SEMINAR 100 TAHUN JAM GADANG: MENYULAM MASA LALU, MEMBANGUN MASA DEPAN

SEMINAR 100 TAHUN JAM GADANG: MENYULAM MASA LALU, MEMBANGUN MASA DEPAN

Beritarepublikviral.com//Bukittinggi, – Di tengah hembusan angin pagi yang membawa kesejukan dan harum tanah Ranah Minang, Balairung Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi berdiri tegak menyambut. Ia bukan sekadar bangunan batu dan kayu, melainkan saksi bisu yang kini membuka lembaran baru—menyatukan jejak sejarah, keindahan budaya, dan cita-cita peradaban dalam satu ruang yang penuh makna.

Pada hari Kamis 4 Juni 2026 tepat pukul 08.30 pagi, ketika mentari mulai menaiki tangga langit, seminar peringatan seabad keberadaan Jam Gadang dibuka dengan khidmat.

Sebagai bagian dari rangkaian agung Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-4, peristiwa ini mengajak kita semua untuk tidak sekadar membaca sejarah, melainkan merasakannya berdenyut di dalam dada—seolah waktu berhenti sejenak, memutar kembali kisah seratus tahun yang telah dilalui.

Balairung itu sendiri tampak anggun memadukan dua dunia. Pilar-pilar tingginya berdiri kokoh bagaikan penjaga setia, menyimpan pesan masa lalu, sementara dindingnya yang putih bersih memancarkan kesucian dan keterbukaan.

Jendela-jendela lebar membuka lebar, membiarkan cahaya pagi masuk dengan lembut membelai setiap sudut ruangan, berpadu dengan ukiran khas Nusantara yang berbisik lirih:
“Di sini, warisan leluhur tetap berdiri tegak, meski zaman terus berubah.”

Suasana semakin menyentuh hati ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang, disusul alunan Mars Sumatera Barat yang mengalun merdu. Suara itu seakan menyatu menjadi satu napas, membangkitkan rasa bangga yang membuncah, mengingatkan kita akan akar yang kokoh dan tanah yang telah memeluk kita sejak lahir.

Dipandu dengan luwes dan penuh kehangatan oleh Fetty Fajriati, diskusi pun mengalir bagaikan sungai yang jernih, hidup namun tetap terjaga kehormatannya.

Berbagai suara bijak hadir menyumbangkan cahaya pikiran:

Denny Abdi (Sekjen Kementerian Luar Negeri) membawakan pandangan luas, menyampaikan bahwa literasi adalah jembatan yang menghubungkan benua, dan budaya adalah bahasa universal yang mampu menjalin persahabatan di antara bangsa-bangsa dunia.

• H. Ramlan Nurmatias (Wali Kota Bukittinggi) mengajak kita melihat lebih dekat, mengungkapkan bahwa Jam Gadang bukan sekadar penanda jam, melainkan wajah kota, simbol perjalanan waktu, dan utusan budaya yang telah membawa nama Bukittinggi dikenal hingga ke seberang samudra.

• Prof. Gusti Asnan memaparkan lembaran sejarah dengan penuh kehati-hatian, mengingatkan bahwa di balik setiap batu yang tersusun ada kisah pelayaran, perjumpaan, dan kearifan lokal yang tak ternilai harganya.

Arnaud Kokosky Deforchaux dari Belanda hadir membawa pandangan seni, bercerita bagaimana keindahan warisan masa lalu mampu mengenakan pakaian baru dan tetap memukau hati orang-orang di penjuru dunia.

Berthold Damshäuser dari Jerman berbicara sebagai jembatan kata, menceritakan bagaimana puisi dan pemikiran dari tanah ini telah menemukan tempatnya di hati para pencinta ilmu di Eropa.

• Dr. Les Wicks dari Australia mengingatkan bahwa menanam minat baca dan menulis adalah menabur benih perdamaian, yang akan tumbuh menjadi pohon kebaikan yang memberi manfaat bagi generasi yang akan datang.

• Nanang Asfarinal mengajak kita merawat apa yang telah ada, menjelaskan bahwa menjaga warisan budaya ibarat menjaga nyawa identitas—agar kita tidak kehilangan arah saat berjalan melangkah ke depan.

Mereka bersama-sama membuka tabir makna: Jam Gadang yang berdiri menjulang itu menyimpan lebih dari sekadar hitungan detik. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah masyarakatnya, menyimpan cerita suka dan duka, serta menjadi pengingat bahwa waktu berjalan terus, namun nilai-nilai luhur harus tetap terjaga.

Hadirin yang berdatangan dari berbagai penjuru—para pemimpin daerah, utusan mancanegara, pencinta sejarah, dan penggiat literasi—menyimak dengan penuh perhatian. Seolah dentang loncengnya terdengar jelas di telinga batin mereka, mengingatkan bahwa perjalanan panjang seratus tahun ini bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru yang lebih gemilang.

Dan inilah keistimewaan Bukittinggi: ia tidak hanya menyuguhkan keindahan alam dan bangunan, tetapi juga keramahan yang menyentuh hati. Para pemimpinnya hadir bukan sebagai penguasa yang jauh, melainkan sebagai tuan rumah yang menyapa dengan senyum dan keakraban, membuat setiap tamu merasa seolah berada di antara keluarga sendiri.

Maka tak heran jika kota ini selalu memiliki tempat istimewa di sanubari banyak orang. Sebab Jam Gadang, Benteng Fort de Kock, dan seluruh keindahan Bukittinggi bukanlah sekadar nama yang tertulis di peta. Ia adalah roh yang hidup, terus berdenyut, mewariskan kenangan, dan mengajarkan satu kebenaran agung: Waktu boleh berjalan tak terhenti, namun sejarah dan warisan akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup, dicintai, dan diteruskan.(Tb Mhd Arief Hendrawan)