🎧🌏 SUARA RANAH MINANG: EPISODE KHUSUS
Tema Utama: Rekonstruksi Model CERC Berbasis Kearifan Lokal dan Tata Kelola Digital demi Sumatera Barat yang Lebih Tangguh
🕒 Waktu Rekaman: Kamis, 25 Juni 2026
📍 Lokasi: Ruang Pertemuan Utama — Kantor Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat
🎤 Narasumber Utama: Prof. Dr. Fauzi Bahar, M.Si, Dt.Sati — Ketua Umum LKAAM Sumatera Barat .
🎙️ Pewawancara: Dila — Dosen Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) untuk riset pelaksanaan Hibah Penelitian Fundamental dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
✨🎬 PEMBUKAAN SIARAN
(Suara latar lembut: irama dendang Minang perlahan masuk, lalu perlahan mengecil berganti gema suasana ruangan yang hangat dan penuh wibawa)
🔊 SUARA PENGANTAR:
Di tanah yang berdiri kokoh di antara kekuatan samudra dan punggung pegunungan, di wilayah yang setiap hari dipeluk namun juga diuji oleh kekuatan alam — Sumatera Barat berdiri menyimpan satu kebenaran besar: bahwa kami tinggal di kawasan yang indah namun juga penuh tantangan. Zona pertemuan lempeng bumi, jalur Sesar Sumatra, ancaman tsunami, hingga napas gunung berapi yang selalu hidup… semuanya berbisik satu pesan jelas: Kita tidak bisa sekadar menunggu bencana datang; kita harus berbicara dengannya, memahaminya, dan bersiap menyambutnya dengan cerdas.
Hari ini, di ruangan tempat nilai‑nilai leluhur tinggal dan berdenyut, datanglah langkah muda yang penuh semangat: Dila. Sebagai mahasiswi dan peneliti, ia membawa sebuah gagasan yang bukan sekadar tulisan di atas kertas — melainkan sebuah rancangan jembatan baru: Bagaimana cara menyusun ulang cara kita menyampaikan pesan bahaya, agar pesan itu tidak hanya sampai ke telinga, melainkan masuk meresap hingga ke akar budaya dan hati sanubari masyarakat.
Di hadapannya duduklah sosok yang memegang kunci jati diri tanah ini: Prof. Dr. Fauzi Bahar, M.Si — Dt. Sati. Bersama beliau, mari kita ikuti percakapan yang bernyawa ini… di mana pertanyaan muda bertemu jawaban bijak, dan ilmu pengetahuan bersanding mesra dengan hikmah adat.
💬🎙️ DIALOG INTERAKTIF: PERTANYAAN DAN JAWABAN YANG MEMBUKA JALAN BARU
👩🎓 DILA:
Assalaamu ‘alaikum dan salam sejahtera Bapak Prof.Dr.Fauzi Bahar,M.Si Dt.Sati, Ketua Umum LKAAM Sumbar yang saya hormati… Terima kasih telah menerima kunjungan dan wawancara ini. Sebagai titik awal perjalanan gagasan kami, izinkan saya bertanya: Sejauh manakah sebenarnya model komunikasi risiko yang dikenal dunia sebagai Crisis and Emergency Risk Communication atau CERC ini sudah berjalan dan diterapkan di tanah kelahiran kita, Sumatera Barat? Dan di mana letak sisi‑sisi yang masih terasa kaku atau belum pas dengan cara hidup masyarakat kita?
👴🏛️ PROF. DR. FAUZI BAHAR, M.Si — DT. SATI:
Wa’alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh… Anakku yang cerdas dan rajin bertanya, pertanyaanmu ini persis seperti orang yang pertama kali memegang peta jalan sebelum melangkah jauh — sangat penting! 🗺️
Sungguh, model CERC itu lahir membawa enam cahaya prinsip yang sangat indah: Harus Datang Lebih Dulu, Harus Benar Isinya, Harus Dipercaya, Penuh Empati, Mengajak Melakukan Sesuatu, Dan Selalu Menghormati Penerimanya. Namun sayangnya… saat model ini berjalan masuk ke pintu gerbang Sumatera Barat, ia sering kali masih berjalan dengan langkah yang terlalu kaku dan lurus saja — ibarat orang yang hanya berjalan di jalan raya utama, belum tahu jalan‑jalan kecil, lorong‑lorong adat, maupun pintu samping di setiap nagari.
