Menjemput Cahaya di Ujung Ramadhan: Qiyamu Lail Warga Muhammadiyah sebagai Energi Spiritual dan Peradaban Berkemajuan

Menjemput Cahaya di Ujung Ramadhan: Qiyamu Lail Warga Muhammadiyah sebagai Energi Spiritual dan Peradaban Berkemajuan

Beritarepublikviral.com // 18 Maret 2026Malam-malam terakhir Ramadhan senantiasa menghadirkan suasana yang berbeda—lebih hening namun sarat makna, lebih sunyi tetapi penuh getaran spiritual yang mendalam. Dalam suasana itulah, pelaksanaan Qiyamu Ramadhan 1447 H di Masjid HAMKA, Komplek Muhammadiyah ASEAN, menjadi momentum istimewa bagi warga Muhammadiyah untuk menjemput cahaya Ilahi di penghujung bulan suci.

Kegiatan yang berlangsung pada malam ke-30 Ramadhan, Rabu (18/03/2026), bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, melainkan sebuah perjalanan ruhani untuk menata hati, memperdalam keimanan, serta memperkuat komitmen hidup berlandaskan nilai-nilai Islam yang mencerahkan. Dalam konteks ini, Qiyamu Lail bukan hanya tentang berdiri dalam shalat, tetapi juga tentang berdiri teguh dalam prinsip dan nilai kehidupan.

Mengangkat tema “5 Sumber Daya Nabi Muhammad SAW”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi yang menghubungkan ajaran kenabian dengan realitas kehidupan modern. Rasulullah SAW menghadirkan model peradaban yang dibangun atas fondasi keseimbangan antara dimensi ruhani, sosial, dan jasmani.

Terdapat lima sumber daya utama yang menjadi kekuatan dalam membangun peradaban berkemajuan:

Pertama, agama, akhlak, dan amal sebagai fondasi kehidupan—agama memberi arah, akhlak memberi wajah, dan amal menjadi bukti keimanan.

Kedua, iman, Islam, dan ihsan sebagai trilogi spiritual yang menyempurnakan kualitas keberagamaan.

Ketiga, usaha sebagai bentuk ikhtiar dan kerja keras yang menegaskan bahwa Islam menjunjung tinggi produktivitas.

Keempat, ekonomi yang berlandaskan kejujuran, keadilan, dan keberkahan.

Kelima, olahraga sebagai upaya menjaga kesehatan jasmani sebagai penopang utama aktivitas dan ibadah.

Kelima sumber daya ini menunjukkan bahwa ajaran Islam bersifat menyeluruh dan relevan dalam seluruh aspek kehidupan manusia.

Menariknya, dalam pelaksanaan Qiyamu Ramadhan kali ini, jumlah jamaah yang hadir tidak terlalu banyak. Namun, suasana justru terasa lebih khusyuk, tenang, dan penuh penghayatan. Jamaah yang hadir tampak lebih fokus dalam beribadah, larut dalam doa dan munajat.

Keheningan tersebut menghadirkan kedalaman spiritual yang tidak selalu ditemukan dalam keramaian. Hal ini menjadi refleksi bahwa kualitas ibadah tidak diukur dari banyaknya jamaah, melainkan dari keikhlasan dan kesungguhan hati dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pelaksanaan shalat Tarawih yang dipimpin oleh DIAN UTAMA berlangsung dengan penuh ketenangan. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema, menghadirkan suasana spiritual yang menyentuh relung hati jamaah.

Qiyamu Ramadhan ini juga menegaskan peran masjid sebagai pusat pembinaan umat dalam lingkungan Muhammadiyah. Dari masjid, nilai keislaman ditanamkan, karakter dibentuk, serta kesadaran kolektif dibangun untuk menjaga keseimbangan antara ibadah dan kehidupan sosial.

Menjelang berakhirnya Ramadhan, kegiatan ini menjadi penutup yang penuh refleksi. Di tengah dinamika kehidupan modern, manusia tetap membutuhkan ruang untuk kembali kepada Tuhan, menata hati, dan memperbaiki diri.

Dengan demikian, Qiyamu Ramadhan di Masjid HAMKA bukan hanya menjadi kegiatan ibadah, tetapi juga simbol perjalanan spiritual yang mendalam. Meski jumlah jamaah tidak banyak, esensi ibadah tetap terjaga, bahkan menghadirkan kekhusyukan yang lebih dalam sebagai bekal kehidupan setelah Ramadhan.

Oleh: DR. NURSALIM, S.Pd., M.Pd
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Da’i Kamtibmas Polda Kepri