Laporan wartawan Berita Republik Viral.com: Irpan Sofyan
JAKARTA – Angin malam Kamis malam Jumat (16/4/2026) dikawasan Pedongkelan, Kapuk, Jakarta Utara, terasa berbeda. Bukan karena hawa dingin yang menyergap, melainkan karena gelombang ketenangan dan keharuan yang menyelimuti kediaman Majelis Karomah Dzikir. Puluhan santri, jamaah, dan pecinta ilmu berkumpul dalam suasana penuh keberkahan untuk memperingati Haul Pimpinan Majelis, Almarhum Syekh Fariz Wa Abdil Wahab Bin Muhammad.
Acara yang digelar bertepatan dengan malam Jumat ini dibuka dengan lantunan sholawat Nabi yang syahdu melalui pembacaan Kitab Al-Barzanji yang diiringi hadroh. Suara para santri Pondok Pesantren Nurul Islam bergema harmonis, seakan membelah keheningan malam dan membawa hati setiap hadirin mendekat kepada Sang Pencipta. Iringan bacaan tahlil, tahmid, dan takbir yang bersahut-sahutan semakin mempertebal atmosfer khusyuk, menjadikan ruangan sederhana itu terasa seluas langit bagi mereka yang merindukan rahmat Ilahi.
Sebelum memasuki inti acara, jamaah diajak menyelami kedamaian melalui pembacaan Surat Al-Waqiah. Doa pembuka pintu rezeki ini dilantunkan dengan penuh harap, menjadi simbol permohonan keberkahan bagi seluruh penghuni rumah maupun setiap jiwa yang hadir di majelis tersebut.
Tausiyah Menggugah: Birrul Walidain sebagai Kunci Surga
Puncak kehangatan malam itu terjadi saat sesi tausiyah disampaikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Islam, KH. Ikin Sadikin. Mengusung tema “Berbakti kepada Orang Tua: Teladan dari Kisah Uwais al-Qarni”, ceramah beliau bukan sekadar penyampaian dalil, melainkan sebuah panggilan kesadaran bagi setiap anak manusia.
“Menghormati orang tua adalah jalan pintas menuju surga. Ridha Allah sangat bergantung pada ridha kedua orang tua kita,” ujar KH. Ikin Sadikin dengan suara berat yang menembus relung hati jamaah.
Beliau membuka tausiyahnya dengan mengutip Surah Al-Isra ayat 23, mengingatkan bahwa larangan mengucapkan kata “ah” saja sudah merupakan batas paling tipis dari adab seorang anak. “Islam mengajarkan kelembutan total. Jangan sampai lelah atau emosi sesaat membuat kita lupa bahwa di depan kita ada malaikat tanpa sayap, yaitu orang tua kita,” tegasnya.
KH. Ikin juga menyoroti tiga penghalang utama kebahagiaan hidup yang sering luput dari perhatian: ketidaksyukuran kepada Allah, meninggalkan salat fardu, dan yang paling berat, durhaka kepada orang tua. “Seseorang yang durhaka terancam tidak akan mencium bau surga. Ini adalah fondasi. Jika fondasinya retak, bagaimana bangunan ibadah lainnya bisa berdiri kokoh?” paparnya lugas.
Bagian paling menyentuh dari ceramah tersebut adalah kisah Uwais al-Qarni. KH. Ikin melukiskan sosok pemuda sederhana pencari kayu bakar ini dengan begitu hidup. Di tengah himpitan ekonomi, Uwais tetap membagi hasilnya untuk ibu dan sedekah. Namun, puncak keteladanan Uwais terletak pada pilihannya yang memilukan sekaligus mulia: ia rela menahan kerinduannya yang membara untuk bertemu Nabi Muhammad SAW di Madinah demi merawat ibunya yang sakit dan tak bisa ditinggalkan.
“Bayangkan, rindu bertemu Rasulullah, tapi ia memilih tinggal di rumah bersama ibunya. Karena bakti inilah, derajat Uwais di sisi Allah begitu tinggi hingga Rasulullah pun berpesan kepada Umar bin Khattab untuk meminta doa kepadanya,” kisah KH. Ikin yang memancing sedih dan haru di antara jamaah.
Dari kisah abadi tersebut, KH. Ikin merumuskan empat kunci kebahagiaan yang harus diamalkan jamaah Pedongkelan khususnya, dan umat Muslim umumnya:
1. Hormati orang tua dalam segala kondisi, baik saat mereka sehat maupun sakit.
2. Jaga lisan dan hati, hindari bentakan kasar atau menampilkan wajah masam di hadapan mereka.
3. Dahulukan ridha mereka di atas kepentingan pribadi.
4. Yakini janji surga sebagai buah dari bakti yang tulus.
Malam yang penuh berkah itu ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh KH. Ikin Sadikin. Doa-doa dilangitkan, memohon agar arwah Syekh Fariz Wa Abdil Wahab Bin Muhammad diterima segala amal ibadahnya di sisi Allah SWT. Selain itu, dipanjatkan pula harapan agar seluruh jamaah diberikan kekuatan istiqomah untuk mengamalkan ajaran birrul walidain.
Kegiatan haul ini bukan hanya menjadi kenangan manis bagi jamaah Pedongkelan Kapuk, tetapi diharapkan menjadi oase spiritual yang terus mengalir. Peristiwa ini mengingatkan jamaah untuk kembali meneladani kemuliaan akhlak Uwais al-Qarni dalam keseharian. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, majelis ini membuktikan bahwa rumah-rumah yang diisi dengan dzikir dan bakti kepada orang tua adalah istana sebenarnya di dunia dan akhirat.


