Beritarepublikviral.com// PADANG, – Melalui telekonfrensi Pers Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Indonesia Dr.(H.C.) Ir. Airlangga Hartarto, M.B.A., M.M.T
yang diwakili oleh Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Dr. Edi Prio Pambudi, S.E., MA
menyebutkan bahwa Rupiah saat terhimpit, berlutut, dan tak kuasa menahan beban, Senin 27/04/2026.
Edi Prio Pambudi (Edi) menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sejak 2021 hingga kini dan bertugas sebagai Co-Sherpa G20 Indonesia serta sebagai Chair for High Level Task Force-Economic Integrity (HLTF-EI), forum think-tank bagi pimpinan ASEAN Economic Community (AEC) Council. Selain itu, Edi juga sebagai koordinator penanganan isu ekonomi dalam kerja sama APEC, ASEAN, Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT), Brunai Darussalam-Indonesia-Malaysia-Phillippines East ASEAN-Growth Area (BIMP-EAGA), Indo-Pacific Economic Framework (IPEF), Regional Comprehensive Economic Partnership
(RCEP), dan beberapa perjanjian kerja sama ekonomi bilateral dan co-chair Australia-Indonesia Partnership for Economic Development adalah pribadi yang cerdas dan sangat memahami fluktuasi perkembangan ekonomi NKRI saat ini.
Edi juga pernah bekerja sebagai Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya Alam, Staf Ahli Bidang Hubungan Ekonomi dan Kemaritiman, Asisten Deputi Moneter dan Neraca Pembayaran, Kepala Bidang Moneter, dan Kepala Bidang Analisa Kebijakan Moneter pada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Sebelumnya, Edi juga pernah bertugas di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan hingga 2009.
Bersiaplah Rakyat Indonesia, karena harga-harga kian meninggalkan ketinggian akal sehat, melayang semakin jauh dari jangkauan tangan rakyat.
Jeratan Beban Hutang yang Menggantung
Hutang negeri kini telah berdiri gagah mencapai Rp 9.638 Triliun, sebuah bayang raksasa yang terus memayungi masa depan. Tak hanya itu, tagihan yang siap mengetuk pintu pun tak main-main, Rp 833 Triliun sudah menanti di ambang pintu. Tahun ini saja, bunga yang harus dibayar mencapai Rp 599 Triliun—uang yang seharusnya berlari membangun negeri, kini terpaksa berlutut hanya untuk membayar bercak kewajiban.
Kantong Negara yang Semakin Kering
Anggaran negara seakan menangis tersedu sejak awal tahun.
Januari kehilangan Rp 54 Triliun,
Februari merosot lagi dengan defisit Rp 135 Triliun,
Hingga Maret, luka itu makin lebar mencapai Rp 240 Triliun.
Sisa nafas di cadangan umum kini tinggal Rp 120 Triliun, tipis dan semakin terengah-engah.
Pasar yang Kehilangan Semangat
Bursa efek pun kehilangan gairahnya. IHSG yang dulu tegak, kini menunduk lesu. Dari angka 9.100 yang sempat kokoh, kini ia merangkak turun menyentuh angka 7.400, seakan putus asa menyaksikan arah angin yang berubah.
Realita yang Pahit dan Minyak yang Menggila
Dolar yang dipatok Rp 16.500 kini berontak bebas hingga menyentuh Rp 17.301.
Begitu pula harga minyak dunia, ia terbang tinggi tanpa kompromi. Yang diperkirakan hanya 70 USD, kini menggertak dengan harga 102 USD per barel.
Harga Bahan Bakar yang Menikam
Akibatnya, bahan bakar pun ikut mengamuk menaikkan harga:
– Elpiji 12 kg non-subsidi menghela nafas berat, naik hingga Rp 36.000 – Rp 40.000.
– Dexlite dan Pertamina Dex menggeliat naik Rp 9.400 per liternya.
– Pertamax Turbo pun tak mau ketinggalan, menarik diri hingga naik Rp 6.300.
Semua angka ini bukan sekadar data mati. Mereka adalah jeritan realita yang nyata, mengingatkan kita bahwa beban pundak rakyat kini semakin berat, dan kehidupan sehari-hari pun kian berjuang untuk tetap berdiri tegak.(Tb Mhd Arief Hendrawan)


