Oleh: Malin Manangguang
Bagian Kedua
Beritarepublikviral.com// Empat tahun…
Desah itu melayang perlahan dari bibir Mak Sutan, bak nyanyian sunyi yang terhembus angin senja. Ia duduk termenung di beranda rumah, baru saja menuntaskan shalat Maghrib, sementara waktu masih berjalan lambat menanti seruan Isya yang sebentar lagi akan bergema dari menara masjid tak jauh dari sana. Di tempat inilah, di perumahan sederhana ini, ia membina bahtera rumah tangga yang kedua.
Dari sudut ruang tamu, di balik tirai keheningan, sepasang mata yang tertutup rapi dalam busana syar’i memandang tajam. Juleha, sang istri, tanpa diketahui suaminya, telah lama menyimak kegelisahan yang tak biasa terpancar dari raut wajah suaminya. Ada gelisah yang berenang di matanya, ada beban yang menggantung di bahunya.
“Ada apa, Mas? Kok tampak begitu resah?” sapanya lembut, memecah kebisuan.
Juleha adalah wanita yang hadir menyusuri celah hati Mak Sutan setelah bahtera pertama karam. Runtuhnya pernikahan dahulu bukan tanpa sebab, ia hanyut ditelan arus ego, kerasnya harga diri, dan beban martabat sebagai seorang laki-laki, sebagai urang sumando di ranah Minang yang angkuh.
Pertemuan mereka adalah takdir yang tak terduga, namun menyatukan dua jiwa yang saling mengisi. Meski darah Minang masih mengalir deras dari garis ayahnya, lidah Juleha lebih banyak membasahi diri pada budaya Jawa dan Betawi, membuat tutur katanya lembut namun tegas.
“Indak apo-apo toh, Bun. Cuma teringat si Lenggang, yang sering datang ke sini itu,” jawab Mak Sutan pelan, matanya masih menatap remang jalanan.
“Emang kenapa si Lenggang? Sakitkah dia?” tanya Juleha sambil mendekat, lalu duduk di sisi suaminya, mencari jawaban.
“Bukan. Tapi nasibnya… nyaris sama persis dengan kisah lama Abi dahulu,” ucap Mak Sutan, suaranya terdengar jauh, seakan membawa mereka berdua terbang melintasi lorong waktu.
“Kisah Abi yang mana?” Juleha mulai terpancing rasa ingin tahunya.
“Ya… kisah Abi di kampung halaman dengan Rina,” jawab Mak Sutan tegas namun hati-hati, seolah takut menyakiti perasaan istrinya yang kini ada di sampingnya.
“Oh… itu toh. Soal harga diri, martabat, dan segala tetek bengek adat di Minang itu kan?” sahut Juleha, nada suaranya sedikit berubah, ada cemburu halus yang menyelinap di antara kata-kata. “Sudah berlalu kan itu semua. Emangnya Abi menyesal?”
“Manyasa…! Indak le, Leah!” sergah Mak Sutan cepat, logat Minang Kabau-nya keluar begitu kental, penuh keyakinan. “Kalau indak ado kejadian bak itu, di mano pulak Abi ka basobok anak ketek Bandaro di siko?” tambahnya lagi, mencairkan suasana dengan senyum dan canda yang lembut.
Juleha tersenyum tipis, lalu kembali bertanya, “Terus, apa persisnya nasib Lenggang dengan Abi dulu?”
“Dulu Abi sama Rina, dia yang tak mau diajak merantau meninggalkan kampung. Nah, si Lenggang ini… istrinya kan pernah singgah di sini? Sama saja, Leah. Sama-sama keduanya terpaku pada satu hal: mempertahankan martabat sebagai lelaki Minang.”
“Maksud Abi, soal marwah dan harga diri itu?”
“Iyalah…”
“Aduh, repot benar kalau begini terus,” keluh Juleha. “Padahal pedoman hidup kan sudah jelas ada di Al-Quran dan Sunnah. Kenapa mesti tunduk buta pada aturan adat begini, Abi?”
Batin Juleha bergemuruh. Baginya, tatanan adat Minangkabau sering kali terasa begitu ruwet dan memusingkan kepala. Ada Bako, ada Bisan, ada urang sumando, ada anak mamak. Yang paling tak masuk akal baginya, justru tradisi menikahkan anak paman demi menjaga harta dan darah agar tak tumpah ke luar—kuah tatunggang ka nasi. Namun, di balik kekacauan pikirannya itu, ia sadar, budaya ini tak sesederhana yang ia lihat dari permukaan saja.
“Kenapa mesti bingung?” potong Mak Sutan lembut. “Itu kan sudah jadi pakaian, jadi jati diri laki-laki Minang, jadi identitas seorang urang sumando.”
“Iya sih… Tapi kan dalam akad nikah saja, hak dan tanggung jawab sudah diserahkan sepenuhnya dari ayah ke suami, kan?” bantah Juleha.
“Benar itu, Leah. Tapi tradisi dan budaya tak pernah benar-benar melepaskan. Ada tali tak kasat mata yang masih mengikat, ada nama adat yang masih menuntut untuk dijunjung.”
Mak Sutan menghela napas panjang, lalu menatap istrinya dalam-dalam.
“Sebenarnya, adat di Minang itu tidak sekejam itu. Ada tahapannya: Adat istiadat, adat teradat, adat nan diadatkan, dan yang paling utama adalah adat nan sabana adat—yaitu yang selaras dengan Al-Quran dan Sunnah.”
Suaranya merendah, penuh penekanan.
“Nah, inilah yang sering terlupakan. Ego dan amarah membuat kita buta akan hakikat adat yang sebenarnya. Seperti yang dialami si Lenggang ini. Secara syariat, dia berhak penuh menjemput istrinya, mempertahankan rumah tangganya agar tidak ditarik pulang oleh pihak orang tua. Tapi… martabatnya tergores, egonya terluka oleh sikap mertuanya. Akhirnya? Dia memilih berdiri tegak di atas harga dirinya sendiri, meski harus mengorbankan rasa rindu pada buah hatinya yang masih kecil, yang lucu-lucu itu.”
“Lalu… bagaimana solusinya, Abi?” desak Juleha, hatinya ikut teraduk mendengar kisah itu.
“Yah… begitulah adanya, Leah,” jawab Mak Sutan pasrah namun bijak. “Walaupun dia tahu betul aturan mainnya, bahwa adat mengajarkan: Dimana diambiak, sinan dianta-an—sesuatu yang diambil harus dikembalikan pada tempatnya—namun ketika ego sudah berbicara, logika dan hati sering kali membisu.”
Malam kian merambat, membawa serta kisah panjang tentang harga diri yang sering kali menjadi tembok pembatas antara cinta dan kebahagiaan. Sebuah rindu yang terpaku, yang mungkin tak akan pernah menemukan jalan pulang.


