Harmoni Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu dalam Dinamika Sosial Kota Batam

Harmoni Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu dalam Dinamika Sosial Kota Batam

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau

Di tengah denyut pembangunan yang cepat dan arus migrasi yang tak pernah berhenti, Kota Batam berdiri sebagai ruang pertemuan identitas. Ia bukan sekadar kawasan industri dan perdagangan, tetapi juga ruang kultural yang menyimpan jejak panjang peradaban Melayu. Dalam konteks inilah Bahasa Indonesia hadir dan berinteraksi secara dinamis dengan bahasa Melayu yang telah lebih dahulu mengakar dalam kehidupan masyarakat setempat.
Sebagai bagian dari wilayah budaya Melayu di Kota Batam, masyarakat Batam memiliki kedekatan historis dengan bahasa Melayu yang sejak berabad-abad silam menjadi lingua franca di kawasan Selat Malaka. Bahasa Melayu bukan hanya alat komunikasi, melainkan medium nilai, adat, dan kesantunan. Ia tumbuh dalam tradisi pantun, gurindam, dan hikayat yang membentuk struktur berpikir masyarakatnya. Dari rahim bahasa Melayu inilah Bahasa Indonesia lahir dan berkembang sebagai bahasa persatuan bangsa.
Kehadiran Bahasa Indonesia di Batam tidak menggantikan bahasa Melayu, melainkan meluaskan cakrawala komunikasi masyarakatnya. Dalam ruang formal seperti pendidikan, birokrasi, media massa, dan dunia usaha, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi yang menghubungkan beragam latar etnis. Batam yang berhadapan langsung dengan Singapore dan dekat dengan Malaysia menjadi simpul interaksi lintas budaya. Dalam situasi multietnis dan multibahasa seperti itu, Bahasa Indonesia memainkan peran strategis sebagai jembatan integrasi sosial dan nasional.
Di sisi lain, bahasa Melayu tetap hidup dalam ruang domestik dan komunitas lokal. Ia menjadi bahasa keakraban, bahasa tradisi, dan bahasa yang memelihara rasa kebersamaan. Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat Batam sering kali menunjukkan kemampuan beralih kode secara luwes antara Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Fenomena bilingualisme ini bukanlah tanda ketidakstabilan linguistik, melainkan bukti kecakapan sosial masyarakat dalam menyesuaikan bahasa dengan konteks komunikasi.
Namun dinamika tersebut tidak lepas dari tantangan. Globalisasi menghadirkan pengaruh bahasa asing yang kuat, terutama dalam sektor industri, teknologi, dan pariwisata. Istilah-istilah asing kerap masuk tanpa proses adaptasi yang memadai. Jika tidak disikapi dengan kesadaran kritis, hal ini dapat menimbulkan gejala pergeseran bahasa dan melemahnya identitas lokal. Di sinilah pentingnya sikap bahasa yang arif dan bertanggung jawab. Bahasa Indonesia harus digunakan secara baik dan benar dalam ranah formal, sementara bahasa Melayu dirawat sebagai warisan budaya yang memperkaya identitas.
Hubungan antara Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu di Batam sejatinya merupakan hubungan genealogis dan kultural yang erat. Bahasa Indonesia berakar pada bahasa Melayu, sehingga penguatan salah satunya tidak berarti melemahkan yang lain. Justru melalui pengelolaan yang bijaksana, keduanya dapat saling menguatkan. Bahasa Indonesia membuka akses pada literasi nasional dan mobilitas sosial, sedangkan bahasa Melayu menjaga kesinambungan tradisi dan kearifan lokal.
Ke depan, pembangunan Batam sebagai kota maju dan bermartabat harus disertai dengan pembangunan kesadaran linguistik. Pendidikan bahasa yang berkualitas, gerakan literasi, serta pembiasaan penggunaan bahasa yang santun di ruang publik menjadi langkah strategis. Media massa dan institusi pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menumbuhkan kebanggaan berbahasa yang proporsional, tanpa mengabaikan akar budaya.
Dengan demikian, harmoni antara Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu di Batam adalah cermin kedewasaan masyarakatnya. Identitas lokal dan nasional tidak perlu dipertentangkan, melainkan dipadukan dalam semangat kebersamaan. Selama bahasa dijaga dengan kesadaran dan kebanggaan, Batam akan terus tumbuh sebagai kota kosmopolitan yang tetap berakar pada nilai-nilai Melayu, sekaligus kokoh dalam identitas keindonesiaannya.