Berita Republik – Viral
Berau, 1 April 2026
Di tengah hamparan hutan hijau yang luas dan sungai-sungai yang mengalir deras di Kabupaten Berau, hidup sebuah spesies yang telah menjadi saksi bisu perkembangan wilayah ini selama ribuan tahun. Banteng Kalimantan (Bos javanicus lowi) – makhluk gagah dengan tanduk melengkung dan bulu berwarna kecoklatan gelap – bukan hanya sekadar hewan liar, melainkan bagian tak terpisahkan dari sejarah alam dan budaya Berau yang kaya. Namun, kini masa depan mereka tergantung pada bagaimana kita merespons tantangan yang semakin kompleks di era modern ini.
MASA LALU: BANTENG SEBAGAI WARISAN ALAM YANG TELAH ADA SEJAK ZAMAN PRASEJARAH
Jauh sebelum nama Berau dikenal sebagai sebuah kabupaten, bahkan sebelum manusia menetap di wilayah ini, banteng telah menjelajahi hamparan hutan dan padang rumput Kalimantan bagian timur. Bukti fosil yang ditemukan oleh para peneliti dari Universitas Lambung Mangkurat menunjukkan bahwa subspesies banteng Kalimantan telah hidup di pulau ini setidaknya sejak akhir Zaman Es, sekitar 12.000 tahun yang lalu. Pada masa itu, kondisi geografis Kalimantan yang masih terhubung dengan daratan melalui jembatan alam memungkinkan nenek moyang banteng menyebar ke wilayah yang kini menjadi Kabupaten Berau.
“Kondisi alam Kabupaten Berau pada masa itu sangat mendukung kehidupan banteng,” jelas Dr. Irwan Setiawan, ahli biologi konservasi yang telah meneliti satwa liar di Berau selama lebih dari 15 tahun. “Kita memiliki hutan dataran rendah yang luas, padang rumput alami yang subur, serta sungai-sungai yang jernih yang menyediakan sumber air yang melimpah. Ini adalah surga bagi hewan herbivora seperti banteng yang membutuhkan ruang gerak luas dan makanan yang berlimpah.”
Seiring berjalannya waktu dan datangnya manusia untuk menetap di Berau, hubungan antara manusia dan banteng mulai terbentuk. Sejarah mencatat bahwa pada masa Kesultanan Berau yang berdiri sejak abad ke-14, banteng dianggap sebagai hewan yang sakral dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lokal. Beberapa cerita rakyat bahkan menceritakan bagaimana raja-raja Berau pada masa lalu menggunakan banteng sebagai hewan tunggangan dalam upacara penting, serta menjaga populasi mereka sebagai bagian dari kekayaan alam kerajaan.
“Di beberapa tempat di Kecamatan Kelay dan Segah, banteng masih ada dan dianggap sebagai penjaga hutan yang membawa keberuntungan bagi masyarakat,” ujar keddu warga Labaan Merapun yang melihat banteng saat di kebun
“Saya tidak bisa mendekati banteng itu, takutnya diseruduk. Namun menurutnya keberadaan banteng- banteng tersebut tidak banyak karena tempat mencari makan sudah tidak ada dan ditanami dengan kebun sawit “.
KEBERADAAN HABITAT YANG SEMAKIN SEMARAK, POPULASI YANG SEMAKIN MENIPIS
Kabupaten Berau yang memiliki luas wilayah sekitar 36.962 km² – dengan sebagian besar adalah kawasan hutan – masih menjadi salah satu tempat terakhir di Kalimantan di mana banteng Kalimantan dapat ditemukan secara alami. Beberapa daerah yang diperkirakan masih menjadi rumah bagi mereka antara lain Kecamatan Kelay dengan hutan alamnya yang masih lebat, Kecamatan Segah dengan padang rumput alaminya, serta kawasan sekitar Hutan Lindung dan Hutan Produksi yang dikelola secara berkelanjutan di sepanjang sungai Kelay.
Namun, keberadaan mereka kini semakin terancam. Data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Berau menunjukkan bahwa populasi banteng di wilayah ini telah menurun sekitar 60% selama dua dekade terakhir. Pada tahun 2000, diperkirakan terdapat sekitar 500-700 ekor banteng di Berau, namun saat ini jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 200-250 ekor yang tersebar di beberapa kawasan yang terfragmentasi.
“Salah satu ancaman terbesar adalah hilangnya habitat akibat pembukaan lahan untuk perkebunan sawit, pertambangan, dan pertanian,” ungkap Bapak Sudirman, kepala bagian konservasi di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Berau.
“Hutan yang tadinya luas dan terhubung kini terpotong-potong menjadi beberapa blok kecil, sehingga banteng kesulitan untuk berpindah tempat mencari makanan dan pasangan hidup. Ini menyebabkan penurunan keragaman genetik dan kesulitan dalam berkembang biak.” Tambahnya
Selain itu, konflik manusia-banteng juga semakin sering terjadi. Ketika habitat mereka menyusut, banteng terpaksa keluar dari kawasan hutan dan memasuki lahan pertanian masyarakat untuk mencari makanan, yang menyebabkan kerusakan tanaman dan seringkali berujung pada tindakan balas dendam dari petani. Perburuan liar juga masih menjadi masalah serius, meskipun telah dilarang oleh hukum. Banteng sering diburu untuk diambil daging dan tanduknya yang dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar gelap.
