✨ DI TENGAH GELOMBANG ZAMAN: MENJAGA JIWA DAN BAHASA RANAH MINANG ✨

✨ DI TENGAH GELOMBANG ZAMAN: MENJAGA JIWA DAN BAHASA RANAH MINANG ✨

Seminar Kebudayaan IMLF-4 Tahun 2026: Bahasa, Akhlak, dan Masa Depan Peradaban

Beritarepublikviral.com//Bukittinggi, – Di dalam ruang Auditorium UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Jumat 5 Juni 2026, suasana berpadu hening dan khidmat. Di sanalah Seminar Kebudayaan Internasional digelar, mengusung pertanyaan besar yang menggema di hati setiap anak bangsa:
“Ke Mana Budaya Minangkabau Akan Dibawa? Bahasa dan Akhlak Urang Minang”.

Acara ini menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian agung Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-4 (IMLF-4), yang beriringan dengan peringatan seabad keberadaan Jam Gadang.

Pertemuan mulia ini mempertemukan para pemikir, cendekiawan, tokoh adat, pendidik, dan seniman dari beberapa negara di dunia. Bersama-sama, mereka menelusuri, merenungkan, dan merumuskan jalan bagi keberlangsungan bahasa serta nilai luhur Minangkabau yang kini sedang berdiri di persimpangan zaman.

Diskusi mengalir bagaikan sungai jernih, membahas ancaman, menggali kekuatan, serta merajut harapan agar identitas bangsa tidak hilang ditelan arus modernisasi dan gempita dunia maya.

Bahasa Minangkabau, sebagaimana disampaikan pesan Gubernur Sumatera Barat yang dibacakan oleh Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Ahmad Zakri,S.Sos, M.Si pada pembukaan Seminar Kebudayaan yang digelar Internasional Minangkabau Literacy Festival (IMLF-4), bukan sekadar rangkaian bunyi untuk berkomunikasi. Ia adalah jiwa yang bernyawa, pilar kokoh yang menopang identitas, cermin budaya, dan penjaga marwah orang Minang.

Di setiap kata yang terucap, tersimpan sejarah panjang, falsafah hidup, serta akhlak mulia yang diwariskan leluhur. Namun kini, bahasa yang begitu indah ini seolah berbisik lirih meminta pertolongan—terancam perlahan hilang karena jarang lagi terdengar di bibir generasi muda, tergeser oleh gelombang budaya asing dan derasnya arus digital.

“Jika tangan-tangan kita tidak segera menjulur merawat, para pakar memperkirakan bahasa Minang ini dapat lenyap dalam dua puluh tahun ke depan,” demikian peringatan yang menghunjam ke dada.

Suara-suara bijak 5 tokoh mumpuni turut hadir mewarnai solusi, membawa pandangan luas dan kedalaman rasa:

1.Fery Chofa, SH, LL.M (Ketua LpKAAM Bukittinggi)
Beliau mengingatkan bahwa menjaga bahasa sama artinya dengan menjaga kelestarian akhlak. Di tengah gemerlap teknologi, tantangan terbesar adalah ketika anak-anak mulai merasa asing dengan bahasa sendiri. Maka, keluarga dan lembaga adat menjadi benteng pertama dan utama—tempat di mana kata-kata sopan, pepatah bijak, dan nilai kesantunan harus terus diajarkan, dituturkan, dan dihidupkan setiap hari.

2. Prof.Dr.Prithviraj Bhaskarrao Taur (India)
Akademisi, penyair, dan Guru Besar asal Universitas Swami Ramanand Teerth Marathwada ini hadir membawa pengalaman luas. Penulis sekitar 30 buku yang pernah diundang langsung oleh Presiden India ini mengangkat tema “Literature 5.0”. Beliau mengajak kita tidak takut pada kemajuan, melainkan menjadikannya sahabat: bahwa Kecerdasan Buatan (AI) dan teknologi harus menjadi alat bantu, bukan pengganti. Teknologi harus dipakai untuk menabur benih sastra, menyebarkan bahasa, dan membuat kearifan lokal dikenal hingga ke ujung dunia, tanpa pernah kehilangan esensi aslinya.

3.Prof. Dr. Fauziah Fauzan, S.E., Akt., M.Si. (Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri)
Wanita inspiratif penerima penghargaan Rangkayo Minang Award 2025 ini membuktikan bahwa kemajuan dan keluhuran budaya dapat berjalan beriringan. Di tangannya, pesantren mekar dengan ilmu pengetahuan modern, sains, hingga robotika, namun tetap kokoh berpegang pada kurikulum berbasis kasih sayang dan nilai agama. Beliau menegaskan: Pendidikan adalah tameng yang paling kuat. Melalui pendidikan yang beradab, kita mencetak generasi yang cerdas dunia, namun tetap hangat hatinya dan teguh akhlaknya.

