Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar perpindahan angka dari 1447 ke 1448 H. Ia merupakan pengingat historis sekaligus refleksi filosofis tentang sebuah peristiwa yang mengubah arah peradaban manusia: hijrah. Dalam perspektif Islam, hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan transformasi nilai dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari keterpecahan menuju persatuan, dan dari ketidakadilan menuju tatanan yang lebih berkeadaban.
Pilihan para sahabat generasi awal menjadikan peristiwa hijrah sebagai titik awal penanggalan Islam mengandung pesan intelektual yang sangat mendalam. Kalender Islam tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan pula dari momentum kemenangan militer, melainkan dari sebuah langkah perubahan sosial yang dilakukan dengan visi, keberanian, dan pengorbanan. Di sana terdapat pelajaran bahwa kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh kemegahan simbol, tetapi oleh kemampuan kolektif untuk melakukan transformasi.
Menarik untuk dicermati bahwa perbedaan antara kalender Masehi dan kalender Hijriah tidak hanya bersifat administratif, melainkan juga berakar pada fenomena astronomi yang menunjukkan keteraturan alam semesta ciptaan Allah SWT. Kalender Masehi (Syamsiyah) disusun berdasarkan peredaran Bumi mengelilingi Matahari, dengan panjang satu tahun sekitar 365,2422 hari. Sementara kalender Hijriah (Qamariyah) didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi, dengan panjang satu tahun sekitar 354 atau 355 hari.
Perbedaan sekitar sebelas hari setiap tahun inilah yang menyebabkan bulan-bulan Hijriah terus bergeser dalam kalender Masehi. Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha tidak terikat pada satu musim tertentu, melainkan berputar mengikuti siklus Bulan. Fenomena ini sesungguhnya menghadirkan pelajaran tentang keluasan hikmah Ilahi. Matahari dan Bulan bergerak dalam orbit yang teratur, menjadi penanda waktu bagi manusia sekaligus bukti nyata bahwa alam semesta berjalan di bawah hukum dan ketetapan Sang Pencipta.
Memasuki Tahun Baru Islam 1448 H, tantangan umat dan bangsa semakin kompleks. Kemajuan teknologi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan, digitalisasi ekonomi, dan arus informasi global menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Dalam situasi demikian, makna hijrah menemukan relevansinya. Hijrah masa kini adalah kemampuan meninggalkan pola pikir yang sempit menuju wawasan yang terbuka, meninggalkan budaya konsumtif menuju budaya produktif, serta meninggalkan konflik yang tidak produktif menuju kolaborasi yang membangun.
Di tingkat individu, hijrah berarti memperbaiki kualitas diri melalui ilmu pengetahuan, integritas moral, dan disiplin kerja. Di tingkat sosial, hijrah menuntut lahirnya masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan, toleransi, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Sementara pada tingkat kebangsaan, hijrah adalah keberanian melakukan pembaruan institusi, memperkuat supremasi hukum, serta memastikan pembangunan yang menghadirkan kemakmuran yang berkeadilan.
Islam sejak awal hadir sebagai agama yang memuliakan ilmu. Karena itu, peringatan Tahun Baru Hijriah seyogianya tidak berhenti pada seremoni dan simbolisme. Yang lebih penting adalah menjadikannya momentum evaluasi peradaban: sudah sejauh mana umat memproduksi pengetahuan, berkontribusi bagi kemajuan masyarakat, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan zaman. Sebab sejarah menunjukkan bahwa kejayaan peradaban Islam lahir ketika tradisi keagamaan berjalan beriringan dengan tradisi intelektual.
Pada akhirnya, Tahun Baru Islam 1448 H mengajarkan bahwa masa depan tidak dibangun oleh nostalgia terhadap kejayaan masa lalu, melainkan oleh keberanian merumuskan langkah-langkah baru yang relevan dengan tuntutan zaman. Hijrah adalah gerak maju, bukan sekadar perpindahan; adalah transformasi, bukan sekadar peringatan; adalah ikhtiar peradaban, bukan sekadar ritual tahunan.
Semoga 1448 H menjadi momentum lahirnya kesadaran baru untuk terus berhijrah menuju masyarakat yang lebih berilmu, lebih beradab, dan lebih bermartabat. Sebab ukuran kemuliaan suatu umat bukanlah seberapa jauh ia mengenang sejarahnya, melainkan seberapa mampu ia menerjemahkan nilai-nilai sejarah itu menjadi energi kemajuan bagi masa depannya.
Lebih dari itu, pergantian tahun hendaknya menyadarkan kita bahwa waktu adalah amanah yang terus berkurang, sementara tanggung jawab untuk memberi manfaat terus bertambah. Ketika Bumi tetap mengelilingi Matahari dan Bulan tetap mengelilingi Bumi dalam ketepatan yang menakjubkan, manusia pun seharusnya bergerak dalam orbit nilai, ilmu, dan kebajikan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Sebab hakikat kemajuan bukanlah sekadar bergerak lebih cepat, melainkan bergerak ke arah yang benar. Dan pada akhirnya, peradaban yang besar bukanlah peradaban yang hanya mampu menghitung perjalanan waktu, melainkan peradaban yang mampu mengisi setiap detik perjalanan waktu itu dengan kemaslahatan, keadilan, dan keberkahan bagi sesama.
H.Syarkawi, D.S.H., M. M., C. med. Pengurus Ipim DPW Kaltim


