✨ MENJEMPUT DUNIA DI RANAH MINANG: MERAJUT MIMPI PARIWISATA KELAS DUNIA ✨

✨ MENJEMPUT DUNIA DI RANAH MINANG: MERAJUT MIMPI PARIWISATA KELAS DUNIA ✨

Seminar Pariwisata & Ekonomi Kreatif IMLF-4: Tantangan dan Solusi Menuju Kejayaan

Beritarepublikviral.com//Bukittinggi,– Di dalam balai agung Istana Bung Hatta, tempat yang menyimpan aroma sejarah dan kearifan bangsa, suasana berbisik lembut namun penuh semangat. Tepat pukul dua siang, Jum’at 5 Juni 2026, ruangan ini menjadi saksi bisu pertemuan agung: Seminar Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, satu dari puncak acara utama dalam rangkaian Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-4.

Dipimpin dengan baik lagi bijaksana oleh Dra. Zusneli Zubir, M.Hum, forum ini menjadi jembatan emas yang menghubungkan pemikiran dari berbagai penjuru dunia—menyatukan suara pemimpin, cendekiawan, diplomat, dan penggiat seni—dengan satu tekad suci: Mengangkat wajah Sumatera Barat agar dikenal, dicintai, dan dirindukan oleh seluruh penjuru bumi.

Di bawah naungan peringatan seabad usia Jam Gadang, sang penanda waktu yang telah menjadi jiwa kota ini, para pembicara hadir membawa cahaya pemikiran dan pengalaman luas, meramu jalan keluar serta merajut harapan agar pesona alam dan budaya Minang dapat bersinar terang di kancah global.

Ibnu Asis, S.STP (Wakil Wali Kota Bukittinggi) membuka wawasan kita: “Seratus tahun bukanlah waktu yang pendek, ia adalah riwayat panjang yang berharga.” Beliau mengajak kita menjadikan momen ini sebagai sayap untuk terbang lebih tinggi. Melalui persaudaraan budaya dan kreativitas yang tak kenal batas, kita dapat menyambut tamu dunia bukan sekadar sebagai pengunjung, melainkan saudara. Pelayanan yang tulus dan keramahtamahan yang asli, khususnya dari tangan-tangan kreatif UMKM lokal, akan menjadi kenangan manis yang dibawa pulang, sekaligus menjadi kabar baik yang akan disebarkan ke seluruh penjuru dunia.

1. Prof. Dr. Donard Games (Universitas Andalas) menuntun kita dengan ilmu pengetahuan, menegaskan bahwa kekuatan sejati Sumatera Barat terletak pada ketangguhannya. Di tengah tantangan alam yang kadang menguji, dan di tengah derasnya arus zaman, peran perempuan Minang yang tangguh harus terus didorong menjadi kekuatan ekonomi yang kokoh. Teknologi bukanlah musuh, melainkan sahabat yang akan membantu kita bangkit lebih cepat, memperindah karya seni, serta menjaga rasa lezat kuliner warisan leluhur agar tetap terjaga kualitasnya dan dicintai dunia.

2. Al Busyra Basnur (Duta Besar RI untuk Afrika & Uni Afrika) membawa angin segar dari benua seberang: “Dunia ini begitu luas, namun hati manusia bisa disatukan oleh kebaikan dan budaya.” Beliau mengingatkan bahwa diplomasi budaya adalah kunci pembuka pintu. Melalui tangan muda para mahasiswa yang penuh gairah, kita dapat menjangkau benua Afrika dan Timur Tengah, menebar pesan damai, dan menjalin persahabatan yang abadi. Pertemuan antarmanusia adalah jalan terbaik agar keindahan Ranah Minang melekat kuat di hati bangsa-bangsa lain.

3. Prof. Adj. Yusuf Liu Baojun (Akademisi & Seniman, China-Malaysia) hadir membawa jembatan keindahan dan makna yang mendalam. Sebagai seniman kaligrafi dan penulis yang memadukan akar budaya Tiongkok dengan kearifan Islam, beliau melihat Sumatera Barat dengan pandangan yang unik: “Di sinilah pertemuan surga nilai-nilai agama dan kearifan adat, sebuah daya tarik yang tak tertandingi.”
Beliau menegaskan:
– Wisata Religi adalah Cahaya: Perpaduan syariat Islam dan adat yang luhur menjadi magnet kuat bagi jiwa-jiwa pencari kedamaian dari seluruh dunia, khususnya kaum Muslim dan pencinta nilai luhur dari Asia Timur.

– Wisata Literasi adalah Jalan: Meluncurkan buku “Satu Jiwa Abadi di Sumatra”, beliau mengajak kita menuliskan kisah-kisah indah tanah ini dalam berbagai bahasa, agar sejarah, keindahan alam, dan kearifan lokal menjadi bacaan yang merangsang keinginan datang dan menyaksikan langsung.

