Beritarepublikviral.com// Sulawesi Selatan Indonesia, โ Di sudut rumah sederhana Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros,Sulawesi Selatan, terdapat sebuah benda tua yang menyimpan sejarah perjuangan luar biasa. Sebuah ember tua yang telah berusia lanjut, berwarna kusam dan bersahaja, telah bertugas setia selama hampir dua puluh tahun lamanya. Ia tersembunyi rapi di bawah kolong tempat tidur, diselimuti kain-kain lusuh seolah menjaga rahasia suci, menjadi wadah sekaligus penjaga mimpi terbesar seorang wanita tua bernama Nenek Jumaria P Sire Said (70), kekuatan impian untuk bersujud di Tanah Suci.
Menapaki masa tua seorang diri, tanpa pendamping maupun anak di sisinya, Nenek Jumaria tidak pernah membiarkan kesepian memadamkan api semangatnya. Ia senantiasa memeluk erat pesan terakhir yang dititipkan orang tuanya, kalimat yang kini berubah menjadi nyawa penggerak hidupnya:
“Jika kelak engkau memiliki rezeki, pergilah menuju Tanah Suci. Berangkatlah, karena Ibu dan Ayah sudah tak mampu lagi melangkahkan kaki ke sana.”
Kata-kata itu menjadi bahan bakar yang tak pernah habis, menyalurkan kekuatan ke setiap urat nadinya.
Hasil keringat bercucuran dari menggarap ladang milik tetangga dan mengolah sawah warisan orang tua, dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Uang itu masuk ke dalam pelukan ember tua itu, diselipkan diam-diam, tak ingin diketahui siapa pun. Ada kalanya ember itu menerima lembaran rupiah bernilai ratusan ribu, namun tak jarang ia hanya menampung recehan puluh ribu rupiah โ semua diterima dengan sama berharganya, karena setiap keping adalah doa yang dibungkus kerja keras.
“Kadang jumlahnya besar, kadang hanya selembar kecil, namun semuanya kusimpan di sana dengan penuh harap,” kenang beliau lembut.
Selama dua puluh tahun berjalan, kesederhanaan menjadi pakaian yang senantiasa ia kenakan. Pagi-pagi sekali, saat matahari baru saja mengintip malu-malu, beliau sudah melangkah ke sawah, bekal yang dibawa hanyalah setengah liter air putih saja.
Untuk mengisi perut, daun-daun ubi di sekitar rumah menjadi santapan sederhana yang dimasak seadanya. Segala kebutuhan hidup dijalaninya seperlunya saja, sekuat tenaga menahan diri agar tangan tak pernah sekalipun menyentuh harta suci yang tersimpan dalam ember tuanya.
Semua rasa lelah, rasa lapar, dan keringat yang jatuh ke tanah, kini seolah ikut tersenyum bahagia saat kakinya akhirnya menapaki tanah suci Madinah.
“Hati saya merasa damai dan tenang sekali di sini. Saya berdoa semoga usia saya dipanjangkan Allah, agar kelak saya bisa kembali lagi ke tempat yang penuh berkah ini,” ucapnya dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
Keajaiban tak hanya berhenti pada kisah perjuangannya, namun juga terpancar dari kekuatan raga yang dimilikinya. Di usia yang telah menginjak 70 tahun, tubuh Nenek Jumaria masih berdiri tegak bugar, membius banyak orang dengan ketangguhannya. Beliau tercatat mengikuti rangkaian latihan manasik haji lebih dari 80 kali pertemuan, dan lembar kehadirannya bersih tanpa satu pun tanda ketidakhadiran.
Siti Hawaisyah, selaku Ketua Kelompok Terbang UPG 14, bercerita dengan takjub bahwa catatan kesehatan milik Nenek Jumaria sama sekali tidak memiliki tanda bahaya atau risiko penyakit berat. “Beliau sungguh luar biasa, sangat mandiri dan kekuatannya melebihi usianya,” ujarnya kagum.
Bahkan rekan yang sekamar dengannya, Marwati, sering kali dibuat kewalahan mengimbangi langkah kaki sang nenek. “Saya saja yang berjalan cepat, tapi seolah-olah saya yang ditarik dan disusul terus oleh beliau. Beliau berjalan begitu lincah dan sigap,” ceritanya sambil tertawa bahagia.
Kisah keperkasaan dan ketulusan ini menggugah hati Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, hingga akhirnya Nenek Jumaria ditetapkan sebagai Ikon Haji Indonesia Tahun 2026. Namanya kini terukir indah membawa nama bangsa.
Namanya tak hanya bergema di nusantara, namun telah terbang melintasi samudra hingga terdengar oleh dunia internasional. Pihak Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi pun terpesona, lalu mengabadikan kisah hidup beliau ke dalam dokumentasi resmi program prestisius Makkah Route, dan memajang kisah perjuangan itu di akun resmi Instagram mereka, @makkahroute.
Saat tim produksi datang ke kampung halamannya untuk merekam jejak hidupnya, seluruh warga desa berdatangan berbondong-bondong, mata mereka basah oleh haru. Mereka menyaksikan langsung bukti nyata: bahwa mimpi yang sangat besar tak harus selalu lahir dari kemewahan atau kekayaan, melainkan bisa tumbuh megah dari ketekunan hati yang sederhana.
Nenek Jumaria telah menanamkan satu pelajaran abadi: Bahwa ibadah yang sejati bukanlah milik mereka yang berlimpah harta semata, melainkan milik siapa saja yang memiliki hati yang kokoh, kesabaran yang tak bertepi, dan keyakinan yang dijaga bersih sepanjang waktu.
Di tengah zaman di mana banyak orang mudah menyerah saat keadaan memburuk, kisah beliau hadir sebagai penunjuk jalan: Bahwa setiap doa yang kita pupuk dengan keringat dan kesabaran, pasti pada waktunya akan membuka jalannya sendiri menuju langit.
(Laporan : Tb Mhd Arief Hendrawan)


