Dakwah Tanpa Pamrih: Ketulusan Jadi Kunci di Tengah Minimnya Apresiasi

Dakwah Tanpa Pamrih: Ketulusan Jadi Kunci di Tengah Minimnya Apresiasi

Beritarepublikviral.com // Kepulauan Riau, April 2026Dakwah bukan sekadar aktivitas menyampaikan pesan keagamaan, melainkan panggilan jiwa yang menuntut ketulusan dan keikhlasan.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd, Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (APEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau sekaligus Humas Da’i Kamtibmas Polda Kepri. Ia menyoroti pentingnya menjaga niat dalam berdakwah di tengah dinamika era modern.

Perubahan orientasi dakwah

Menurutnya, saat ini terjadi pergeseran orientasi dalam berdakwah. Dari yang semula berlandaskan pengabdian, kini cenderung berorientasi pada pengakuan dan respons publik.

Keberhasilan dakwah sering diukur dari jumlah audiens dan respons yang diterima, bukan pada substansi pesan yang disampaikan.

“Jika orientasi dakwah hanya pada pengakuan, maka saat respons menurun, semangat pun ikut merosot,” ungkapnya.

Risiko kelelahan emosional

Ia menjelaskan bahwa ketergantungan pada apresiasi dapat memicu kelelahan emosional. Hal ini terjadi ketika harapan tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan.

Bahkan, kondisi tersebut dapat menimbulkan keinginan untuk berhenti berdakwah.

Ketulusan sebagai fondasi utama

Dr. Nursalim menegaskan bahwa dakwah yang dilandasi ketulusan dan niat untuk mengharap ridha Allah akan melahirkan keteguhan. Ukuran keberhasilan bukan pada jumlah pengikut, melainkan konsistensi dalam menyampaikan kebenaran.

Teladan dari Rasulullah

Ia juga mencontohkan perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ yang penuh tantangan, mulai dari penolakan hingga tekanan. Namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah karena yang dijaga adalah keikhlasan dan komitmen.

Tantangan era digital

Di era digital, tantangan dakwah semakin kompleks. Popularitas dan visibilitas sering dijadikan tolok ukur utama, sementara nilai spiritual justru terpinggirkan.

Padahal, esensi dakwah terletak pada niat yang lurus, hati yang ikhlas, dan komitmen yang kuat.

Pesan untuk para pendakwah

Ia menekankan pentingnya menata niat sebagai fondasi utama dalam berdakwah. Dengan niat yang benar, seorang pendakwah akan tetap teguh meski minim apresiasi.

“Dakwah bukan tentang tepuk tangan, tetapi tentang pengabdian. Ketika niat sudah lurus, maka minimnya apresiasi tidak akan melemahkan semangat,” tegasnya.

Dengan ketulusan dan keikhlasan, dakwah akan tetap berjalan konsisten sebagai bentuk pengabdian, meski tanpa sorotan dan pengakuan.

Pemberitaan ini disusun berdasarkan keterangan narasumber. Redaksi membuka ruang klarifikasi sesuai ketentuan Undang-Undang Pers yang berlaku.

(Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd)