Dialog Interaktif: Bisikan Leluhur yang Tetap Hidup, Petatah Petitih Minangkabau Jadi Cermin Kejujuran

Dialog Interaktif: Bisikan Leluhur yang Tetap Hidup, Petatah Petitih Minangkabau Jadi Cermin Kejujuran

Beritarepublikviral.com // Padang, 7 April 2026Kearifan lokal Minangkabau kembali dihidupkan dalam sebuah dialog interaktif yang sarat makna dan nilai kehidupan. Petatah petitih yang diwariskan leluhur tidak hanya menjadi ungkapan budaya, tetapi juga menjadi refleksi moral yang relevan hingga saat ini.

Dalam perbincangan tersebut, Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Prof. Dr. Fauzi Bahar Dt. Sati, bersama tokoh masyarakat Firman Sikumbang, mengupas makna mendalam dari ungkapan adat yang menggambarkan karakter manusia.

Prof. Fauzi Bahar menyoroti salah satu pepatah yang sarat makna kehidupan.

“Tunjuk luruih kalingkiang bakaik, papek di lua runciang di dalam,” ujarnya.

“Apa yang tampak di luar belum tentu mencerminkan isi di dalam. Banyak yang terlihat baik, namun menyimpan maksud yang berbeda,” jelasnya.

Ia mengibaratkan kepalsuan sebagai sesuatu yang tampak indah namun rapuh, sementara kejujuran adalah kekuatan yang tidak selalu terlihat tetapi kokoh menopang kehidupan.

Senada dengan itu, Firman Sikumbang menambahkan perumpamaan lain yang menggambarkan sifat licik dalam kehidupan sosial.

“Umpamo jawi balang puntuang, terlihat tenang di luar, namun menyimpan potensi bahaya di dalam,” ungkapnya.

“Sikap munafik adalah racun yang tidak terlihat. Ia merusak kepercayaan dan menghancurkan hubungan antar sesama,” lanjutnya.

Keduanya sepakat bahwa petatah petitih bukan sekadar warisan kata-kata, melainkan pedoman hidup yang harus terus dijaga dan diamalkan.

Nilai yang terkandung di dalamnya mengajak setiap individu untuk bersikap jujur, menjaga integritas, serta membangun hubungan sosial yang dilandasi ketulusan.

“Menjadi manusia sejati bukan tentang penampilan luar, tetapi keselarasan antara ucapan dan hati,” tegas Prof. Fauzi Bahar.

“Lebih baik sederhana namun jujur, daripada tampak besar namun kosong di dalam,” tambahnya.

Dialog ini menjadi pengingat bahwa nilai budaya dan kejujuran tetap relevan di tengah kehidupan modern yang penuh dinamika.

Pemberitaan ini disusun berdasarkan kegiatan dan informasi yang dihimpun dari narasumber. Redaksi membuka ruang klarifikasi sesuai ketentuan Undang-Undang Pers yang berlaku.

Reporter: Tb Mhd Arief Hendrawan