Di lapangan, terlihat jelas sifat lamanya: pesan masih sering berjalan dari atas ke bawah saja, seperti air yang hanya mengalir turun namun tidak pernah kembali naik membawa kabar balik. Pemerintah mengeluarkan pengumuman, tapi masyarakat belum merasa menjadi bagian dari pembicaraan itu. Belum lagi bahasanya masih sering terlalu resmi, belum mengenakan “pakaian budaya” yang akrab di telinga warga. Akibatnya? Partisipasi belum tumbuh subur, dan celah ketidakpahaman masih sering terbuka — padahal di sini bahaya alam bergerak cepat dan tak memberi waktu menunggu!
👩🎓 DILA:
Terima kasih banyak atas penjelasan yang sangat terang itu, Pak… Lalu dari kekurangan itu lahirlah pertanyaan kedua yang sangat mendasar di dalam penelitian kami: Di mana letak kekuatan asli kita yang bisa menjadi obat dan pelengkap kekurangan tersebut? Bagaimana sebenarnya peran dan kekayaan Kearifan Lokal Minangkabau itu bekerja dan berbicara dalam urusan memberi tahu serta mengingatkan warga saat bahaya mengancam?
👴🏛️ PROF. DR. FAUZI BAHAR,M.SI — DT. SATI:
Ah… pertanyaan ini menyentuh langsung ke jantung tanah kami sendiri! ❤️🌱 Ketika ilmu luar datang belum mengenal jalan, di sanalah Pengetahuan Turun‑temurun itu bangkit berdiri tegak bagaikan tiang rumah gadang yang kokoh.
Coba lihat sekeliling kita: di sini, satu nagari bukan sekadar wilayah peta — melainkan satu tubuh yang saling merasakan sakit. Ada Sistem Musyawarah yang membuat setiap keputusan dipahami bersama sebelum dijalankan. Ada Ninik Mamak yang suaranya didengar karena lahir dari kepercayaan darah dan persaudaraan. Ada Surau yang sejak lama bukan hanya tempat sujud semata, melainkan ruang pendidikan, tempat berbagi kabar, dan pusat doa bersama. Ada pula jiwa Gotong Royong atau dalam istilah kita Badoncek — yang mengajarkan bahwa saat air naik atau gunung bergetar, tangan tidak akan menggenggam barang sendiri, melainkan akan terulurkan saling menarik keluar sesama dari bahaya.
Dan di atas semuanya berdiri Filosofi Agung: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Nilai ini mengajarkan bahwa segala tanda alam — angin yang berubah, air yang berwarna beda, atau gerak tanah yang halus — adalah bahasa Tuhan yang harus dibaca dan dimengerti dengan hati waspada. Cerita‑cerita lama, ucapan para tetua, dan pengalaman masa lalu… semuanya itu sebenarnya adalah Buku Besar Komunikasi Risiko Asli yang sudah ditulis ribuan tahun sebelum istilah ilmiah itu lahir! Hanya saja, belakangan ini kadang kita lupa membukanya kembali dengan cara yang pas dan selaras zaman.
👩🎓 DILA:
Sungguh jawaban yang menggetarkan hati… makin terasa betapa harta budaya ini adalah kekayaan tak ternilai. Namun Pak, zaman pun terus berjalan berubah rupa: dunia kini dipenuhi cahaya layar dan kecepatan sinyal. Dalam penelitian kami, muncul konsep Digital Governance atau Tata Kelola Berbasis Teknologi. Bagaimana sebenarnya kekuatan dunia maya ini bisa dipasang dan dijalin agar memperkuat — bukan menggantikan — cara kerja komunikasi risiko kita? Agar pesan makin cepat melesat, namun tetap tidak kehilangan jiwa aslinya?
