erat untuk merawat warisan leluhur—merekam suara, menyimpan cerita lama, dan mendokumentasikan kata-kata yang mulai langka, agar tidak mati ditelan waktu. Beliau pun mengingatkan: “Latihlah mata dan pikiran untuk membaca dengan kritis. Bedakanlah kata yang lahir dari hati dengan kata yang hanya tersusun dari data semata.”
3. Dr. Les Wicks / Eles Wicks (Australia) – Penyair Senior & Pengarang
Datang dari benua kangguru, beliau berbagi pengalaman emas: bahwa keindahan sastra justru terletak pada ketidaksempurnaan dan keunikan manusiawi—sesuatu yang tak akan pernah bisa ditiru mesin. Beliau mengajak kita membawa puisi keluar dari lembaran buku yang sunyi, menaburkannya di ruang publik, menyajikannya lewat dunia maya, agar kata-kata indah itu dapat disentuh, dibaca, dan dicintai oleh siapa saja, terutama oleh generasi muda yang tumbuh di jari-jemari teknologi.
4. Laura Garavaglia / Laura Corcia (Swiss/Italia) – Penyair & Jurnalis
Wanita bijak ini membawa pandangan mendalam: “Puisi dan sains adalah saudara kembar yang saling melengkapi.” Keduanya sama-sama pencari kebenaran, sama-sama takjub melihat keagungan alam semesta. Namun, hanya manusia yang memiliki empati, cinta, dan rasa spiritual. Di tengah dunia yang makin dingin dan mekanis, sastra adalah benteng kokoh yang menjaga hati agar tetap manusiawi, tetap peka, dan tetap saling merangkul.
5. Prof. Dr. Prithviraj Taur (India) – Akademisi & Peneliti
Membawa pesan dari tanah yang kaya peradaban, beliau menyandingkan kisah bangsa Marathi dengan kisah Minangkabau: Sama-sama berjuang menjaga bahasa ibu di tengah derasnya arus asing. Beliau menekankan, sastra lama bukan sekadar cerita, melainkan gudang nilai luhur yang membentuk karakter. Maka, digitalisasi bukanlah pilihan, melainkan keharusan—agar akar budaya tetap menancap kuat meski pucuknya tumbuh menjulang tinggi menyapa masa depan.
6. Indria C. Tamsin (Indonesia) – Akademisi & Penyair
Mewakili suara tanah kelahiran, beliau menenangkan keraguan: “Jangan takut pada Kecerdasan Buatan. Jadikan ia sahabat, bukan lawan.” Ia bisa membantu kita merangkai ide, memperkaya gaya bahasa, dan memperluas wawasan. Namun, kekuatan terbesar tetaplah ‘RASA’—intuisi dan jiwa penyair yang tak tergantikan. Tugas kita adalah menjaga orisinalitas, menghormati hak cipta, dan menanamkan nilai-nilai luhur alam Minang ke dalam setiap karya agar tetap relevan dan abadi.
7. Marnita, M.A. (Indonesia) – Akademisi Universitas Andalas & SATUPENA
Sebagai pemandu diskusi yang arif, beliau merangkum seluruh gagasan menjadi satu harapan besar: Bahwa di era ini, sastra harus turun gunung. Ia harus merangkul semua lapisan masyarakat, hadir di setiap genggaman tangan lewat teknologi, dan menjadi cahaya yang menerangi bukan hanya para cendekiawan, melainkan juga rakyat kecil, anak-anak, dan siapa saja yang haus akan keindahan makna.
Seminar digelar pada Sabtu, 6 Juni 2026, bertempat di Istana Bung Hatta, Bukittinggi—tempat yang penuh kenangan dan keagungan, seolah ikut meresapi setiap kata yang terucap.
Karena kita berdiri di persimpangan zaman. Teknologi bergerak secepat kilat, mengubah cara kita hidup, berbicara, dan berpikir. Tanpa kesadaran yang kuat, kekayaan budaya dan bahasa yang telah dijaga ratusan tahun bisa saja luntur, hilang, atau dianggap kuno. Padahal, kearifan lokal Minangkabau—yang dirajut dari falsafah hidup, adat, dan akhlak mulia—memiliki daya tarik universal yang dicari oleh dunia. Mempertemukannya dengan kemajuan zaman adalah cara terbaik agar warisan ini tetap hidup, terus dibaca, dan terus menginspirasi hingga ke generasi yang jauh.

Dari pertemuan para pemikir dunia ini, lahirlah satu kesepahaman yang bulat:
1. Manusia Tetap Pemimpin: Teknologi hanyalah alat bantu yang patuh. Kreativitas, imajinasi, dan rasa kemanusiaan adalah raja yang tak tergantikan.
2. Digitalisasi sebagai Penyelamat: Segala kekayaan sastra lisan, tulisan kuno, dan pepatah bijak harus segera disimpan, diolah, dan disebarkan lewat jalan digital agar tak musnah dimakan usia.
3. Jembatan Bahasa Tanpa Batas: Gunakan kemudahan teknologi untuk menerjemahkan karya, sehingga cerita indah Ranah Minang bisa dibaca dan dipahami oleh sahabat-sahabat kita di seluruh penjuru bumi.
4. Sastra yang Merangkul: Kata-kata indah tidak boleh hanya menjadi milik segelintir orang terpelajar. Ia harus meluas, menyentuh hati rakyat banyak, menjadi makanan jiwa bagi siapa saja yang haus akan keindahan dan makna.
Demikianlah pesan agung yang tertinggal… Bahwa puisi dan budaya adalah napas abadi peradaban, dan teknologi adalah sayap yang membawanya terbang. Mari kita rawat keduanya dengan kasih sayang, agar di masa depan kelak, dunia tetap mendengar lantunan indah suara Minangkabau yang bergema selaras dengan kemajuan zaman.(Tb Mhd Arief Hendrawan)


