Opini by Abdul Sani
Esok tanggal 11 Februari 2026, menjadi moment cukup penting, bagi UIN Antasari Banjarmasin Kalimantan Selatan, sebagai perguruan tinggi agama Islam negeri terbesar di Kalimantan, mengingat akan dilaksanakan pemilihan ketua dan sekretaris Senator yang menjadi mitra (DPD/MPR) organik lembaga dalam mengawal kebijakan Rektor UIN Antasari dibawah kepemimpinan Dr.Hj.Nida Mufida,
Berjubel tokoh hebat di dalam kampus UIN Antasari, ada Prof.Dr. Ani Cahyadi, M.Pd. M.Pd. Prof H.Jalaluddin, MH. Prof Dr H Surya Giri, M.Pd. Prof.Dr.Zulfa Jamali, M.M.Pd., Prof.Dr. H. Syaiful Bahri Jamarah, M.Pd.I., Prof Dr. Hj Juwairiyah, M.Pd. Prof.Dr. Faturahman Azhari, M.Hum. Prof Dr.H.Sukarni, M.Ag. Prof. Dr. Juhaidi, M.Pd., dan lain-lain kalau boleh disebutkan banyak super Hero tokoh berdasarkan latar belakang ilmu, seabrek orang besar dibalik keberhasilan besarnya mereka, jangan sampai mengecil, manakala di bawah bayang-bayang rektor dan rektorat, kalau terpilih menjadi ketua dan sekretaris
Siapapun tokoh yang muncul, mereka lah sejatinya penyulut mercusuar kilau menara emas UIN Antasari., tidak boleh berada di menara itu, menggelayut bergelantungan menjadi semu sebagai kekuatan tanpa kilau.
Keberhasilan ke depan harus menampilkan peran dan fungsi kekuatan senator tanpa menafikan semua komponen civitas akademika.
Ke depan ketua, sekretaris dan para senator multak memiliki jiwa-jiwa inovatif dan berani sebagai pendobrak, bukan “penggerobak” yang selalu menggiring atau tergiring oleh tarikan kepentingan pragmatis.
Senator UIN Antasari mutlak memiliki gagasan hebat, karena kumpulan guru besar dan doktor (S3). Bukan sekadar label nama saja yang, melainkan orang-orang hebat dan otak cemerlang yang jumlahnya 51 orang. Menjadi kekuatan besar dalam mempengaruhi, apapun kebijakan yang berdampak. Terutama dampak efektivitas masa depan UIN Antasari menuju persaingan PT di era global.
Senator minimal memiliki inovasi dasar selaku mitra mengawal kebijakan agar Rektor tidak terlalu abuse of power dan melenceng terhadap tata kelola manajemen PT, taat asas administratif dan taat hukum dalam aspek konstruktif, bukan hukum yang diciptakan secara individual, dan kekuasaan tak terbatas dalam kewenangannya yang inkonsistensi atas berdasarkan emosional nafsu non ilmiah secara akademis demi hanya memenuhi hasrat seseorang yang mengendalikan di balik layar.
Para senator minimal memiliki modal kepemimpinan gaya Steven Covey, The 8 Effective of Power and Habit Greatness beberapa komponen karakteristik umum, terutama ketua dan sekretaris yang diunggulkan dan ingin dipilih, yakni:
1) Ketua dan sekretaris level leadership keagungan quantum transformation, yang menjiwai gaya memimpin berani bersuara membela kebenaran berbagi munkar, terutama suara Tuhan dan kenabian mengingat UIN Antasari menyandang unggul dan berakhlak dan bermartabat (berdampak positif) untuk menjaga roh muruah keagungan Agama di atas segalanya.
2) Ketua dan sekretaris senator multak memiliki sensitivitas akademik, dan selalu memperjuangkan peradaban dan keadaban intelektual, ilmiah rasionalitas logis, merestorasi korektif sebelum kebijakan rektorat diberlakukan, agar makna berdampak itu inovasi konstruktif terhadap kemajuan bersama dan tidak merugikan sebagian besar yang lain. balance of value bagi dampak kelembagaan dan sumber daya manusia.