👴🏛️ PROF. DR. FAUZI BAHAR,M.SI — DT. SATI:
Sangat tepat arah pikiranmu, Nak… 📶 Teknologi itu bagaikan sayap baru yang bisa kita pasangkan ke tubuh burung yang sudah kuat terbang lama — supaya ia bisa melayang makin tinggi, melihat makin luas, dan membawa kabar lebih cepat ke segala penjuru pulau!
Di dalam sistem yang kita impikan, Digital Governance berarti mengubah cara kerja informasi dari yang dulu lambat dan terkotak‑kotak, menjadi satu jaring jaringan raksasa yang saling menyambung: Sistem Peringatan Dini yang berbicara langsung ke gawai warga; Papan Data Kebencanaan yang terbuka dilihat siapa saja; Media sosial dan saluran pesan singkat yang berubah dari sekadar tempat hiburan, menjadi corong sah penyebaran kabar resmi; serta ruang lapor digital di mana setiap orang yang melihat tanda aneh di alam bisa langsung berbisik melapor ke pusat komando.
Namun ada kunci rahasianya: Teknologi hanyalah Saluran Air — ia tidak akan berisi air yang jernih dan tepat maknanya, jika sumber airnya tidak dijaga. Itulah sebabnya di dalam rancangan barumu, alurnya harus berjalan indah seperti ini: Data dan sinyal dikumpulkan lewat jalur resmi BPBD dan BMKG → masuk ke satu Pusat Platform Terpadu → lalu sebelum melesat bebas ke mana‑mana, pesan itu disaring dan diperindah bahasanya oleh Pasukan Penyambung: Ninik Mamak, Tokoh Agama, Pengelola Surau, dan Komunitas Digital — agar saat akhirnya masuk ke Nagari dan ke rumah warga… pesan itu sampai bukan hanya sebagai berita resmi, melainkan sebagai Pesan yang Dikenal, Dipercaya, dan Dimengerti dengan Cara Minangkabau Sejati!
👩🎓 DILA:
Dan sampailah kita ke pertanyaan terakhir sekaligus tujuan utama penelitian ini, Pak… Berdasarkan semua temuan, kekurangan lama, serta potensi besar yang baru saja kita bicarakan itu: Bagaimana rupa sebenarnya dari “Rekonstruksi Model Baru” yang kita usulkan ini? Dan apa keunggulan terbesarnya dibandingkan cara‑cara lama yang pernah berjalan?
👴🏛️ PROF. DR. FAUZI BAHAR,M.SI — DT. SATI:
Inilah puncak dari segala renungan dan jalan keluar yang kita rajut bersama… 🧩✨ Model baru ini kita beri jiwa bernama: CERC TERINTEGRASI — BERAKAR ADAT, BERGERAK DIGITAL. Ia bukan sekadar mengubah sedikit bagian luar, melainkan mengubah sepenuhnya arah pandangnya: dari yang dulu “Dari Atas Saja”, kini berubah menjadi “Jaringan Saling Menyapa Segala Arah”.
Bayangkanlah alurnya berjalan hidup begini:
📥 MASUK: Data risiko bencana dikumpulkan lengkap, lalu disandingkan dengan peta nilai‑nilai adat dan pengetahuan lokal, serta didukung penuh oleh segala perangkat teknologi yang ada.
⚙️ PROSES: Di sini lah terjadi keajaiban pertemuan: Informasi tidak langsung disebar sembarangan — melainkan melewati ruang Musyawarah Terpadu: Pemerintah duduk bersama BPBD, lalu menyambungkan suara ke Tokoh Adat, Tokoh Agama, hingga Pengelola Komunitas Digital. Pesan diterjemahkan ke bahasa yang akrab, disesuaikan dengan cara pikir nagari, lalu dikemas agar bisa meluncur lewat dua jalur sekaligus: Jalur Resmi & Jalur Tradisional, serta Jalur Digital & Jalur Lisan.
