Beritarepublikviral.com// LIMAPULUH KOTA, – Langit di wilayah Kabupaten Limapuluh Kota seolah tak henti-henti mencurahkan isinya. Hujan turun tiada lelah membasahi bumi selama berhari-hari, hingga akhirnya alam pun tak sanggup lagi menampungnya. Air yang jatuh dari awan berubah menjadi kekuatan yang menghempas, melahirkan bencana yang meratap di sejumlah penjuru daerah ini.
Di Situjuh Limo Nagari hingga Nagari Situjuh Ladang Laweh, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, tanah longsor merayap turun menimpa hamparan sawah warga. Badan jalan seakan dimakan oleh lumpur dan air, memutus jalinan akses penghubung, sehingga nagari ini pun terasing sejenak dari dunia luar.
Sore itu, Jumat (15/5/2026), kabar duka kembali datang dari Nagari Tungkar. Air bah turun meluncur deras dari puncak gunung, seolah tak mau tahu akan harapan yang telah ditanam warga. Ia melindas hamparan sawah yang hijau subur, di mana bulir padi telah mengembang menanti waktu panen. Bukan hanya itu, kolam-kolam pemeliharaan ikan serta lubuk-lubuk ikan larangan di perairan umum pun direnggut arus, membawa serta kerugian yang tak sedikit ke dalam derasnya sungai.
Di antara jajaran sungai yang ada di Limapuluh Kota, Sungai Batang Sandir menjadi yang paling lantang menderas. Berhulu dari dataran Kabupaten Tanah Datar dan bermuara ke Sungai Batang Agam, Payakumbuh, sungai ini seolah bangkit dari tidurnya sejak Rabu (13/5/2026). Dihantam hujan deras yang tak berhenti hingga Jumat, airnya terus meluap, berwarna cokelat keruh dan bergulung ganas—yang oleh warga setempat dikenal sebagai Batang Aia Pondam.
Menurut Penjabat Wali Nagari Tungkar, Syafriwan, luapan sungai ini bukan sekadar banjir biasa. Alirannya yang kuat telah memutus pipa-pipa Pamsimas, sumber kehidupan air bersih bagi ratusan rumah warga. Ia juga merusak lubuk ikan kelolaan Pokmawas Pondam dan merendam persawahan, bahkan tak berhenti pada tanaman muda saja, padi yang hampir siap dipetik pun ikut terbenam.
Dua petani yang hatinya terguncang, Efa dan Yusni Ancok, menatap hamparan sawah mereka dengan mata berkaca. “Seminggu lagi, padi kami sudah siap dipanen… tapi apa daya, banjir datang meluluhlantakkan semuanya. Hilang sudah jerih payah kami,” ucap mereka lirih, penuh harap uluran tangan pemerintah datang membantu.
Amukan air dan hujan itu tak berhenti di satu tempat. Rabu malam lalu, tiga jorong di Nagari Tungkar—Taratak, Sialang, dan Dalam Nagari—juga menjadi saksi. Jalan kabupaten runtuh diterjang banjir, jalan usaha pertanian tertimbun tanah longsor, dan halaman rumah warga pun amblas digerogoti arus yang rakus.
Melihat kenyataan yang memilukan ini, Anggota DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, datang langsung meninjau lokasi dengan hati prihatin. Ia meminta Pemerintah Daerah segera menetapkan status tanggap darurat. Pasalnya, bencana ini telah merambah ke berbagai kecamatan dan mengancam mata pencaharian warga, sehingga butuh penanganan cepat dan tepat sasaran.
“Pemkab harus segera menetapkan status tanggap darurat agar dapat mengaktifkan Dana Biaya Tak Terduga sebesar Rp2,5 miliar dari APBD 2026. Ini pintu agar kita bisa segera mengerahkan bantuan dari BNPB, Pemprov Sumbar, hingga Balai Wilayah Sungai Sumatera V,” tegas Fajar.
Ia juga telah bergerak cepat: selain berkoordinasi dengan Bupati, laporan ini langsung disampaikannya kepada Anggota DPR RI Zigo Rolanda dan BWS Sumatera V di Padang. Dua tahun silam, sungai ini pernah dibenahi, namun baru terbukti: bagian yang dinormalisasi masih aman, sedangkan yang belum tersentuh perbaikan justru paling parah rusaknya.
“Kami berharap BWS Sumatera V kembali hadir menata Sungai Batang Sandir. Bukan hanya demi keselamatan warga di sini, tapi juga untuk menjaga keberhasilan normalisasi Batang Agam di Payakumbuh yang sedang berjalan,” harap Fajar dengan tulus.(Laporan : Tb Mhd Arief Hendrawan)

