Seminar Internasional Guru: Merajut Harapan Pendidikan di Tengah Gemuruh Kecerdasan Buatan
Beritarepublikviral.com// Bukittinggi, – Di ruang berhawa sejuk dan penuh kenangan Istana Bung Hatta, tempat yang pernah menjadi saksi bisu perjuangan bangsa, kini bergema suara-suara hikmat para pendidik dari dalam dan luar negeri. Bersama merayakan satu abad perjalanan Jam Gadang, tugu yang setia menandai waktu dan sejarah, terselenggarakan pertemuan agung: Seminar Internasional Guru dengan tema besar: “Peluang dan Tantangan Guru di Era Kecerdasan Buatan (AI)”. Sebagai bagian puncak dari rangkaian Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-4 (IMLF-4), acara ini menjadi persimpangan jalan di mana ilmu pengetahuan, teknologi canggih, dan nilai-nilai kemanusiaan saling berpelukan, mencari jawaban atas satu pertanyaan suci: Ke mana arah pendidikan kita berlayar ketika mesin pun mulai bisa berpikir dan meniru akal manusia?
Dipandu dengan arif oleh Dr. Irwandi, M.Pd, diskusi mengalir bagaikan sungai yang jernih, menembus samar batas antara kemajuan zaman dan hakikat mendidik yang sejati.
Forum ini menjadi panggung dialog yang luhur, menyatukan suara para pemikir, pemimpin, dan pendidik dari berbagai penjuru dunia. Mereka menelusuri dua sisi mata uang: betapa dahsyatnya kekuatan teknologi yang mampu mempermudah, mempercepat, dan memperluas wawasan, namun juga betapa rapuhnya nilai kemanusiaan jika dibiarkan terhanyut tanpa kendali. Dari pertemuan ini lahirlah satu kesepahaman bulat: Teknologi adalah sayap yang akan membawa pendidikan terbang tinggi, namun Gurulah yang tetap menjadi kemudi, jiwa, dan nyawa di dalamnya.
Bahwa secanggih apa pun mesin buatan manusia, ia tak akan pernah memiliki hati, tak pernah merasakan kasih sayang, dan tak sanggup menularkan keteladanan—sesuatu yang hanya dimiliki oleh sosok guru yang hadir, menyapa, dan membimbing dengan segenap jiwa.
Suara-suara bijak hadir membawa pengalaman dan pandangan luas, menyusun peta jalan bagi masa depan pendidikan:
Ibnu Asis, S.STP (Wakil Wali Kota Bukittinggi)
Membuka pertemuan dengan bangga dan haru, beliau menegaskan: “Kita berdiri di momen emas seratus tahun sejarah. Transformasi digital bukanlah ancaman, melainkan undangan bagi kita untuk bersiap menjadi yang terbaik.” Beliau mengingatkan agar kecerdasan buatan tidak membuat kita lupa membaca, lupa menulis, dan lupa berpikir mendalam. Guru adalah pelita yang harus tetap menyala, mengarahkan murid menggunakan teknologi dengan bijak, bukan menjadi budak kemudahan sesaat. Di tengah derasnya arus luar, beliau pun berpesan agar tangan pendidik tetap kokoh memegang warisan leluhur: falsafah “Alam Takambang Jadi Guru”, agar jiwa anak bangsa tetap berakar kuat pada tanah kelahiran, meski pikiran mereka terbang menjelajah dunia.
Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa)
Membawa amanah negara, beliau memaparkan jalan strategis: Bahasa dan literasi adalah benteng yang tak boleh runtuh. Di era serba maya ini, guru harus berubah wajah—bukan lagi sekadar pengajar yang menuangkan ilmu, melainkan fasilitator yang cerdas, mampu menyaring banjir informasi, dan menanamkan nilai luhur di tengah samudra konten digital. Beliau pun menegaskan komitmen negara: meratakan kesempatan, agar kemajuan tidak hanya milik satu daerah, tapi menjadi milik seluruh anak negeri.
Mai White (Australia)
Membawa angin segar dari benua seberang, beliau bersama kawan-kawan internasionalnya mengajak kita melihat: Teknologi dan manusia bisa berjalan beriringan. Kecerdasan Buatan adalah asisten yang patuh, bukan pemimpin yang menggantikan. Tantangan terbesar bagi pendidik bukanlah menguasai mesin, melainkan menjaga ketenangan dan kekuatan batin agar tidak goyah, tidak cemas, dan tetap percaya diri menjadi ujung tombak pembentuk peradaban.
Prof. Dr. Lisa Kuitert (Universitas Amsterdam, Belanda)
Sebagai pengamat budaya membaca dunia, beliau mengajak kita merenung: Cara kita menyerap ilmu telah berubah drastis. Di zaman di mana segala jawaban tersaji sekejap mata, kemampuan membaca dengan hati dan berpikir mendalam menjadi harta yang paling mahal. Beliau mengingatkan keindahan sentuhan kertas, aroma halaman buku, dan kedalaman renungan yang tak bisa digantikan oleh layar yang dingin. Tugas guru adalah menjaga api cinta membaca itu tetap menyala hangat, diiringi teknologi sebagai pendukung setia.