4.Laura Di Corcia (Swiss)
Penyair dan kritikus sastra ternama berbahasa Italia ini membawa pesan bahwa sastra adalah jembatan abadi. Penulis buku Diorama yang mendunia ini menekankan: merubah cerita lisan menjadi tulisan, mendokumentasikan kearifan lama ke dalam karya sastra, adalah cara ampuh agar suara leluhur terus terdengar, dicintai, dan dipahami oleh generasi mendatang, serta oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

“Karena budaya adalah nafas kehidupan. Tanpa bahasa, identitas menjadi buta; tanpa akhlak, kemajuan menjadi hampa. Gelombang budaya asing, derasnya informasi, serta perubahan gaya hidup ibarat ombak besar yang terus menghantam. Jika kita lengah, tanah tempat kita berpijak bisa saja terkikis habis,”ujar Prof. Dr. Fauziah Fauzan, S.E., Akt., M.Si.

“Falsafah luhur “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” harus tetap menjadi kompas yang menuntun arah, agar kita maju melangkah ke depan tanpa pernah tercabut dari akar,”tegasnya.

Dari diskusi mendalam itu, lahirlah janji dan langkah nyata yang dirumuskan bersama:

1.Kembali ke Hati Rumah: Orang tua tak boleh gengsi, tak boleh ragu—bahasa Minang harus menjadi sapaan pertama yang didengar anak di dalam rumah. Di sinilah benih rasa cinta pertama kali ditanam.

2.Sekolah sebagai Taman Kearifan: Lembaga pendidikan wajib menjadikan bahasa dan budaya bukan sekadar pelajaran, namun menjadi udara yang dihirup setiap saat—diajarkan, dibiasakan, dan dihargai.

3.Ruang Publik yang Ramah: Bahasa daerah harus kembali bersinar di tempat umum, dalam tulisan, dalam pembicaraan, dalam seni dan pertunjukan, menahan agar tidak terus tersisih.

4.Bergandengan Tangan: Pemerintah, lembaga adat seperti LKAAM, komunitas sastra, dan masyarakat harus berjalan seirama. Berkolaborasi menciptakan program, seperti lomba merangkai kata klasik, agar kata-kata indah nenek moyang terus hidup dan bergaung.

Implementasi Kurikulum Muatan Lokal Keminangkabauan yang disarankan dalam seminar Kebudayaan ⁠IMLF-4 mengacu pada penguatan ⁠Kurikulum Merdeka yang disinergikan dengan regulasi daerah (seperti Perwako Kota Bukittinggi maupun program unggulan Provinsi Sumatra Barat). Rekomendasi ini menekankan bahwa pelestarian bahasa daerah tidak boleh sekadar menjadi teori di buku cetak, melainkan harus dipraktikkan secara sistematis.

Berikut adalah detail cetak biru (blueprint) implementasi kurikulum muatan lokal yang disarankan oleh para panelis:
1. Metode Pengintegrasian Materi (Bukan Sekadar Hafalan)
• Penerapan Kato Nan Ampek: Bahasa Minang diajarkan bukan hanya kosakatanya, tetapi aturan tata krama bertutur (Kato Mandaki, Mandatar, Manurun, Malereang) untuk membentuk karakter santun peserta didik.

• Metode Praktik Sastra Lisan: Siswa dilatih langsung melalui ekspresi sastra lisan tradisional seperti Pasambahan (pidato adat), penyampaian peribahasa (pari bahasa), dan pepatah-petitih Minang.

• Proyek Profil Pelajar Pancasila: Mengintegrasikan pengajaran bahasa dan budaya ke dalam tema projek sekolah, misalnya membuat pameran kuliner tradisional, seni pertunjukan, atau riset sejarah lokal.

2. Kebijakan “Satu Hari Berbudaya Minangkabau” di Sekolah
• Aktivitas Pembiasaan Mingguan: Sekolah disarankan menerapkan satu hari khusus dalam sepekan di mana seluruh ekosistem sekolah (siswa, guru, dan staf) wajib berkomunikasi menggunakan dialek bahasa Minangkabau yang baik dan benar.

• Atribut Identitas Fisik: Pembiasaan berbahasa ini diselaraskan dengan kewajiban berpakaian tradisional kearifan lokal, seperti baju kuruang basiba bagi perempuan dan baju taluak balango bagi laki-laki untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya.

3. Alokasi Waktu dan Standardisasi Kompetensi Guru
• Durasi Belajar Formal: Mata pelajaran muatan lokal keminangkabauan direkomendasikan mendapat porsi minimal 2 Jam Pelajaran (JP) per minggu di tingkat sekolah dasar hingga menengah.

• Kualifikasi Pendidik yang Kompeten: Guru pengampu mata pelajaran muatan lokal disarankan memiliki latar belakang pendidikan formal S-1 Sastra/Bahasa Minangkabau, Sejarah Minangkabau, atau setidaknya memiliki sertifikat kompetensi kearifan lokal yang tervalidasi agar materi yang disampaikan akurat.

4. Penyediaan Bahan Ajar Berbasis DigitalisasiAdopsi Teknologi untuk Generasi Muda: Mengingat ancaman kepunahan dipicu oleh era digital, kurikulum muatan lokal harus didukung oleh buku ajar digital, komik, video animasi, maupun aplikasi interaktif berbahasa Minang agar menarik minat generasi Z dan Alpha.(Tb Mhd Arief Hendrawan)