Beritarepublikviral.com//BUKITTINGGI, – Malam ini, langit yang biasanya diam menyelimuti kota, seakan sengaja menurunkan selimut gelapnya dengan lembut, memberi jalan bagi ribuan cahaya yang bersinar terang dari halaman kantor Balaikota Bukittinggi.
Taman itu seketika berubah menjadi jantung persaudaraan dunia, berdenyut hangat menyambut kedatangan para tamu agung dalam acara makan malam pembukaan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF)-4, Rabu 03 Juni 2026.
Tepat pukul tujuh lewat empat puluh menit, langkah-langkah penuh makna mulai berdatangan. Delegasi dari 37 penjuru dunia, utusan kenegaraan, para penyair yang membawa jiwa kata, cendekiawan yang menyimpan samudra ilmu, serta para pemimpin yang memegang kemudi bangsa, semuanya berjalan masuk seakan diundang oleh angin dan cahaya itu sendiri.
Mereka dijemput dan diantar dengan tangan yang ramah, sebuah kebiasaan mulia yang sudah lama diajarkan oleh tanah Minang: bahwa tamu adalah bagian dari keluarga yang lama tak bertemu.
Di antara kerumunan yang penuh warna dan harapan itu, tampil wajah-wajah yang membawa tanggung jawab besar: Bapak Walikota Bukittinggi Ramlan Nurmatias beserta ibu dan Wakil Walikota Bukittinggi Ibnu Azis beserta ibu, Wakil Walikota Padang Maigus Nasir, Gubernur Sumatera Barat H.Mahyeldi Ansharullah,S.P,M.M, Ketua Umum LKAAM Sumbar Prof.Dr.H.Fauzi Bahar,M.Si Dt.Sati para wakil rakyat M.Shadiq Pasadigu, pemimpin perpustakaan nasional, pejabat tinggi negara, serta utusan persahabatan dari Bosnia, Bulgaria, Jepang, dan negeri-negeri sahabat lainnya.
Mereka duduk berdampingan, seakan batas negara telah runtuh, digantikan oleh ikatan hati yang sama: rasa hormat dan cinta pada keindahan budaya.
Sejak pintu kebersamaan terbuka, melodi tradisional Minangkabau mengalir bagaikan sungai yang jernih, membelai telinga dan menenangkan jiwa. Suara penyanyi berpadu dengan aroma hidangan yang seolah menceritakan kisah rasa dari tanah ini.
Meja-meja tersusun rapi bukan hanya untuk makanan, melainkan untuk menyajikan kasih sayang yang tersaji dalam bentuk kenikmatan.

Di sudut-sudut taman yang diterangi cahaya lembut, pemandangan paling mengharukan terhampar nyata: tangan-tangan saling menjabat erat, pelukan saling merengkuh hangat, dan mata-mata yang berbinar bahagia. Sahabat lama yang terpisah jarak dan waktu, kini dipertemukan kembali oleh tangan tak terlihat dari festival ini.
Seolah acara ini tidak hanya menyatukan pemikiran, tetapi juga menghidupkan kembali benang-benang persahabatan yang sempat terurai ditiup angin masa lalu.
Malam yang megah ini resmi terbuka saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang lantang. Suara itu seakan bangkit dari bumi, naik ke langit, dan menggema di setiap hati yang berdiri tegak.
Dalam hening yang khidmat, rasa bangga merambat di dada, menyatukan warga negara dan tamu asing dalam penghormatan yang sama agungnya.
Ketenangan kemudian turun membasuh hati saat ayat suci Al-Qur’an dibacakan oleh Prof. Siamir Marulafau. Kalimat suci itu berjalan lembut di udara, membawa kedamaian dan kesakralan, menjadikan malam kemeriahan ini terasa semakin mulia dan diberkahi.
Keindahan semakin menjelma hidup ketika Tari Pasambahan mulai menari di atas panggung. Gerakan para penari muda bagaikan daun yang bergoyang ditiup angin, lembut namun penuh makna.
Pakaian mereka yang berwarna-warni seakan meminjam cahaya pelangi, sementara irama musik talempong seakan berbicara dalam bahasa yang semua orang mengerti: bahasa keramahan dan penghormatan.
Dipandu dengan luwes dan hangat oleh Nuni, Sakti, dan Amelia, malam terus mengalir indah bagaikan cerita yang tak ingin berakhir.

Sastri Yunizarti Bakry, Ketua Panitia, menyampaikan kabar yang membanggakan: tahun ini dunia datang lebih dekat, hadir utusan dari 37 negara, melibatkan 120 anak bangsa dan 112 sahabat dari luar negeri, serta 58 pemikir besar yang siap menabur ilmu.
Tak hanya itu, seratus buku baru akan lahir menyapa dunia, sementara sembilan pelaku usaha kreatif akan memperkenalkan karya tangan tanah air. IMLF-4 kini telah tumbuh menjadi rumah besar tempat sastra, budaya, ekonomi, dan persahabatan hidup berdampingan.
“Malam ini adalah kenangan yang kita rajut bersama, sekaligus janji kita untuk terus menjaga Jam Gadang—sang penjaga waktu yang menjadi warisan agung kita semua,” ucap Sastri Bakry dengan hati yang penuh semangat.
Keistimewaan malam semakin lengkap ketika seorang penyair dari Vietnam membacakan sajak yang ditujukan khusus untuk Jam Gadang. Seakan menara batu itu sendiri mendengar dan tersenyum bangga, karena namanya kini terbang melintasi samudra, hinggap di hati orang yang belum pernah menginjakkan kaki di sini.
Tak berhenti di situ, suara-suara indah penyair dari beberapa negara seperti Lesley Steven dari Australia, Sabrina De Canio dari Italia, Milla Van Der Have dari Belanda turut membacakan puisinya di hadapan hadirin.
Kata-kata mereka yang berbeda bahasa, seakan menemukan satu makna yang sama saat menyentuh udara Bukittinggi: kemanusiaan adalah bahasa yang tak pernah salah diterjemahkan.
Pada akhirnya, malam pembukaan ini bukan sekadar pesta makan dan ucapan selamat. Ia menjadi saksi bahwa di bawah naungan budaya, perbedaan tidak menjadi tembok, melainkan menjadi jembatan.
Di antara semilir angin yang membawa kesejukan dan cahaya lampu yang memeluk hangat, malam itu berbisik lembut ke telinga setiap orang: bahwa persaudaraan sejati lahir ketika hati-hati yang berbeda sudi berkumpul dalam satu meja keindahan.(Tb Mhd Arief Hendrawan)


