Brv | Jakarta – PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk, mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Public Expose dengan mengusung tema “Strong Foundation, Moving Forward”, Perseroan memaparkan perkembangan industri otomotif nasional, kinerja operasional dan keuangan perusahaan, serta strategi bisnis yang akan dijalankan untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah perubahan pasar dan meningkatnya tren kendaraan elektrifikasi.
Agenda utama RUPS dan Public Expose meliputi antara lain:
Pertama, Persetujuan Laporan Tahunan 2025, termasuk pengesahan Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris dan Laporan Keuangan Konsolidasian.
Kedua, Persetujuan Penggunaan Laba Bersih Perseroan untuk Tahun Buku 2025.
Ketiga, pengangkatan kembali atau perubahan susunan anggota Direksi dan Dewan Komisaris.
Keempat, Penetapan gaji, tunjangan, dan honorarium bagi anggota Direksi serta Dewan Komisaris.
Kelima, menyetujui dan mengangkat Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan yaitu, Benny Redjo Setyono selaku Direktur Utama, Harsono Dinata selaku Direktur, Paulus Totok Lusida selaku Komisaris Utama, Darmawan Widjaja selaku Komisaris Independen serta Himawan Gunadi selaku Komisaris Independen.
Keenam, menyetujui tempat kedudukan Perseroan yang semula berkedudukan di Tangerang Selatan menjadi berkedudukan di Jakarta Selatan.
PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (CARS) menegaskan ketahanan bisnisnya di tengah perlambatan industri otomotif nasional dengan membukukan pendapatan sebesar Rp4,732 triliun dan laba bersih sebesar Rp148 miliar sepanjang tahun 2025.
Capaian tersebut dipaparkan dalam Public Expose Tahunan 2026 yang digelar secara hybride bertempat di Veranda Hotel Pakubuwono, Mahogany Room Lantai 1, Jalan Kyai Maja No. 63, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. pada Kamis (25/6/2026).
Acara dibuka oleh Benny Redjo Setyono selaku Direktur Utama PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk, yang memperkenalkan jajaran Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan. Selanjutnya, paparan publik disampaikan oleh Yosef selaku Investor Relations yang menjelaskan kondisi industri otomotif terkini, pencapaian perusahaan, serta prospek bisnis ke depan.

Dalam sambutannya, Bapak Benny Redjo Setyono selaku Direktur Utama PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk menyampaikan bahwa industri otomotif nasional masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perlambatan daya beli masyarakat, ketidakpastian ekonomi global, hingga perubahan perilaku konsumen yang semakin dinamis.
Meski demikian, Perseroan mampu menjaga stabilitas usaha melalui penerapan efisiensi operasional, penguatan jaringan bisnis, serta pengelolaan modal kerja yang disiplin.
“Perseroan terus menjaga fundamental bisnis yang kuat melalui efisiensi operasional, pengendalian biaya, dan penguatan ekosistem otomotif yang telah dibangun selama puluhan tahun,”ucapnya.

Lanjut Benny, Dalam kesempatan tersebut, Perseroan juga memperkenalkan susunan manajemen yang saat ini terdiri dari Paulus Totok Lusida sebagai Komisaris Utama, Darmawan Widjaja sebagai Komisaris Independen, dan Himawan Gunadi sebagai Komisaris Independen. Sementara jajaran Direksi terdiri dari Benny Redjo Setyono sebagai Direktur Utama dan Hartono Dinata sebagai Direktur.
“Sebagai grup otomotif yang telah berdiri lebih dari lima dekade, Bintraco Dharma memiliki rekam jejak panjang dalam membangun ekosistem otomotif terintegrasi. Perseroan berdiri pada tahun 1969 sebagai holding company dengan akar bisnis yang bermula dari PT Ratna Dewi Motor pada tahun 1961 sebagai dealer Toyota,”ujarnya.

Benny menambahkan, Seiring perkembangan industri otomotif nasional, Perseroan terus melakukan ekspansi melalui pembentukan PT Asmoco pada 1984, PT Andalan Finance pada 1995, Andalan Rental pada 2007, jaringan bengkel modern Carfix pada 2008, investasi di Bayauc Nasmoco Auctions pada 2016, hingga pendirian PT Carsworld Indonesia pada 2018 sebagai bagian dari transformasi digital grup.
“Saat ini Bintraco Group didukung oleh jaringan 24 dealer Toyota Nasmoco dan 18 bengkel modern Carfix yang tersebar di Jawa dan Bali, menjadikannya salah satu ekosistem otomotif terintegrasi yang kuat di Indonesia,”tambahnya.

