Beritarepublikviral.com // JAKARTA, — Di dalam ruang megah Teater Besar Taman Ismail Marzuki, pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, seolah‑olah dinding‑dinding bangunan itu perlahan melebur dan berubah rupa: jauh di sana, samar‑samar terbentanglah permukaan air Danau Maninjau yang tenang namun penuh rahasia, angin pegunungan Agam seolah meluncur masuk membawa hawa asli kampung halaman, dan setiap sudut panggung bernapas serta berdenyut mengikuti irama kisah yang sedang dibentangkan.
Selama dua setengah jam yang terasa sekejap itu, ruangan ini bukan lagi sekadar gedung pertunjukan di ibu kota; ia berubah menjadi panggung sejarah yang hidup — dipenuhi lautan tepuk tangan yang bergema berulang, diselingi gelak tawa yang akrab, dan dibasahi pula oleh butiran air mata haru yang jatuh tulus dari ribuan pasang mata yang terpukau.
Saat itulah Mahakarya Randai Ke‑4 bertajuk “Bujang Sambilan: Legenda Danau Maninjau” menegaskan kemenangannya yang gemilang.
Sebuah pertunjukan kolaborasi epik yang lahir dari semangat membara para anak muda Minangkabau di tanah rantau, berhasil membawa serta seluruh jiwa dan pesona tanah kelahiran terbang jauh melintasi jarak, mendarat dengan gagah di tengah jantung Jakarta.
Di balik keindahan yang terhampar itu, berdiri karya tangan dan pemikiran brilian dua pengarah seni: Jose Rizal Manua dan Joharsen.
Mereka tidak sekadar mementaskan kisah lama, melainkan seolah memanggil kembali roh legenda itu untuk bangkit kembali: meramu dengan sangat halus cerita klasik yang diwariskan turun‑temurun oleh masyarakat Agam, menyatukannya dengan gerakan khas Randai yang berirama, keperkasaan aliran Silat, keanggunan tarian, melodi dendang yang menusuk kalbu, serta denting dan nyanyian magis dari alat musik Talempong. Semuanya terjalin menjadi satu alur narasi yang utuh, kuat, dan memukau hingga ke tulang sumsum.

Dan tentu saja, kisah takkan bernyawa tanpa jiwa‑jiwa yang memerankannya: Anindita Saraswati telah menyatu sepenuhnya dengan kelembutan dan kemuliaan watak Puti Rasani; Ridwan Kainan menghembuskan napas gagah ke dalam sosok Giran; sementara Rio Chan membawa ketegasan dan kewibawaan yang melekat pada Palimo Bayua.
Ketiganya, bersama seluruh barisan pemain, telah berhasil mengangkat kembali kisah yang hampir terpendam debu waktu, membangkitkannya kembali agar berjalan tegap dan berbicara jelas kepada generasi masa kini.
Namun malam itu menyimpan kemuliaan yang lebih besar lagi: panggung ini tidak hanya menjadi tontonan kalangan pencinta seni semata, melainkan juga menjadi tempat pertemuan yang penuh makna bagi para pemegang amanah negara.
Hadir secara langsung dan menyaksikan hingga tuntas adalah Syaiful Bahri — Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, yang datang membawa pesan serta mewakili Gubernur Sumatera Barat; turut hadir pula perwakilan resmi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta; serta Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia di lingkungan Kementerian Dalam Negeri RI.
Kehadiran para tokoh ini bagaikan cap pengakuan resmi dari langit dan bumi: bahwa Randai bukan sekadar kesenian daerah yang hanya berputar di kampung halaman saja — melainkan harta pusaka luhur, kekayaan budaya nasional, dan warisan identitas yang memiliki tempat terhormat dan ruang luas di hati para pemimpin bangsa untuk terus dijaga dan dikembangkan.
Kegemilangan malam ini lahir dari persekutuan luas yang kokoh: hasil kerja sama yang padu antara Sumbar Talenta Indonesia, Gerakan Mudo Minangkabau (GEMUMI), serta Sanggar Sofyani, dan mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Di sini terlihat jelas keajaiban pertemuan dua dunia: akar tradisi yang kuat berpelukan dengan gaya penyampaian dan narasi selera zaman modern — tanpa kehilangan sedikit pun jati dirinya. Penonton yang hadir berdatangan dari berbagai lingkaran: mulai dari keluarga besar komunitas Minang yang merantau di Jakarta, hingga para pengamat dan penikmat seni umum dari berbagai latar belakang budaya.