3) Ketua dan sekretaris senator mutlak sebagai pemilik jiwa penggagas, yang terdepan mengungguli setiap kebijakan dan penerapannya, sehingga selalu ada solusi efektif, bagi setiap atau sebagian ruang kebijakan rektorat yang melenceng untuk memberikan alternatif gagasan yang berbeda dan lebih baik sebagai problem solving gagasan yang berbeda jangan sampai ketua dan sekretaris senator sebagai pengikut ke arah kebijakan, cap stempel kebijakan, yang manakala diterapkan merugikan banyak pihak atau bahkan mengorbankan. Ada kearifan level “dewa” supaya jangan terjebak atau kena jebakan dari setiap nuansa kebijakan rektorat.
4) ketua dan sekretaris senator, sebenarnya kedudukan nomenklatur, lebih tinggi daripada rektor atau rektorat dalam klausul statuta UIN, karena walaupun pointer nomor b). Namun kekuatan kapabilitas level Lembaga menempatkan mereka sebagai punggawa atau panglima terdepan dalam mengawal kebijakan operasional PT, dan ini belum sepenuhnya disadari dari ketua senator terdahulu. Sehingga tidak boleh merasa rendah apalagi direndahkan dalam kompetensi keilmuan baik secara administratif maupun secara intelektual akademik.
5) Ketua dan Sekretaris Senator adalah penggagas, penggodok undang-undang level perguruan tinggi, atau bersama-sama rektorat, sehingga produk peraturan perguruan tinggi tidak tunggal atau bebas nilai. Minimal setiap rumusan kebijakan terlahir dari rahim produk berasas hukum tata kelola administratif yang logis, ilmiah, keberpihakan pada rasa keadilan, plus nilai kebenaran universal.
6) Ketua dan sekretaris senator bukan semata-mata terpilih karena di luar nalar rasional dan melanggar sistem, namun benar-benar terwujud dari kecintaan terhadap almamater, bukan sentimen kepentingan golongan semata, apalagi kepentingan pribadi terselubung seseorang, misalnya. Ini sudah mencederai idealisme akademik ilmiah dan “mengkebiri” nilai intelektualitas sebagai rambu sebuah PT.
Beberapa nilai prasyarat, ditambah prasyarat indikator kriteria dari pemilih senator mungkin lebih banyak lagi, agar ketua dan sekretaris senator memiliki integritas kemandirian, punyai keberanian nilai “kepahlawanan Antasari” sebagai upaya ke luar dari zona biasa, menjadi zona luar biasa dan biasa di luar kenyamanan yang berbeda.
Sebagai komunitas “orang besar” wajib memiliki kebesaran jubah “toga dan temali” keagungan simbol ilmu intelektualitas, jangan lebih besar badan daripada jubah, sehingga akan dikerdilkan kekuatan di sebaliknya. Kekuatan “pengendali”. Bukan kekuatan pengendali dari langit, tapi pengendali dekat yang menjadi bayang-bayang merasa membesarkan sesuatu, dan merasa menganggap besar, tanpa kendali kebesaran dibaliknya, yaitu Tuhan..
Sebaliknya dari Gagasan-gasan besar yang agung, ada ruang kebesaran yang hampa dan zon
a kehampaan. Ruang itu selalu dihuni oleh kamuflase “kosong, hampa, penuh angin dalam setiap “balon” kebesaran. Ledakan kesuksesan, opini sanggahan, adalah ruang hampa dalam kekosongan sillugisme, dari kebesaran yang diagungkan, padahal nihilisme kenisbian
Ketua dan sekretaris serta anggota senator jangan sampak terjebak atau bahkan membuat jebakan diri dalam kehampaan tanpa gagasan. Sebagai kumpulan orang besar dan hebat tunjukan kebesaran dan kehebatan sejati, siapapun yang muncul sebagai kekuatan, kalau kekuatan itu hanya bayang-bayang, maka mutlak memiliki keberanian menangkap dibalik bayang-bayang itu untuk sadar bahwa bayangan bukan wujud asli kesejatian.
Beberapa kandidat ketua dan sekretaris senator yang muncul, tidak perlu apa itu sosok yang menyertai, tampil lah jangan berada digaris bayang-bayang, karena makna terdalam sejati asli seorang ketua senator plus sekretaris, multak membuat bayangan asli sendiri.Supaya Jang berada di ruang hampa dan menjadi “pemuja kehampaan”. Seorang yang terjebak dalam bayang-bayang, apalagi berada di garis itu maka dia menjadi berhala dari bayang-bayang itu sendiri
Selamat ber-petuasnat, Pemilihan Ketua sekretaris senat UIN Antasari Banjarmasin, Semoga sukses ke depannya. (Penulis dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin Kalimantan Selatan).

