BERITAREPUBLIKVIRAL.COM – JAKARTA — Kekuasaan di Kabupaten Kepulauan Sula tampaknya sedang berjalan tanpa kompas moral. Ketika kritik objektif dibalas dengan represi, dan suara mahasiswa dianggap ancaman, maka sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukan kepemimpinan—melainkan ketakutan yang dibungkus arogansi.
Tindakan membungkam gerakan kritis Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kepulauan Sula bukan sekadar dinamika politik lokal. Ini adalah sinyal bahaya: bahwa kekuasaan mulai alergi terhadap kebenaran. Lebih jauh, ini adalah deklarasi diam-diam bahwa rezim lebih memilih mempertahankan citra dibanding memperbaiki substansi.
Menghadapi mahasiswa dengan pendekatan represif adalah kesalahan fatal. Sejarah telah berulang kali membuktikan, tekanan tidak pernah melahirkan kepatuhan jangka panjang—ia justru menumbuhkan keberanian kolektif. Setiap intimidasi adalah pupuk bagi solidaritas, setiap upaya pembungkaman adalah bahan bakar bagi perlawanan.

(Mahasiswa Magister Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta)
Ironisnya, semua ini terjadi di tengah perayaan hari jadi daerah. Ketika panggung-panggung seremonial dipenuhi pujian dan gemerlap simbolik, realitas ketimpangan justru disapu ke bawah karpet kekuasaan. Di balik kemegahan itu, tersimpan kecemasan: bahwa legitimasi mulai rapuh dan kepercayaan publik perlahan terkikis.
Langkah represif aparat dan tekanan struktural yang diarahkan kepada aktivis sejatinya adalah percikan api di tengah alang-alang kering. Sula hari ini adalah ruang yang kering akan transparansi dan keadilan. Dalam kondisi seperti ini, satu tindakan sewenang-wenang saja cukup untuk menyulut gelombang perlawanan yang tak terkendali.
Ketegasan IMM Kepulauan Sula dalam mengawal kasus hukum termasuk desakan penuntasan dugaan korupsi Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) pada Belanja Tidak Terduga (BTT) Tahun 2011 menunjukkan bahwa nalar kritis tidak bisa dibeli, apalagi ditakut-takuti. Ini adalah cermin bahwa masih ada kekuatan moral yang berdiri tegak di tengah kompromi kekuasaan.
Alih-alih menjawab kritik dengan transparansi dan pembenahan, elite justru mempertontonkan watak anti-kritik yang primitif. Teriakan kebenaran yang menggema bahkan dari ruang simbolik seperti Benteng De Verwachting adalah bukti bahwa suara rakyat tidak pernah benar-benar bisa dibungkam. Ia akan selalu menemukan jalannya—bahkan jika harus mengguncang singgasana kekuasaan itu sendiri.
IMM Kepulauan Sula hari ini bukan sekadar organisasi mahasiswa. Ia adalah benteng intelektual bagi kaum mustad’afin, representasi dari harapan rakyat yang terpinggirkan. Tekanan yang datang justru akan menempa mental juang mereka menjadi lebih solid dan tak tergoyahkan.
Pada akhirnya, ini adalah peringatan keras bagi para pemangku kebijakan: jangan pernah menantang badai hanya dengan berbekal ilusi kekuasaan. Sebab ketika rakyat dan mahasiswa bersatu dalam kesadaran kolektif, tidak ada tembok kekuasaan yang cukup kuat untuk membendung gelombang perubahan.
Dan jika genderang perlawanan sudah ditabuh, maka yang tersisa hanyalah dua pilihan: berubah, atau tumbang.