Dalam paparannya, Kokoh Yosef selaku Investor Relations yang menjelaskan bahwa pasar otomotif nasional masih mengalami tekanan sejak tahun 2023. Volume pasar nasional tercatat turun dari sekitar satu juta unit pada 2023 menjadi sekitar 803 ribu unit pada 2025. Namun demikian, pasar mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal pertama 2026 dengan pertumbuhan sekitar 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Toyota masih mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar nasional dengan pangsa pasar sekitar 29 persen pada triwulan pertama 2026. Di saat yang sama, kendaraan elektrifikasi terus menunjukkan perkembangan signifikan. Kontribusi kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) telah mencapai sekitar 16 persen dari total pasar otomotif nasional.
Perseroan menilai tren elektrifikasi tersebut membuka peluang baru bagi industri otomotif Indonesia. Kendati demikian, tantangan seperti fluktuasi nilai tukar, kenaikan harga energi, dan ketidakpastian ekonomi global tetap perlu diantisipasi.
“Sebagai wilayah utama operasional melalui jaringan Toyota Nasmoco, pasar otomotif Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami penurunan sekitar 31 persen sepanjang 2025. Meski demikian, kondisi pasar mulai menunjukkan kestabilan pada kuartal pertama 2026 dengan pertumbuhan yang relatif datar atau flat secara tahunan,”jelasnya.

Lanjut Yosef, Toyota tetap m3enjadi pemimpin pasar di wilayah tersebut dengan pangsa pasar sekitar 27 persen. Perseroan juga mencermati meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan hybrid yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi infrastruktur dan kebutuhan konsumen saat ini.
Dari sisi penjualan, segmen Multi Purpose Vehicle (MPV) masih menjadi kontributor utama bagi Perseroan. Toyota Avanza dan Toyota Innova tetap mendominasi penjualan berkat tingginya permintaan kendaraan keluarga di Indonesia.
Selain itu, Toyota Innova Zenix Hybrid mulai memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap total penjualan kendaraan. Pada segmen Low Cost Green Car (LCGC), Toyota Agya dan Toyota Calya juga tetap menunjukkan performa yang stabil.
Sementara itu, kendaraan komersial seperti Toyota Hilux dan Toyota Rangga menjadi penopang penting yang mampu menjaga kinerja penjualan di tengah perlambatan pasar,”tuturnya.

Yosef menambahkan, Di tengah kondisi industri yang belum sepenuhnya pulih, Bintraco Dharma berhasil menjaga kinerja keuangan yang sehat. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp4,732 triliun sepanjang tahun 2025.
Hingga triwulan pertama 2026, pendapatan tercatat sebesar Rp1,131 triliun. Sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp148 miliar pada tahun 2025 dan sebesar Rp46 miliar hingga akhir Maret 2026,”tambahnya.

Manajemen menjelaskan bahwa penurunan laba relatif lebih kecil dibandingkan penurunan volume penjualan berkat keberhasilan program efisiensi yang diterapkan secara konsisten.
Program tersebut meliputi pengendalian biaya operasional, peningkatan gross profit margin, efisiensi distribusi, serta optimalisasi pengelolaan modal kerja yang mampu menjaga profitabilitas perusahaan.
Dari sisi posisi keuangan, Perseroan juga menunjukkan struktur permodalan yang kuat. Hingga akhir Maret 2026, total aset Bintraco Dharma tercatat sebesar Rp2,962 triliun.
Ekuitas meningkat menjadi Rp1,383 triliun, sementara total liabilitas berhasil ditekan menjadi Rp1,579 triliun melalui pengelolaan modal kerja yang lebih efisien dan pengurangan kewajiban jangka pendek.
Kondisi tersebut mencerminkan kemampuan Perseroan dalam menjaga likuiditas, memperkuat struktur permodalan, serta meningkatkan daya tahan bisnis di tengah tantangan industri otomotif nasional.
Ke depan, manajemen optimistis dapat mempertahankan kinerja positif sepanjang tahun 2026. Optimisme tersebut ditopang oleh kekuatan jaringan dealer Toyota Nasmoco, bengkel modern Carfix, layanan pembiayaan kendaraan, bisnis rental, hingga pengembangan ekosistem digital otomotif yang dimiliki grup.
Dengan fondasi bisnis yang kuat, pengalaman panjang di industri otomotif, serta strategi yang adaptif terhadap perubahan pasar, Bintraco Dharma meyakini mampu menciptakan pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.
Melalui tema “Strong Foundation, Moving Forward”, Perseroan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat daya saing, menangkap peluang pertumbuhan baru, dan melangkah maju di tengah transformasi industri otomotif Indonesia menuju era elektrifikasi dan digitalisasi,”tutupnya.
#PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma, Tbk
#Media Partners PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma, Tbk