Dan satu suara serempak meluncur dari bibir mereka semua:
“Hati bergetar dan kulit merinding menyaksikan kekuatan adegan tarian Galodo yang dahsyat itu! Apalagi saat nada pembuka berkumandang lewat suara khas Andha Zulfirman — dendang itu begitu merasuk hingga seluruh penonton tak kuasa menahan diri, ikut menyambung nyanyian bersama bagaikan satu suara raksasa yang memuja tanah air.”
Sebagai mantan penari yang memahami setiap getaran gerakan serta napas di baliknya, Syaiful Bahri mengungkapkan kesan yang paling mendalam: di antara seluruh rangkaian keindahan itu, ada satu momen yang baginya menjadi puncak keagungan malam itu — yaitu penampilan Tari Manggaro Sofyani.
“Karya ini berdiri di puncak keindahan estetika yang pernah diciptakan Sanggar Sofyani,” ujarnya dengan kagum.
“Setiap lekuk gerak, setiap alunan musik, serta setiap makna tersembunyi dalam temanya menyatu sempurna dengan keseluruhan mahakarya ini; seolah‑olah pesan itu memiliki sayap sendiri untuk terbang langsung masuk dan menetap di dalam hati setiap orang yang melihatnya.”
Lebih jauh lagi, beliau menyampaikan pesan yang sangat berharga di tengah zaman yang terus berubah wajahnya:
“Di masa kini, ketika dunia dikelilingi dan dibanjiri oleh gempuran teknologi serta konten buatan kecerdasan buatan, Mahakarya Randai Ke‑4 ini hadir sebagai jawaban yang tegas dan meyakinkan: seni budaya yang ditiupkan napas hidup langsung dari tangan, jiwa, dan pengabdian manusia yang utuh — masih memiliki api suci yang tak akan pernah bisa ditiru, digantikan, atau disalin semata oleh algoritma mana pun.
Jose Rizal Manua dan Joharsen telah membuktikan jalan yang benar: tradisi tidak boleh diam di museum, melainkan harus berjalan beriringan dengan kemajuan seni teater modern agar tetap layak, hidup, dan siap diwariskan sepenuhnya kepada anak cucu kelak.”
Di antara deretan tamu kehormatan yang hadir menyemangati, juga terlihat hadir Armaidi Tanjung — Sekretaris SatuPena; Lusie Sofyan — Ketua Rang Kayo Minang; serta Mira Gusniwarti — Ketua Bundo Kanduang Kabupaten Tanah Datar.
Semuanya tampak berbinar penuh rasa bangga, terharu melihat betapa besarnya pengorbanan waktu, tenaga, dan ketulusan yang diluangkan oleh para pemuda Minang di tanah rantau ini hanya demi satu tujuan: menjaga agar benih budaya tak pernah mati.
Kebanggaan yang sama meluap pula dari dada Sastri Bakry — Pendiri Sumbar Talenta Indonesia sekaligus penggagas awal lahirnya rangkaian Mahakarya Randai ini sejak seri pertama.
Beliau berdiri seiring dengan Agus Siswanto (Ketua GEMUMI) dan Kurniawati (mantan Ketua GEMUMI), memandang bangga bagaimana kekompakan ajaib di antara para penari, penyanyi, pemusik, serta pendendang terus terpelihara rapi dan tetap bersinar gemilang hingga berhasil mencapai puncak ke‑4 ini.
Namun momen paling menyayat hati dan menggetarkan seluruh ruangan disimpan di penghujung pertunjukan: hadir di sana pula istri dan seluruh keluarga besar almarhum Yus Datuk Perpatih Sabatang — sosok petutur dan penjaga kisah asli “Bujang Sambilan” yang telah mewariskan cerita penuh makna ini: kisah yang mengangkat tema fitnah yang menyakitkan, permainan kekuasaan yang buta, kerinduan akan cinta sejati, serta pelajaran tajam tentang betapa seringnya peran dan nasihat para Mamak dalam keluarga kadang dilupakan atau tidak dihargai sebagaimana mestinya.
Di detik‑detik terakhir itu, suasana berubah menjadi hening dan penuh haru saat layar perlahan menyala dan memutar pesan terakhir yang sempat direkam almarhum Datuk Yus sebelum beliau berpulang: sebuah wasiat lembut namun tegas yang terus bergema seolah suaranya masih hadir di antara kita: “Teruslah merawat, melestarikan, dan menghidupkan budaya Minangkabau ini — agar tak pernah putus benangnya dari generasi ke generasi.” 🕊️🤍(Rel#Sp)