📤 HASILNYA: Maka lahirlah kondisi baru: Masyarakat tidak lagi sekadar mendengar berita bahaya dengan pasif — melainkan Siap Bertindak Sendiri, Mengerti Alasan Di Balik Aturan, dan Bergerak Serempak Seolah Satu Tubuh Besar.
🎯 TUJUAN AKHIR: Terbentuklah ketahanan yang nyata: Nagari‑nagari yang tangguh, tata kelola yang terbuka dan cepat, serta budaya yang makin terjaga karena terbukti tetap berguna dan menyelamatkan nyawa di zaman apa pun.
Dan jika kita bandingkan dengan cara lama, bedanya sangat terang: Dulu pesan datang sebagai “Perintah”; kini pesan datang sebagai “Peringatan dari Saudara yang Mengerti Bahasamu”. Dulu partisipasi terbatas; kini pintu terbuka lebar bagi siapa saja ikut menyumbang laporan dan gagasan. Dan yang paling penting: Kepercayaan Masyarakat naik tinggi — karena mereka melihat wajah‑wajah yang mereka kenal dan hormati berdiri di samping pesan‑pesan itu, bukan hanya tulisan tanpa nama dari jauh!
👩🎓 DILA:
Alhamdulillah… Sungguh percakapan ini telah membuka jalan pikiran saya seluas samudera! Sebagai penutup dan harapan besar dari hasil kajian ini, apakah ada pesan khusus yang ingin Bapak sampaikan kepada kita semua, khususnya Pemerintah Daerah dan keluarga besar LKAAM terkait langkah selanjutnya?
👴🏛️ PROF. DR. FAUZI BAHAR,M.SI — DT. SATI:
Hanya satu pesan sederhana namun berat maknanya: 🕊️ “Jangan pernah memisahkan Pembangunan dan Kesiapsiagaan dari Akar Budayanya.” Biarlah rancangan ini tidak hanya menjadi tulisan dalam lembar skripsi semata, melainkan tumbuh menjadi benih yang ditanam di tanah kebijakan: Masukkanlah Aktor Adat sebagai bagian resmi dalam sistem; bangunlah platform digital yang berpusat di Nagari; ajarkanlah ilmu mitigasi sejak dini lewat cerita dan kegiatan di Surau serta sekolah; dan teruslah menguji serta menyempurnakan model ini agar makin kuat.
Karena yakinlah: Di tanah yang berpegang teguh pada Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, serta hidup dalam persaudaraan yang nyata — di sanalah kekuatan terbesar menghadapi segala guncangan alam itu akan selalu lahir dan tumbuh abadi. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi Sumatera Barat kita tercinta.
📻🏁 PENUTUP SIARAN PODCAST
(Irama musik pengantar kembali perlahan menguat lembut)
🔊 SUARA PENUTUP:
Demikianlah gema percakapan penting yang berlangsung di ruang kerja LKAAM Sumatera Barat pada hari bersejarah ini. Sebuah dialog yang membuktikan satu kebenaran indah: Bahwa ilmu pengetahuan modern tidak perlu datang untuk menggantikan warisan leluhur — sebaliknya, keduanya jika bersatu tangan akan melahirkan kekuatan baru yang jauh lebih dahsyat dan tangguh.
Rancangan Model Komunikasi Risiko Berbasis Kearifan Lokal dan Tata Kelola Digital ini kini telah tergambar jelas arahnya: Sebuah jembatan kokoh yang menghubungkan masa lalu yang bijaksana dengan masa depan yang cerdas — demi satu tujuan tunggal: Menyelamatkan Nyawa, Menjaga Harta, dan Membangun Sumatera Barat yang Tangguh, Aman, serta Terlindungi Abadi.
Laporan & Produksi Siaran Beritarepublikviral.com: Tb Mhd Arief Hendrawan 📝🎙️