– Seni adalah Bahasa Universal: Lewat karyanya yang spektakuler, Kaligrafi Sepanjang 100 Meter yang terhampar anggun di Istana Bung Hatta, beliau membuktikan bahwa karya seni yang luar biasa akan memanggil mata dunia untuk menoleh. Atraksi ikonik dan rekor dunia adalah panggilan nyaring yang didengar oleh media dan pencinta seni di mana pun mereka berada.

4. Ferline K. Aris (Pimpinan China Event Organizer) melengkapi strategi ini dengan pandangan tajam: “Keindahan harus dikemas dengan indah pula agar mudah diterima.” Mengemas kekayaan lokal menjadi sajian yang berstandar dunia, memanfaatkan momen emas seperti 100 Tahun Jam Gadang, serta menjalin tangan erat dengan para penyalur perjalanan, akan membuka lebar gerbang kedatangan sahabat-sahabat dari Tiongkok dan negara lain.

5. Nadirsyah Bakri (Ketua ASITA Sumbar) turut mengingatkan peran krusial para pengelola perjalanan. Mereka adalah utusan yang menyusun kisah perjalanan. Agar kepercayaan dunia pulih dan tumbuh, jalanan yang mulus serta akses yang mudah harus disiapkan, sehingga setiap langkah tamu terasa nyaman dan setiap perjalanan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

⚠️ MENGENALI JALAN BERBATU: TANTANGAN YANG HARUS DILALUI

Namun, perjalanan menuju kejayaan tidaklah lurus dan rata. Para pemikir ini bersama-sama melihat rintangan yang menjadi tugas kita untuk meruntuhkannya:

– Jalan yang Belum Bertemu: Konektivitas yang belum sempurna masih menjadi dinding yang membatasi kedatangan tamu dari jauh.

– Keramahtamahan yang Perlu Ditanam: Menjadi tuan rumah kelas dunia berarti menyiapkan senyum, layanan, dan sikap yang mampu menyambut siapa saja, dari mana saja, dengan standar kehalusan yang mendunia.

– Dunia Maya yang Belum Terjamah: Teknologi masih menjadi tanah yang jarang digarap oleh pelaku usaha kreatif kita, padahal di situlah mata dunia sering kali mencari informasi.

– Suara yang Belum Bersatu: Cerita keindahan Sumatera Barat kadang terdengar terpecah-pecah, belum disatukan menjadi satu nyanyian agung yang merdu dan mudah diingat.

💡 MENYULAM HARAPAN: SOLUSI YANG DIRUMUSKAN BERSAMA

Dari perenungan mendalam, lahirlah benih-benih solusi yang kokoh dan terarah:

1. BERGANDENG TANGAN TANPA PANDANG SISI
Pariwisata adalah rumah bersama. Pemerintah, ilmuwan, seniman, pengusaha, hingga lembaga transportasi seperti PT KAI Divre II Sumbar, semuanya harus melangkah serempak. Sinergi Pentahelix ini akan membentuk kekuatan yang tak tergoyahkan.

2. MENJADIKAN ACARA SEBAGAI PANGGILAN DUNIA
Momen besar seperti IMLF-4 dan seabad Jam Gadang bukan sekadar perayaan, melainkan panggung dunia. Para delegasi yang hadir adalah duta-duta tak resmi yang akan membawa nama baik Sumatera Barat terbang tinggi ke negara asal mereka.

3. MENGANGKAT LOKAL MENJADI GLOBAL
Adat, seni, dan budaya Minangkabau adalah emas asli. Kemaslah dengan rasa hormat dan kreativitas, jangkau saudara-saudara seperadaban hingga ke negeri seberang, agar identitas ini menjadi kebanggaan yang diakui dunia.

4. MEMASUKI GERBANG DIGITAL
Melek teknologi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Mengajak pelaku usaha untuk mengenal, memahami, dan memanfaatkan dunia maya, agar produk unggulan kita dapat langsung bersapa dan terhubung dengan pembeli dari benua mana pun.

Sebagai penutup yang manis dan penuh makna, kesepakatan indah terjalin: Ikrar kerjasama literasi antara Universitas Mohammad Natsir dan Panitia IMLF-4, serta janji teguh untuk terus memuluskan jalan bagi setiap tamu yang datang.

Maka, biarlah alam yang indah, budaya yang anggun, dan keramahan yang tulus ini bersatu menjadi satu nyanyian agung: Sumatera Barat hadir menyambut dunia, dan dunia pun kelak akan datang berdatangan mencintai Ranah Minang. 🚂🌏✨
(Tb Mhd Arief Hendrawan)