BUNDO KANDUANG LIMPAPEH RUMUAH NAN GADANG: MENJAGA HARGA DIRI RANAH MINANG, MEMPERKUAT SINERGI BERSAMA LAN SUMATERA BARAT

BUNDO KANDUANG LIMPAPEH RUMUAH NAN GADANG: MENJAGA HARGA DIRI RANAH MINANG, MEMPERKUAT SINERGI BERSAMA LAN SUMATERA BARAT

Beritarepublikviral.com //PADANG, — Seolah sebuah cahaya yang meredup perlahan mengundang kegelisahan, Ranah Minangkabau kini merasakan ada awan kelabu yang mulai menyelimuti sudut-sudut kehidupannya. Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang Sumatera Barat meluapkan rasa prihatin yang mendalam, melihat bagaimana nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi napas kehidupan perlahan diuji oleh arus zaman. Fenomena pergaulan yang menyimpang, praktik prostitusi, serta ancaman gelap narkotika seolah berjalan menyusup diam-diam, mencoba mengikis keasrian budaya dan menggoreskan noda pada wajah adat yang selama ini bersinar indah.

Marwah besar yang dibingkai oleh falsafah mulia “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” itu seolah berbisik memohon dijaga, agar tidak ternoda oleh perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama dan warisan leluhur. Oleh sebab itu, Bundo Kanduang tidak tinggal diam; ia mengulurkan tangan, mempererat ikatan kekuatan dengan Badan Koordinasi Anak Nagari (Bakorkan) Kota Padang, serta Lembaga Anti Narkotika (LAN) baik di tingkat provinsi maupun kota. Sebuah langkah cerdas dan penuh kasih, bertujuan membentengi diri melalui pencegahan dan penerangan bagi segenap anak negeri.

Suara tegas namun lembut ini disampaikan oleh Ketua Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang Sumatera Barat, Lidia Fitrina, dalam sebuah pertemuan Konsolidasi dan Dialog Interaktif yang digelar di ruang sidang Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, pada Jumat (12 Juni 2026).

Menurut Lidia Fitrina, persoalan sosial ini tidak boleh dibiarkan berjalan bebas tanpa pengendalian. Di sinilah letak peran sentral kaum ibu dan Bundo Kanduang—mereka adalah madrasah pertama yang membentuk akhlak, benteng pertama yang menjaga hati anak-anak kemenakan dari tergelincir ke jalan yang keliru.

“Bundo Kanduang memikul amanah mulia: menjaga agar generasi muda tidak terjerat dalam lingkaran pergaulan bebas, tidak tergoda oleh racun narkotika, dan tidak tersesat dari jalan kebenaran. Jika keluarga berdiri kokoh, maka Nagari akan tegak lurus; jika Nagari kuat, maka seluruh Sumatera Barat akan tetap berdiri gagah, menjaga adat dan agamanya sebagai nyawa kehidupan,” ujarnya dengan penuh kesadaran.

Ia menegaskan bahwa Bundo Kanduang siap turun melangkah hingga ke pelosok Nagari dan jorong, membawa cahaya pengetahuan, bimbingan, serta penguatan nilai luhur. Sebuah usaha untuk membentengi jiwa muda agar tetap teguh menghadapi tantangan zaman yang kian berliku.

Pertemuan yang sarat makna ini turut dihadiri oleh dua tokoh besar yang menjadi tiang penyangga Ranah Minang: Senator Senior Sumatera Barat sekaligus Dewan Pembina LAN Provinsi, Drs. H. Syamsu Rahim, serta Ketua LKAAM Sumatera Barat sekaligus Dewan Penasehat LAN, Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si, Datuak Sati.

Dalam arahannya, Syamsu Rahim mengingatkan bahwa ancaman narkotika dan perilaku menyimpang itu bagaikan benih rumput liar yang jika dibiarkan akan merambat mematikan tanaman yang subur. Ia menekankan bahwa penanganannya tidak bisa dilakukan sendirian; dibutuhkan langkah bersama yang melibatkan tokoh adat, pemuka agama, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat. Kekayaan budaya dan adat yang dimiliki adalah senjata ampuh, namun ia harus terus dipelihara agar tetap tajam dan bermanfaat bagi generasi penerus.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Fauzi Bahar,M.Si, Datuak Sati, mengingatkan kembali jati diri masyarakat Minangkabau yang sejak dahulu dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi agama dan adat sebagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Oleh karena itu, semua elemen harus bersatu memelihara warisan ini agar tidak terkikis oleh arus luar yang membawa pengaruh buruk. Ia menilai peran Bundo Kanduang sangatlah strategis, dan mengapresiasi langkah nyata yang diambil bersama LAN dan Bakorkan, membangun gerakan yang berakar pada keluarga dan adat.

“Kita tidak boleh hanya menjadi penonton yang diam saja. Adat dan agama harus menjadi tembok pertahanan yang kokoh, melindungi masa depan anak-anak kita dari bahaya yang mengintai,” tegasnya dengan tegas.

Turut hadir memperkuat kebersamaan ini jajaran pimpinan LAN: Ketua LAN Sumbar Firman Sikumbang, Sekretaris Afrialdi Masbiran, SH., M.Hum, Ketua LAN Kota Padang Hj. Yuliar, S.Sos., MM, serta Bendahara Muchsin, S.Sos. Didampingi pula oleh tim pencegahan P4GN, yaitu Muchlis, M. Latief, S.Sos, dan Ipatri Nutmajdi, SP., MP.

Melalui pertemuan ini, terjalinlah kesepakatan yang bulat: mempererat kerja sama, menjaga kesucian moral generasi muda, serta menghidupkan kembali nilai-nilai ABS-SBK dalam setiap langkah kehidupan.

Semoga sinergi yang terjalin ini menjadi kekuatan besar yang tak tergoyahkan, membawa Sumatera Barat menjadi daerah yang bersih dari narkotika, bebas dari perbuatan tercela, dan tetap menjaga kemuliaan adat, budaya, serta agama sebagai harta pusaka yang tak ternilai harganya.(Tb Mhd Arief Hendrawan)