Beritarepublikviral.com // TANAH DATAR, — Di bawah langit yang seolah melambai penuh kerinduan kepada tanah kelahirannya, bumi bersejarah Tanah Datar kembali berdenyut dengan irama sukacita yang dahsyat dan penuh makna di hari ketiga tanggal 27 Juni 2026. Dua tempat suci dan ikonik yang menjadi jantung budaya ini — Istano Basa Pagaruyung yang berdiri tegak bagaikan mahkota adat, serta Lapangan Cindua Mato Batusangkar yang luasnya terbuka merangkul siapa saja — kini tidak lagi sekadar berdiri diam sebagai bangunan dan tanah lapang. Hari ini, mereka seolah membuka lebar pelukannya, menghirup napas baru, dan ikut bergemuruh menyambut kedatangan salah satu peristiwa paling megah yang tercatat dalam daftar Tujuh Besar Kharisma Event Nusantara (KEN) Tahun 2026: Festival Minangkabau! 🎉
Perhelatan agung ini bukan sekadar keramaian atau pesta sementara yang datang lalu berlalu begitu saja; jauh lebih dalam maknanya, festival ini lahir dan berjalan bagaikan sungai kehidupan yang kembali mengalir deras: menjadi wadah suci tempat warisan leluhur berjumpa kembali dengan anak cucunya, menjadi jalan raya pembuka bagi tamu dari segenap penjuru nusantara hingga mancanegara, sekaligus berubah menjadi tenaga penggerak raksasa yang mengangkat roda pariwisata dan menghidupkan denyut ekonomi rakyat hingga ke pelosok nagari.
Di tengah hiruk‑pikuk yang penuh kebanggaan itu, hadirlah Bapak Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, yang berdiri dan menyaksikan dengan hati puas serta penuh penghargaan. Dalam ucapannya yang bergema menyusuri lorong‑lorong sejarah, beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas keteguhan dan kesetiaan luar biasa yang ditunjukkan oleh segenap jajaran Pemerintah Kabupaten Tanah Datar. “Sungguh patut dipuji dan dijadikan teladan,” ujar beliau dengan nada hangat, “bagaimana Tanah Datar senantiasa konsisten menjaga, merawat, dan menampakkan kembali wajah asli kebudayaan Minangkabau yang agung ini. Lebih dari sekadar pertunjukan semata, Festival Minangkabau adalah ruang warisan yang paling penting: di sini nilai‑nilai luhur diperkenalkan kembali, di sini akar budaya ditanamkan ulang ke dalam sanubari Generasi Muda, agar meski zaman terus berlari cepat dan dunia berubah wajah, identitas sejati anak nagari tidak akan pernah hilang atau tergerus waktu — melainkan tetap kokoh terjaga bagaikan tiang rumah gadang yang tak terguncang angin.”
Sementara itu, Bapak Bupati Tanah Datar, Eka Putra, menegaskan dengan tegas dan penuh harapan bahwa peristiwa besar ini memiliki makna khusus yang melampaui sekadar perayaan: Festival ini adalah Tanda Kebangkitan Nyata!
Ia berdiri tegak sebagai bukti bahwa bumi ini telah bangkit pulih dan kembali bersinar pasca ujian berat bencana yang pernah melanda. “Di sinilah pertemuan indah terjadi,” tegas beliau: “pelestarian budaya berjalan beriringan erat dengan penguatan ekonomi kreatif, dan keduanya bersatu menjadi suara lantang yang mempromosikan keindahan serta potensi asli Tanah Datar kepada seluruh dunia.”
Dan sungguh, sepanjang hari ketiga ini, setiap sudut lokasi bercerita dan menampakkan kekayaan yang tak habis‑habis: mata para pengunjung dimanjakan oleh keindahan luar biasa saat 180 helai Baju Milik — pakaian adat sakral yang menyimpan kisah sendiri — ditampilkan berjejer bagaikan taman bunga berwarna‑warni yang dibawa dari Nagari Padang Magek.
Kemudian panggung berguncang penuh keagungan oleh Tari Kolosal Saribu Katidiang Saok, di mana gerakan serempak ratusan penari seolah mengubah ruang itu menjadi lautan jiwa yang bergerak selaras dengan satu irama adat agung. Belum lagi deretan atraksi khas dari berbagai nagari, pameran desa wisata yang menceritakan pesona tersembunyi, serta deretan meja kuliner tradisional yang mengundang selera — di mana aroma masakan seolah terbang sendiri menyapa hidung dan selera, sambil memberi ruang luas bagi para pelaku UMKM Lokal untuk tampil dan berkarya dengan bangga.
Dari barisan penjaga kehormatan perempuan adat, terdengarlah suara penuh sukacita dari Ibu Nur Laili — Ketua Bundo Kanduang Nagari Salimpauang. Beliau menyaksikan pertumbuhan ini dengan hati bangga: “Lihatlah betapa indahnya perjalanan waktu! Festival ini makin hari makin tumbuh makin megah dan berakar kuat, kini telah menjadi kebanggaan bersama yang tak tergantikan. Namun satu hal yang lebih istimewa: panggung ini bukan hanya tempat menampilkan warisan budaya belaka — melainkan juga menjadi Jalan Silaturahmi Terluas, di mana para Ibu‑ibu Bundo Kanduang berkumpul bertemu saudara, tak hanya dari segenap pelosok Sumatera Barat, bahkan hingga tamu yang datang melintasi lautan dari negeri seberang pun turut merasakan kehangatan persaudaraan ini.”
