Beritarepublikviral.com//BUKITTINGGI, – Selama tujuh hari terakhir, kawasan Pasar Atas seolah membuka matanya lebar-lebar menyaksikan peristiwa yang jarang ia jumpai. Tim Satuan Kerja Ketenteraman dan Ketertiban Umum (SK4), yang diisi oleh para prajurit TNI, anggota Polri, serta segenap jajaran Pemerintah Kota, turun ke lapangan bukan sebagai pasukan yang menakutkan, melainkan sebagai sahabat yang datang menyapa. Mereka bergerak dengan hati-hati, membawa pesan damai, seakan ingin membisikkan pada setiap sudut jalan dan setiap lapak dagang bahwa perubahan tak harus datang dengan kekerasan.
Wajah penataan kali ini sungguh berbeda dari biasanya. Jalan raya yang selama ini sering gempar oleh suara bentakan dan teriakan, kini bernapas lega dalam keheningan yang penuh makna. Tak ada lagi pemandangan buruk kejar-kejaran yang dulu kerap membuat trotoar menunduk sedih. Yang terlihat justru pemandangan yang menghangatkan hati: aparat duduk sejajar dengan pedagang, suara bicara mengalir lembut seperti aliran sungai, dan bahasa yang digunakan adalah bahasa persaudaraan yang mampu menembus dinding ketakutan.
Di tengah keramaian yang tertata itu, Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, berdiri tegak memimpin langsung langkah ini. Bersama Staf Ahli Efriadi dan Kepala Dinas UKM Heriman, ia hadir bukan sekadar untuk “membersihkan” wajah kota, melainkan untuk menjaga keseimbangan yang halus: agar trotoar bisa kembali berfungsi melayani langkah kaki manusia, tanpa harus mematikan denyut nadi ekonomi rakyat kecil yang selama ini menjadi bagian dari detak jantung kota ini.
“Langkah yang penuh kelembutan ini kita tempuh agar wajah kota tetap indah dipandang, dan fasilitas umum bisa kembali bernapas lega, tanpa harus melupakan rasa kemanusiaan yang menjadi akar kehidupan kita,” ujar Ramlan, seolah mewakili suara hati seluruh warga.
Kalimat sederhana itu bagaikan embun pagi yang menyejukkan. Selama ini, kata “penertiban” sering dianggap sebagai hantu yang menakutkan, namun hari ini maknanya berubah total. Pemerintah seolah berkata lantang: “Pedagang kecil bukanlah sampah yang harus disingkirkan, melainkan bagian dari wajah kota yang memberi warna dan nyawa.”
Ramlan kembali menegaskan pesan itu, seakan berbicara pada setiap batu dan bangunan yang ada di sekelilingnya: “Penataan harus tegas, ibarat akar pohon yang kokoh menopang tubuhnya. Namun ketegasan itu tak boleh kehilangan rasa. Kota ini memang harus rapi dan indah, tapi nasib mereka yang menggantungkan hidup di sini tak boleh menjadi korban demi sebuah keindahan yang dingin. Maka, percakapan yang santun dan tangan yang saling menggenggam menjadi senjata utama kita.”
Sepanjang jalan di kawasan pasar, dinding-dinding bangunan seakan tersenyum menyaksikan bagaimana petugas lebih banyak mendengar daripada memerintah. Mereka menjelaskan dengan sabar tempat-tempat baru yang telah disiapkan pemerintah, seolah membukakan pintu harapan yang lebih layak. Para pedagang yang awalnya berdiri kokoh mempertahankan tempatnya, perlahan melebutkan hati setelah mendengar penjelasan yang jujur dan penuh pengertian, seakan kabut keraguan perlahan terhapus oleh sinar matahari kebijaksanaan.
Kepala Dinas UKM dan Perdagangan, Heriman, menegaskan bahwa langkah ini berpijak pada Peraturan Daerah, agar badan jalan dan trotoar tidak lagi “tercekik” oleh tumpukan barang dagangan. “Kita ingin pasar ini tetap riuh dan hidup, namun fasilitas umum pun harus bisa berjalan dan berfungsi sebagaimana mestinya, bukan menjadi tubuh yang lumpuh tak terpakai,” ungkapnya.
Namun di balik segala kerapian yang sedang dibangun, tersimpan cita-cita besar yang sedang tumbuh: menjadikan Pasar Atas sebagai wajah utama wisata Bukittinggi yang berbicara tentang keindahan dan jati diri. Oleh karena itu, pemerintah memprioritaskan para pedagang aksesoris, oleh-oleh, dan pakaian khas yang berbau identitas Jam Gadang untuk masuk dan tinggal di dalam gedung pasar yang kokoh itu, seakan menyatukan mereka di dalam satu rumah besar yang terhormat. Pedagang topi, kacamata, dan barang lainnya pun akan dicarikan tempat terbaik, terutama mereka yang sudah lama menjadi “penjaga setia” kawasan ini.
“Yang kita utamakan adalah mereka yang sudah lama hidup dan bernapas bersama kawasan ini,” tegas Heriman.
Momen paling mengharukan bukan terjadi saat barang-barang dipindahkan, melainkan ketika pintu dialog dibuka selebar-lebarnya. Pemerintah memberi ruang agar suara hati para pedagang bisa terdengar jelas. Suasana diskusi berjalan lincah dan hangat, jauh dari rasa permusuhan. Di sanalah tersingkap kegelisahan yang selama ini disembunyikan, seperti pohon yang mengeluh saat kekeringan datang: rasa cemas akan masa depan dan tempat berteduh yang belum pasti.
Seorang pedagang makanan menyampaikan suara yang mewakili keresahan banyak hati: “Kami sebagian belum mendapatkan tempat pasti. Kami memohon agar pemerintah segera membantu menemukan jalan keluar, supaya kami bisa berjualan dengan aman, dan dapur kami tetap bisa mengepul menghidupi anak istri.”
Ucapan itu seakan menjadi cermin yang memperlihatkan satu kebenaran besar: bagi pedagang kecil, berpindah tempat bukan sekadar memindahkan barang, melainkan memindahkan sumber nyawa, biaya sekolah anak-anak, dan harapan sehari-hari yang menjadi nafas keluarga mereka.
Mendengar itu, pihak dinas langsung menyambut tangan mereka dengan terbuka, mengundang untuk datang berdiskusi dan mencari solusi bersama, seakan berkata: “Kita satu keluarga, masalahmu adalah masalah kita semua.”
Sebagai tanda bahwa perubahan baik ini telah mulai melangkah, sejak Kamis (21/5) lalu, sejumlah pedagang aksesoris yang dulunya berjualan di halaman depan, kini telah menempati lantai dasar gedung Pasar Atas yang bersih dan terang. Gedung pasar itu pun kini tampak lebih gagah dan hidup, seakan tersenyum bangga menyambut penghuni barunya.
Langkah ini menjadi bukti nyata: kota yang benar-benar hebat bukanlah kota yang diam membisu dan bersih mati tanpa suara manusia. Melainkan kota yang mampu menata ruang dan jalan, namun tetap memeluk erat rakyat kecilnya, menciptakan ketertiban yang indah tanpa harus melukai hati dan mematikan harapan hidup.(Tb Mhd Arief Hendrawan)

