✨ SAJAK DAN WARNA MINANG MERANGKAI DUNIA DI STASIUN ✨

✨ SAJAK DAN WARNA MINANG MERANGKAI DUNIA DI STASIUN ✨

Beritarepublikviral.com// Padang, – Stasiun Kereta Api Bandara Internasional Minangkabau seketika berubah menjadi panggung jiwa, di mana dinding-dindingnya seakan diam mendengarkan dengan haru, lantai-lantainya menampung setiap nada rasa, dan udaranya memeluk erat setiap makna yang terlantun. Di tengah ruang tunggu yang hangat itu, Lenggogeni – penulis dan wartawan terhormat dari Harian Singgalang – berdiri tegak menyuarakan karyanya yang indah: “Bukittinggi, Perempuan dan Kenangan”. Suaranya berjalan lembut namun tegas, menyapa setiap hati yang hadir, seakan membawa roh kota yang berselimut kabut itu terbang melayang di udara.

Momen indah ini menjadi bagian dari rangkaian agung bertajuk ‘Luggage of Poetry Train Station’, sebuah pawai kata-kata yang mempersatukan suara-suara luhur dari penjuru dunia. Bersama Lenggogeni, para penyair dan seniman besar berdiri sejajar, menyatukan rasa dan pikiran dalam satu nafas keindahan. Mereka datang membawa pesan dari tanah kelahiran masing-masing: Endut Ahadiyat, Eva Mulusia, Roymon Lemsol, Marniyetti dari Indonesia; Hassana Abdullah dari Amerika Serikat; Mai White dari Australia; Maja Panajotova dari Bulgaria; Michelle Alexandra dari Kolombia; Ludmilla dari Belanda; Sankha Subhira D dari India; rombongan Sekolah Seni Perak dari Malaysia; serta Yumiko Otomasu dari Jepang.

Pertemuan ini terasa semakin sakral dan bermakna, karena bertepatan dengan detak perayaan 100 Tahun Jam Gadang – sang penanda waktu yang tak pernah lelah menjaga dan menyaksikan perjalanan sejarah Bukittinggi.

Sejak matahari mulai naik ke langit, para utusan bangsa dunia telah disambut dengan kemegahan yang memukau. Bundo Kandung Berbudaya dan Berkesenian (BKBB) hadir bagaikan bunga-bunga indah yang bermekaran, mengenakan busana adat berwarna merah menyala, biru nan damai, dan kuning yang memancarkan kemuliaan, lengkap dengan suntiang yang berkilau seakan menampar cahaya langit. Tak ketinggalan, Cik Uniang dan Cik Ajo dari Kabupaten Pariaman pun tampil anggun dalam balutan warisan leluhur, seakan membawa jiwa tanah Pariaman datang menyapa tamu dunia. Para relawan bergerak lincah bagaikan burung-burung kecil yang setia, menuntun langkah, melayani dengan senyum, dan menjadikan setiap detik kehadiran para delegasi penuh rasa nyaman dan dihargai.

Kemeriahan semakin memuncak ketika irama Talempong mulai berbicara, memukul hati dengan nada yang merdu dan menggugah jiwa. Para Bundo Kandung menari dengan gerakan yang lembut namun penuh makna, seakan menirukan aliran sungai dan tiupan angin di tanah Minang. Mata para tamu terbelalak kagum, decak kekaguman keluar dari bibir mereka, seakan dunia berhenti berputar sejenak untuk menikmati keindahan yang disuguhkan. Petugas stasiun pun bekerja dengan sepenuh jiwa, menjadikan setiap sudut tempat ini ramah dan bersahabat, seakan stasiun itu sendiri sedang membuka tangannya lebar-lebar memeluk para tamu agung.

Setelah puas hati menyantap keindahan kata dan gerak, iring-iringan itu pun bergerak menuju Bukittinggi, membawa serta kenangan manis yang mulai tumbuh di dalam dada. Mulai tanggal 3 hingga 7 Juni, kota wisata yang sejuk ini akan menjadi rumah besar bagi segala macam keindahan dan ilmu pengetahuan. Puncaknya adalah perayaan abad Jam Gadang, di mana sang menara tua itu seakan akan tersenyum bangga menyaksikan dirinya dihormati oleh 35 negara yang hadir.

“IMLF-4 tahun ini sungguh istimewa, seakan langit dan bumi bersatu memberikan berkah. Perayaan usia seabad Jam Gadang menjadi saksi persaudaraan yang menyatukan para peserta dari 35 negara, bahkan dihadiri oleh Duta Besar Belanda, Bulgaria, Rusia, dan Inggris,” ungkap Sastri Bakry, Ketua Penyelenggara dengan mata yang berbinar bangga.

Selama lima hari penuh, pameran buku akan membuka lembaran pengetahuan, seminar akan menjadi ladang pikiran yang subur, lokakarya akan menajamkan bakat, kunjungan wisata akan menyatukan jiwa dengan keindahan alam, peluncuran buku akan melahirkan karya baru, dan panggung puisi akan menjadi tempat hati berbicara. Mulai dari stasiun yang penuh kenangan hingga di bawah bayang-bayang Jam Gadang yang agung, segala sesuatu disusun dengan indah. Tokoh-tokoh besar akan membagikan cahaya ilmu, dan Penghargaan Literasi akan menyentuh bahu para penulis serta seniman sebagai tanda terima kasih atas karya yang mereka lahirkan.

Tujuan mulia ini diungkapkan oleh Sastri Bakry dengan tegas: “Kita tidak perlu selalu pergi jauh membawa budaya ke luar negeri, karena dunia pun rindu datang melihat keindahan yang ada di sini. Sudah hampir 50 tahun saya membawa misi kebudayaan lewat SATUPENA dan Sumbar Talenta. Mata orang asing selalu terbelalak melihat warna-warni pakaian kita, mendengar irama kita, dan membaca puisi kita. Mereka sering bertanya: ‘Di manakah Sumatera Barat ini?’ karena selama ini dunia lebih mengenal Bali. Itulah sebabnya kita bangun acara sebesar ini, agar nama dan jiwa Minangkabau bisa berjalan tegak di atas panggung dunia.”

Semangat itu nyata terlihat dari pertumbuhan yang terus menjulang: IMLF-1 tahun 2023 dihadiri 12 negara, IMLF-2 bertambah menjadi 17 negara, IMLF-3 tahun 2025 didatangi 24 negara, dan kini di tahun 2026, 35 negara mengirimkan utusan terbaiknya, berjumlah 250 orang penulis, sastrawan, dan seniman, datang merapat ke pangkuan tanah kelahiran para leluhur, menyatu dalam satu nafas keindahan dan persaudaraan.(Rel)