Lucilla Trapazzo (Swiss)
Penyair dan penerjemah yang puitis ini berbagi pandangan: Kreativitas manusia adalah bunga yang tak pernah layu. Mesin bisa meniru, tapi tak pernah bisa menciptakan dari rasa, dari luka, dan dari pengalaman hidup. Beliau mengajak kita menjadikan dunia maya sebagai jembatan emas: menyambungkan satu budaya dengan budaya lain, memperkenalkan keindahan sastra dan bahasa kita ke telinga dunia, tanpa pernah kehilangan identitas diri.
Dr. Ganjar Harimansyah (Peneliti Kemendikdasmen)
Menegaskan peran ganda yang berat namun mulia: Bahwa kita harus berani merangkul kemajuan, namun juga berani menjaga kehormatan. Beliau mengingatkan pentingnya kejujuran dan etika, agar kemudahan tidak menjerumuskan pada penipuan atau pencurian karya. Lebih dari itu, teknologi harus menjadi pelindung: merekam, menyimpan, dan menyebarkan bahasa serta sastra daerah agar warisan leluhur tidak hilang ditelan zaman.
Prof. Dr. Silfia Hanani, S.Ag., M.Si (Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek)
Mewakili dunia akademik tuan rumah, beliau memandang pendidikan dengan kacamata sosiologi yang dalam: “Di dalam kelas, terjadi pertukaran jiwa.” Mesin bisa mengajarkan rumus dan fakta, namun hanya gurulah yang bisa menularkan empati, keteladanan, dan kasih sayang. Beliau mendorong lembaga pendidikan untuk berbenah, melatih para pendidik menjadi pelatih teknologi yang bijak, menghapus rasa takut, dan menanamkan keyakinan bahwa kemajuan dan akhlak bisa tumbuh subur berdampingan.

Suasana penuh hikmat ini terukir pada rentang waktu pelaksanaan IMLF-4, berpusat di ruang bersejarah Istana Bung Hatta, Bukittinggi—kota yang kini menjadi panggung dunia, merayakan satu abad keberadaan ikonik Jam Gadang, Jum’at 6 Juni 2026.
Karena kita sedang hidup di masa perubahan yang dahsyat. Segala sesuatu bergerak begitu cepat, hingga sering kali kita lupa bertanya: Untuk apa semua ini kita lakukan? Seminar ini menjadi cermin besar yang mengingatkan: Pendidikan bukan sekadar mencetak manusia yang pintar otaknya, tetapi manusia yang utuh jiwanya. Di tengah gempuran peradaban baru, menjaga peran guru, menjaga bahasa ibu, dan menjaga akhlak mulia adalah kunci agar bangsa ini tidak tercerabut dari akarnya, meski pucuknya menjulang tinggi menembus langit kemajuan.
Sebagai penutup yang menyatukan seluruh gagasan, Dr. Irwandi, M.Pd merangkum dalam kalimat emas yang menusuk kalbu:
“Kecerdasan Buatan bisa membuat pembelajaran menjadi lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih mudah. Namun, hanya sentuhan tangan dan hati gurulah yang mampu membuat pembelajaran itu menjadi bermakna, berjiwa, dan abadi.”
Dari pertemuan ini, kita pulang membawa bekal teguh:
1. Guru Tetap Raja, Teknologi Adalah Hamba: AI hadir untuk meringankan beban, membantu administrasi, dan memperkaya materi, tetapi ia tak akan pernah bisa menggantikan tempat guru sebagai pembentuk karakter.
2. Sentuhan Manusiawi Tak Tergantikan: Kasih sayang, empati, dan keteladanan adalah bahasa yang tidak dimengerti oleh kode pemrograman; ini adalah hak mutlak manusia.
3. Berani Berubah Tanpa Cemas: Guru diajak melangkah keluar dari rasa takut, menjadi pembelajar yang tak pernah berhenti, menguasai teknologi agar bisa membimbing murid dengan cara yang paling bijaksana.
4. Menjaga Akar di Tengah Angin Perubahan: Gunakan alat canggih untuk merawat dan menyebarkan kekayaan budaya, bahasa, serta kearifan lokal, agar ia tetap hidup dan dicintai oleh generasi mendatang.
Demikianlah pesan agung yang terpatri… Bahwa di ujung pena dan jari-jemari guru, masa depan peradaban digoreskan. Biarlah teknologi menjadi sayap yang mengangkat kita terbang tinggi, namun biarlah hati nurani dan nilai luhur tetap menjadi arah yang kita tuju.(Tb Mhd Arief Hendrawan)


