KAMPUNG LESAN DAYAK, NENEK MOYANG DAYAK BAHAU DAN KEPERCAYAAN BUNGAN YANG HIDUP DI DALAM BUDAYA

KAMPUNG LESAN DAYAK, NENEK MOYANG DAYAK BAHAU DAN KEPERCAYAAN BUNGAN YANG HIDUP DI DALAM BUDAYA

Berita Republik Viral,

Kampung Lesan Dayak di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, merupakan pemukiman tradisional Suku Dayak Bahau yang memiliki sejarah panjang dan identitas budaya yang kuat. Di sebut ” Lesan Dayak ” karena nama kampungnya adalah Lesan dan dihuni oleh masyarakat Suku Dayak Bahau, dengan nama ” Lesan ” yang dalam bahasa lokal berarti ” tempat yang penuh dengan kehidupan ” atau ” tempat berkumpulnya sungai “, sesuai dengan lokasinya yang berada di sekitar aliran sungai memiliki keberagaman hayati yang melimpah.

Meskipun tidak ada catatan tertulis yang jelas mengenai tanggal pasti terbentuknya kampung Lesan Dayak, diperkirakan telah ada selama beberapa generasi. Secara umum, Suku Dayak telah mendiami wilayah Kalimantan sejak ribuan tahun yang lalu,  dengan nenek moyangnya berasal dari Ras Mongoloid yang diperkirakan bermigrasi dari Asia Tengah atau Wilayah Yunan di Tiongkok Selatan, melewati Semenanjung Malaya sebelum menetap di pulau Kalimantan. Suku Bahau sendiri termasuk dalam rumpun besar Dayak Ot Danum yang memiliki hubungan linguistik dan budaya erat dengan Suku Kenyah dan Kayan.

Menurut cerita lisan yang di wariskan turun temurun, leluhur suku Bahau awalnya bermukim di wilayah Hulu Sungai Iwan ( Perbatasan Kalimantan dan Serawak, Malaysia ) atau Apo Kayan, kemudian menyebar ke berbagai daerah di Kalimantan Timur dan Utara, termasuk kawasan Kabupaten Berau yang telah dihuni oleh Suku Dayak sejak ribuan tahun lalu dan terkait dengan perkembangan Kerajaan Berau sekitar abad ke-14. Masyarakat Bahau kemungkinan besar menetap menetap di Lesan melalui proses migrasi bertahap, mencari lahan pertanian subur dan akses sumber daya alam yang memadai di sepanjang sungai.

Salah satu bagian penting dari identitas budaya masyarakat Lesan Dayak adalah Kepercayaan Bungan, sistim kepercayaan tradisional yang kini masih hidup dalam kehidupan budaya dan ritual mereka meskipun sebagian besar telah memeluk agama kristen atau Islam. Konsep utama Kepercayaan Bungan adalah keterkaitan erat manusia dengan alam dan roh – roh, dimana dunia di ciptakan oleh Tamey Ting Ae ( pencipta yang maha kuasa ) yang tinggal di langit, dan diatur oleh berbagai roh baik dan jahat yang berada diseliruh alam sekitar. Istilah ” Bungan ” bagi Suku Kenyah merujuk pada Dewa Pemelihara Kehidupan dan Pemberi Kemakmuran ( Bungan Malan ) serta Dewa Perusak ( Bungan Kete Pet ), sementara bagi Suku Bajau telah mengacu pada keseluruhan sistim kepercayaan terhadap roh dan alam.

Toh baik membantu manusia dan memberikan keselamatan serta rejeki. Sedangkan roh jahat dapat menyebabkan penyakit dan musibah. Untuk menjaga harmoni, masyarakat melakukan ritual dan memberikan persembahan berupa makanan seperti ketan, gula, kelapa atau barang – barang lain kepada roh – roh baik.

Setelah manusia mati, rohnya akan masuk ke alam roh yang di sebut Alau Malau atau Long Lemu, dan harus melewati tahap seleksi di Urak Arau oleh Pelin Cau Sarieng serta berbagai rintangan sebelum bisa bergabung dengan leluhur. Banyak tradisi budaya masyarakat Lesan Dayak terkait dengan Kepercayaan Bungan, seperti Tarian Hudoq yang merupakan bentuk doa untuk kesuburan tanah dan hasil panen melimpah. Serta upacara adat pada acara khusus seperti pernikahan, kematian atau perayaan panen. Kampung Lesan Dayak kini juga dikenal sebagai Kampung Wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam seperti Sungai Kelay Hulu, Hutan Lindung Lesan dan Air Terjun Lesan Jaya, tetapi juga menjadi tempat untuk melestarikan dan memperkenalkan warisan budaya nenek moyang Dayak Bahau kepada khalayak luas.

 

tarian Hudog adalah ritual bertopeng khas Dayak Bahau yang dilakukan untuk memohon kesuburan tanah dan hasil panen melimpah. Penari mengenakan topeng kayu yang menggambarkan berbagai tokoh seperti hama dan pelindung, serta kostum dari daun pisang, pinang atau kelapa. Gerakan tari diiringi musik tradisional seperti gong dan suling dan dapat berlangsung hingga lima jam.

Aroel mandang