Berita Republik – Viral
Balikpapan, 14 Mei 2026
Balikpapan awalnya merupakan perkampungan nelayan di pesisir Selat Makassar yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Kutai. Nama Balikpapan dipercaya berasal dari peristiwa tahun 1739, ketika 10 keping papan dari seribu papan yang disumbangkan untuk pembangunan istana Kesultanan Kutai hanyut kembali ke tempat asal, sehingga disebut “Balikpapan” yang berarti papan yang kembali.
Tonggak utama sejarah kota ini dimulai pada 10 Februari 1897, saat insinyur Belanda Jacobus Hubertus Menten melakukan pengeboran minyak pertama di Sumur Mathilda, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota. Sejak saat itu, Balikpapan berkembang pesat menjadi pusat industri minyak yang dikelola perusahaan Belanda Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan dijuluki Kota Minyak atau Banua Patra .
Masa Penjajahan Belanda (1897–1942),
Belanda menguasai kawasan ini karena potensi kekayaan alamnya. Mereka membangun kilang minyak, pelabuhan, dan infrastruktur pendukung. Kekayaan minyak ini menjadikan Balikpapan wilayah strategis dan sering menjadi rebutan. Pada masa ini, mulai tumbuh kesadaran nasionalisme dari kalangan buruh minyak yang membentuk kelompok diskusi untuk membahas kemerdekaan Indonesia sejak tahun 1930-an.
Masa Pendudukan Jepang (1942–1945),
Pada 24 Januari 1942, Jepang menyerang dan menguasai Balikpapan demi mengamankan pasokan bahan bakar bagi armada perangnya. Sebelum dikuasai, Belanda berniat menghancurkan fasilitas minyak, namun batal karena ancaman pembunuhan warga Belanda oleh Jepang. Selama pendudukan, Jepang membangun benteng dan gua pertahanan, namun pada Juni–Juli 1945, Sekutu (Amerika dan Australia) melancarkan serangan besar-besaran yang menghancurkan hampir 90% wilayah kota ini.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, berita kemerdekaan baru sampai ke Balikpapan pada awal November lewat siaran radio Australia. Pada 13 November 1945, ratusan pemuda dan masyarakat dipimpin Abdul Moe Thalib menggelar demonstrasi di Lapangan Karanganyar dan mengibarkan Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya, menyatakan bahwa Balikpapan adalah bagian dari Republik Indonesia.
Pasukan Belanda berusaha kembali menguasai wilayah dan kilang minyak pada tahun 1946, namun mendapat perlawanan keras dari pemuda dan buruh yang tergabung dalam organisasi perjuangan. Perjuangan berlanjut hingga pengakuan kedaulatan tahun 1949, di mana aset-aset vital akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah Indonesia, dan kemudian dikelola oleh Pertamina.
Adapun beberapa situs bersejarah yang masih ada antara lain, Monumen Sumur Mathilda, Gua pertahanan Jepang, Tugu Peringatan Demonstrasi 13 November 1945, dan Museum Meriam Jepang
Aroel Mandang