Dan manfaat besar ini tidak hanya berhenti di halaman sejarah atau kenangan indah semata; dampaknya terasa nyata dan hangat hingga ke saku serta meja penghidupan warga.
Begitulah yang diakui dengan senyum lebar oleh Azila, salah satu pelaku usaha kecil yang menyajikan kelezatan kuliner dan kerajinan suvenir khas daerah.
“Bagi kami yang bekerja di lapangan,” ceritanya penuh rasa syukur, “kehadiran ribuan pengunjung yang memadati lokasi ini membawa angin berkah yang terasa langsung. Mereka tidak sekadar berjalan melihat atau menikmati rasa masakan lezat saja; mata mereka juga tertarik pada setiap benda buatan tangan anak nagari, tangan mereka bergerak membeli oleh‑oleh dan kenang‑kenangan khas Tanah Datar — berarti pendapatan kami mengalir deras, dan perekonomian kecil kami pun ikut tumbuh segar bersama semangat festival ini.”
Sepanjang hari ketiga yang penuh berkah ini, waktu berjalan terbagi indah menjadi rangkaian kisah yang saling melengkapi di dua lokasi sakral itu:
🌞 SAAT SIANG: ATRAKSI YANG BERNYAWA DAN MEMBANGKITKAN KENANGAN
Di bawah cahaya matahari yang bersinar ramah, Pacu Jawi tampil memukau: sapi‑sapi gagah dari tanah basah berlarian penuh semangat diiringi sorak‑sorak warga, menjadi daya tarik utama yang memanggil para pencinta keindahan dan fotografer untuk menangkap momen agung itu.
Tak jauh dari sana, terbukalah ruang kerinduan bernama Permainan Anak Nagari Tempo Doeloe — di mana permainan sederhana namun berharga dari zaman dulu seolah bangun tidur kembali untuk mengajak anak‑anak dan orang dewasa bermain bersama, mengikat kembali benang kenangan masa lalu.
Dan di dalam keagungan Istano Basa Pagaruyung, terselenggara pula Pameran Festival Matrilineal serta Benda‑Benda Pusaka: benda‑benda tua yang diam di sana seolah kembali bercerita lantang tentang sejarah unik, sistem kekerabatan, dan kemuliaan budaya matriarkal Minangkabau yang menjadi keistimewaan dunia.
🍽️ SEPANJANG WAKTU: KULINER LEGENDARIS DAN KREATIVITAS YANG MENGALIR

Di sisi Lapangan Cindua Mato, deretan Spot Kuliner Tempo Dulu mengundang siapa saja: aroma khas dari karupuak leak, renyahnya pinukuik tampuruang, kelembutan lompong sagu, hingga manis hangat godok ubi berbaur menjadi satu lagu selera yang menggugah selera.
Di sebelahnya pula, Pameran Desa Wisata dan Bazar UMKM membentang luas: kerajinan tangan yang ditenun dengan kasih, suvenir penuh makna, serta gambaran kekayaan potensi dari setiap kecamatan hadir memamerkan bahwa tangan‑tangan anak Tanah Datar tetap cerdas dan rajin berkarya.
🌌
🎤 SAAT MALAM: PUNCAK KEINDAHAN DI BAWAH LAMPU BINTANG
Ketika matahari pamit dan langit mulai menaburkan lampu‑lampu malam, seluruh perhatian berpusat di panggung utama Lapangan Cindua Mato yang kini berkilauan megah.
Di sinilah rangkaian hiburan puncak melebur menjadi kemeriahan tak terlupakan: tarian kolosal kembali menyapa dengan pesona magis, diikuti gelombang suara dan nyanyian yang menggema hingga ke bukit‑bukit sekitar.
Panggung itu pun berguncang penuh sukacita menyambut kehadiran bintang‑bintang kesayangan tanah air dan ranah Minang yang membawa lagu‑lagu jiwa: Kintani, Pinki Prananda, Upiak Isil, serta Uda Rio — setiap nada yang terlontar seolah menjadi jembatan yang semakin mengikat hati penonton dengan bumi dan budaya tercinta ini 🎶✨
Melalui setiap langkah dan detik yang terukir indah di hari ketiga ini, satu pesan agung tertanam kuat: Di Tanah Datar, Warisan Budaya Bukan Hanya Dijaga, Melainkan Juga Dihidupkan, Dikembangkan, dan Dijadikan Jalan Menuju Kemakmuran Bersama.
Semoga semangat Festival Minangkabau 2026 ini terus berlanjut bagaikan aliran sungai yang tak pernah kering — menyuburkan kembali akar adat, memperkuat langkah pariwisata, dan senantiasa mengangkat derajat ekonomi setiap keluarga di segenap penjuru Nagari Sumatera Barat tercinta.(Tb Mhd Arief Hendrawan)


