Oleh: Malin Manangguang
Beritarepublikviral.com// Aroma kopi hitam itu hampir saja menguap hilang, namun sisa pahitnya masih menggigit lidah dan memaksa imajinasi Sutan Lenggang terbang melayang, menembus dinding waktu hingga tujuh puluh tahun silam.
Di sana, di lorong masa lalu yang berdebu, ia melihat bayangan dirinya yang masih muda. Terpaksa, karena hinaan yang menghujat harga diri, karena malu yang mengikat leher, ia harus melangkah pergi. Meninggalkan tanah kelahiran, meninggalkan darah daging, dan meninggalkan wanita yang dicinta, demi sebuah kata yang bernama “Martabat”.
“Ado juo Sutan di kamar bak?!
Manga juo e di ateh umah ko, kalau untuak ka tampang nyeh. Kana tu. Mambalak je..!”
Suara itu. Suara itu masih hidup, masih berteriak jelas di telinga. Itu suara ibu mertuanya, wanita yang tak pernah sudi menatapnya sebagai menantu. Kata-kata itu bukan sekadar bunyi, melainkan duri yang terus menancap, menjadi luka yang tak pernah kering.
Karena sebuah gelar, karena pertalian darah yang jauh, akhirnya Lenggang muda disandingkan dengan Siti Rohiya. Namun, pernikahan itu tak membawa restu, melainkan membawa beban yang berat di pundak.
Kata “Mambalak” itu menghantam dada bagai palu godam. Sebagai lelaki, sebagai suami, dan sebagai ayah dari satu-satunya buah hati, harga dirinya terinjak-injak. Maka tekad itu bulat: Ia harus pergi. Ia harus menjauh, sejauh mungkin dari pandangan mata yang memandang hina.
Jakarta menjadi tujuan. Atau Bogor, kota hujan yang dingin. Di sana ada sanak saudara dari pihak isteri, namun jalan itu terasa terlalu berat untuk dipijak. Terlalu mustahil.
Maka, dengan hati yang hancur lebur, dengan kaki yang terasa berat bagai diikat batu, Sutan Lenggang menaiki bus tua jurusan Jakarta-Bogor. Air mata tak mampu keluar, ia tertahan di tenggorokan, menjadi benjolan yang menyakitkan. Kepergian itu meninggalkan dendam yang membara—dendam pada kemiskinan, dendam pada lidah-lidah tajam yang mencela, dan dendam pada dunia yang tak adil.
“Jadi lenggang ikuik halal BI halal nanti”, suara Mak Sutan memecah lamunan, menyadarkannya kembali ke meja warung kopi kini.
“Insyaa’ Allah, Mak..!” jawabnya lirih.
Sore mulai memeluk bumi dengan warna jingga yang sendu. Mak Sutan duduk di hadapannya, matanya cermat meneliti raut wajah Sutan. Ia bisa melihat badai yang sedang berkecamuk di dalam kepala lelaki itu, pertarungan antara ego dan kasih sayang yang tak kunjung usai.
“Ehmm… Tambah kopi Lenggang, jadi. Tambah kopi hitam satu lagi!” seru Sutan pada pelayan, seolah-olah cairan hitam pahit itu bisa meredam gejolak yang meronta di dada.
Napasnya membuang berat. Dan tiba-tiba, bayangan seorang gadis muncul jelas di pelupuk mata. Rambut yang terurai bak air terjun, hidung yang mancung, mata yang berbinar cerdas, dan kulit yang berwarna sawo matang khas bumiputera.
“Salsabila…” gumamnya pelan, nama itu terucap bak doa yang tersembunyi.
“Lamo Mak di kampuang Patang tu.?” tanya Sutan memecah kebisuan.
“Lamo indak juo, tapi cukuik lumayan juo lah,” jawab Mak Sutan lembut, matanya tak lepas memandang lelaki di hadapannya itu.
“Si salsa ado basobok dek Amak!? Lah kelas bara nyo kini.?”
“Basobok lai. Tapi kelas bara nyo, lupo amak mananyoan. Tapi, Alhamdulillah. Anak Sutan sehat nampaknyo, lah gadih,” jawab Mak Sutan.
Kemudian pertanyaan itu datang menusuk, “Alah bara tidak berkomunikasi dengan anak semata wayangnya.?”
“Alah lamo Mak. Sajak Siti Rohiya di japuik dek amak e kamari dulu.”
“Lah lamo tuh.!!” seru Mak Sutan terkejut, suaranya bergetar.
“Iyo Mak.”
“Apo lai kini, telpon untuak ma hubuangan Indak Lo ado,” keluh Sutan.
Jawaban itu membuat udara di sekitar mereka menjadi beku. Hening. Hening yang panjang, seakan-akan waktu ikut berhenti untuk turut bersedih. Pikiran mereka menyelam jauh ke dalam samudra rasa.
Namun berbeda dengan Sutan yang matanya terpaku pada selembar foto—foto yang ia dapatkan dari kerabat yang datang dari kampung. Di antara tumpukan gambar itu, wajah Salsabila terpampang jelas. Ia simpan foto itu rapat-rapat, sebagai obat rindu, sebagai bahan bakar semangat untuk bertahan di kerasnya kota metropolitan ini.
Namun di hati Mak Sutan, kata “di japuik” itu bergema keras. Ia mengerti rasanya. Ia paham betul apa itu “Harga Diri Lelaki Minang” yang seringkali keras kepala dan membatu. Namun di era yang terus berputar ini, apakah ego itu masih pantas dipertahankan?
Atau justru menjadi tembok tinggi yang memisahkan seorang ayah dengan anaknya sendiri?
Pertanyaan itu berputar di kepala Mak Sutan, berat dan penuh pertimbangan, demi tanggung jawab yang harus ditegakkan.
Tiba-tiba, suara Mak Sutan meluncur pelan namun tajam:
“Lenggang kan indak pisah Jo urang rumah doh..?”
“Pisah!?”
Sutan tergugu. Kata itu meledak di kepalanya.
“Antah lah Mak. Iko nan rumik awak manjawek, di kato kan indak. Komunikasi sajak iya, Siti Rohiya, di japuik dek rang gaek e, sampai kini alun ado. Lai Alhamdulillah pado indak je, pas sampai di kampuang Patang. Lai sakali.”
“Lah lamo tu Sutan, lah ampia Lo ampek tahun, ketek juo si salsa lai,” sambut Mak Sutan, suaranya penuh penyesalan.
“Bana mak. Setahun awak di siko. Salsa Jo ibu nyo wak baok ka mari. Kalau ndak salah duo tahun di siko Rohiya di japuik dek mintuo. Dek alasan e Acok Sakik Sakik, bia barubek dulu di kampuang.” Sutan mencoba merangkai alasan, mencoba membenarkan takdir yang terasa salah.
Namun kenyataannya kejam. Hingga detik ini, tak ada satu pun kabar yang datang. Tak ada suara, tak ada pesan. Hanya sunyi yang menjawab rindu.
“Ehmm…!”
Mak Sutan menghela napas panjang. Ia harus bicara dengan kepala dingin, menanggalkan sejenak sifat keras kepala khas Minang Kabau demi kebenaran yang harus disampaikan.
Bersambung… 🥺🤍