“Kita pernah menangkap kasus perburuan banteng di Kecamatan Talisayan pada tahun lalu,” jelas Sudirman. “Pelaku menggunakan senjata tajam dan jebakan untuk menangkap banteng, yang tidak hanya menyakitkan tetapi juga merusak populasi yang sudah sangat langka.”
UPAYA PENYELAMATAN DARI KONSERVASI HINGGA PERAN MASYARAKAT
Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan, berbagai pihak mulai bergandengan tangan untuk menyelamatkan banteng Kalimantan di Kabupaten Berau. Pemerintah Kabupaten Berau bekerja sama dengan organisasi konservasi seperti Yayasan Konservasi Kalimantan Timur (YKAKTIM) dan pihak akademisi untuk melaksanakan berbagai program konservasi.
Salah satu program utama adalah pembuatan kawasan perlindungan khusus untuk banteng di beberapa lokasi strategis. Pada tahun 2025, pemerintah telah menetapkan kawasan seluas 10.000 hektar di Kecamatan Kelay sebagai “Kawasan Konservasi Banteng Berau”, di mana aktivitas manusia yang dapat merusak habitat dibatasi secara ketat. Selain itu, juga dibuat koridor satwa yang menghubungkan kawasan hutan yang terfragmentasi, sehingga banteng dapat berpindah tempat dengan lebih aman tanpa harus memasuki area permukiman.
“Kita juga bekerja sama dengan masyarakat sekitar hutan untuk memberikan pendidikan tentang pentingnya melindungi banteng,” jelas Ratna Dewi, koordinator program dari YKAKTIM. “Kami memberikan pelatihan tentang cara mengelola konflik manusia-banteng dengan cara yang ramah lingkungan, seperti memasang pagar pelindung tanaman dan menggunakan sistem peringatan dini ketika ada tanda-tanda banteng mendekati kawasan pemukiman.”
Program pemberdayaan ekonomi masyarakat juga menjadi bagian penting dari upaya konservasi. Beberapa kelompok masyarakat diberikan bantuan untuk membuka usaha berbasis ekowisata, seperti wisata melihat satwa liar yang dikelola secara bertanggung jawab, sehingga mereka mendapatkan penghasilan tanpa harus merusak alam. Di Kecamatan Kelay misalnya, telah terbentuk kelompok wisata alam yang menjelajahi kawasan hutan untuk melihat banteng dan satwa liar lainnya, dengan pendapatan yang diperoleh digunakan untuk kebutuhan masyarakat dan program konservasi.
“Banyak masyarakat yang awalnya melihat banteng sebagai musuh, kini mulai menyadari bahwa banteng bisa menjadi sumber keberuntungan jika kita melindunginya,” ujar keddu dengan senyum bangga. “Kita sudah bisa melihat perubahan sikap sekarang jika ada banteng yang masuk ke lahan kita, kita tidak lagi menyakiti mereka, melainkan menghubungi pihak konservasi untuk membimbing mereka kembali ke hutan.”
Kerjasama dengan perusahaan swasta juga mulai dilakukan. Beberapa perusahaan perkebunan sawit di Berau telah menyetujui untuk menjaga sebagian kawasan hutan di sekitar kebun mereka sebagai habitat banteng dan membuat koridor satwa yang menghubungkan kawasan hutan dengan kawasan konservasi. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi banteng tetapi juga membantu menjaga kualitas lingkungan di sekitar kebun.
MENJAGA WARISAN UNTUK GENERASI MENDATANG
Keberadaan banteng Kalimantan di Kabupaten Berau adalah bukti nyata akan kekayaan alam yang luar biasa yang dimiliki oleh wilayah ini. Dari makhluk yang hidup bebas di hutan belantara hingga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, banteng telah menyaksikan bagaimana Berau berkembang dari masa ke masa. Namun, masa depan mereka kini berada di tangan kita semua.
“Setiap ekor banteng yang tersisa adalah sebuah keajaiban yang patut kita jaga,” tutup Dr. Irwan Setiawan dengan nada penuh harapan. “Mereka telah hidup di sini jauh sebelum kita datang, dan mereka berhak untuk terus hidup bersama kita di masa depan. Kita tidak bisa membiarkan spesies yang telah menjadi bagian dari identitas Berau ini hilang hanya karena kesalahan kita.”
Dengan upaya yang terus dilakukan dan dukungan dari semua pihak. pemerintah, masyarakat, perusahaan, dan organisasi konservasi diharapkan banteng Kalimantan akan tetap ada di hutan-hutan Kabupaten Berau, bukan hanya sebagai makhluk yang terjaga, tetapi sebagai bagian yang hidup dan bernyawa dari ekosistem lokal yang kita cintai.
Aroel Mandang


