USULAN AKSARA JAWI: NAFAS BARU BAGI JIWA JAM GADANG, BUKITTINGGI- SUMATERA BARAT

USULAN AKSARA JAWI: NAFAS BARU BAGI JIWA JAM GADANG, BUKITTINGGI- SUMATERA BARAT

Beritarepublikviral.com//BUKITTINGGI, — Di tengah hamparan Ranah Minang yang menjulang anggun, berdiri tegak seseorang yang tak kasat mata menjadi saksi bisu zaman: Ruh Jam Gadang.

Selama puluhan tahun, ia menjaga detak waktu dengan setia, menyimpan jejak sejarah di setiap lekuk tubuhnya. Kini, menara agung ini seolah bersiap menyambut sebuah wujud keindahan baru, yang akan menyulam keanggunannya dengan cahaya warisan luhur peradaban Islam.
Apresiasi Wakil Walikota Padang, Maigus Nasir.

Gagasan mulia ini disampaikan oleh Prof. Adj. Yusuf Liu Baojan, Presiden Dunia Melayu – Dunia Islam (DMDI) cabang Tiongkok. Ia membentangkan sebuah visi yang jernih kepada Pemerintah Kota Bukittinggi: menghiasi wajah ikonik ini dengan keelokan aksara Jawi, atau yang dikenal sebagai aksara Arab-Melayu.

Bukan sekadar hiasan yang diam terpaku, melainkan sebuah langkah bermakna yang mengukuhkan kembali jati diri religius dan budaya dataran tinggi ini, tetap menjaga keaslian rupa arsitektur lamanya tanpa mengubah satu pun jiwa yang telah ada.

Melalui pesan yang disampaikan pada 12 Juni 2026, sang cendekiawan mengusulkan agar nama “Jam Gadang” dituliskan indah dalam kaligrafi Jawi, berdampingan dengan pedoman hidup abadi orang Minangkabau:

“Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.

عادت باسندي شراع، شراع باسندي كتاب الله

Ia meyakini, sentuhan seni ini akan bernyawa selaras dengan bahasa leluhur dan nilai-nilai turun-temurun, sekaligus membangkitkan kembali keagungan peradaban yang telah lama bersemayam di bumi Sumatera Barat.

Jembatan Aksara Jawi Melintasi Zaman

Aksara Jawi bukan sekadar rangkaian huruf; ia adalah jembatan yang melintasi jurang waktu, membuka pintu menuju ingatan kolektif bangsa. Selama berabad-abad, aksara ini telah berbicara, menyampaikan pesan damai, mengukir kisah perdagangan, menyebarkan ilmu pengetahuan, dan merangkai kebijaksanaan di seantero Nusantara, sebelum kemudian disandingkan dengan abjad Latin.

Mengembalikan aksara ini ke ruang publik berarti mengembalikan suara sejarahnya sendiri. Jika terwujud, Jam Gadang tak lagi hanya menjadi mesin pencatat waktu, melainkan menjelma menjadi monumen hidup yang memancarkan ketenangan jiwa.

Ia akan menjadi daya tarik yang memikat hati pengunjung dari dekat maupun jauh—terutama kaum perantau keturunan Melayu dan tetangga serumpun dari dunia Islam—yang rindu menyentuh warisan budaya yang asli dan tak lekang dimakan masa.

Gagasan ini lahir dari sebuah momen penuh makna, saat Prof. Adj. Yusuf Liu Baojan menggelar pameran karya kaligrafinya dalam rangka Festival Literasi Minang Internasional ke-4, yang berlangsung 3 hingga 7 Juni 2026 di Bukittinggi.

Sebagai pembicara utama dalam Seminar Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 5 Juni, ia didampingi oleh tim peneliti dan akademisi: Dr. Irwandi dari UIN Bukittinggi, Dr. Albert Nashir dari Universitas Deztron Indonesia, serta Ali Rahman, MH dari UIN Bukittinggi. Bersama mereka, ia menelusuri bagaimana pelestarian ini dapat melahirkan manfaat luas bagi geliat ekonomi dan budaya setempat.

Sebagai bukti kesungguhan, ia telah menyusun rancangan sketsa kaligrafi yang siap dijadikan acuan. Rancangan itu menyampaikan pesan mendalam: kemajuan zaman tidak harus memutuskan tali akar leluhur. Sebaliknya, keduanya dapat melangkah beriringan, berdampingan dalam harmoni yang indah.

Apabila cita-cita ini terwujud, Jam Gadang akan melampaui makna fisiknya. Ia akan menjadi lambang nyata, yang menyuarakan kepada dunia bahwa di sini, di bumi Minangkabau, adat, agama, dan budaya bersatu dalam satu irama yang selaras, menyebarkan kedamaian dan keindahan ke seluruh penjuru.(Irwandi Nashir)