Status Boleh PPPK RRI Bukittinggi, Pergaulan Tak Kaleng – Kaleng : Khatam Al – Qur’an Ananda Reporter Jhoni Marbeta Dihujani Ucapan dari Tokoh Nasional

Status Boleh PPPK RRI Bukittinggi, Pergaulan Tak Kaleng – Kaleng : Khatam Al – Qur’an Ananda Reporter Jhoni Marbeta Dihujani Ucapan dari Tokoh Nasional

Beritarepublikviral.com Bukittinggi 1/4/26 — Sebuah momen penuh haru dan kebanggaan menyelimuti keluarga jurnalis RRI Bukittinggi, Jhoni Marbeta, SE.Ak., CA. Ananda keduanya, Zaid Arkhan Khairy, sukses menuntaskan Khatam Al-Qur’an—sebuah pencapaian spiritual yang tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menyita perhatian publik karena banjir ucapan selamat dari tokoh-tokoh nasional papan atas.

Ucapan tersebut datang dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta mantan Panglima TNI, Andika Perkasa. Tak hanya itu, apresiasi juga mengalir dari jajaran petinggi TNI Angkatan Udara (Kasau) dan TNI Angkatan Laut (Wakasal), menjadikan momen ini terasa begitu istimewa dan “tak kaleng-kaleng”.

Fenomena ini sontak memantik perhatian publik, terutama karena latar belakang sang ayah, Jhoni Marbeta, yang berstatus sebagai PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) di Radio Republik Indonesia Bukittinggi. Di tengah stigma yang kerap melekat bahwa PPPK masih dianggap “anak tiri” dibandingkan PNS dalam sistem birokrasi Indonesia, peristiwa ini justru menjadi tamparan halus terhadap cara pandang tersebut.

Realitas sosial menunjukkan bahwa status administratif bukanlah batas dalam membangun jejaring, pengaruh, maupun kehormatan. Jhoni Marbeta membuktikan bahwa dedikasi, integritas, dan pergaulan luas mampu menembus sekat-sekat struktural yang selama ini dianggap membatasi.

“Ini bukan sekadar seremoni Khatam Al-Qur’an, tetapi juga simbol bahwa kualitas pribadi dan kontribusi nyata jauh lebih menentukan daripada sekadar label status kepegawaian,” ungkap salah satu pengamat sosial di Bukittinggi.

Lebih jauh, momentum ini juga menjadi refleksi penting bagi pemerintah dalam memperlakukan PPPK secara lebih adil dan proporsional. Di tengah tuntutan reformasi birokrasi, perbedaan perlakuan antara PPPK dan PNS masih menjadi isu krusial yang perlu mendapat perhatian serius.

Di sisi lain, keberhasilan Zaid Arkhan Khairy dalam mengkhatamkan Al-Qur’an di usia muda menjadi inspirasi tersendiri bagi generasi milenial dan Gen Z. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tantangan moral, capaian ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai religius tetap relevan dan penting untuk dijaga.

Peristiwa ini akhirnya bukan hanya tentang siapa yang memberi ucapan selamat, tetapi tentang pesan kuat di baliknya: bahwa kehormatan, relasi, dan keberhasilan tidak ditentukan oleh status formal semata, melainkan oleh kualitas diri, nilai, dan kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Dan dari Bukittinggi, sebuah pesan lantang menggema: status boleh PPPK, tapi pergaulan—jelas tak kaleng-kaleng. (Tim)