Rektor Efa Yonnedi: Ijazah Membuka Pintu, Namun Karakterlah yang Membuat Bertahan
Beritarepublikviral.com// PADANG, โ Di bawah naungan pohon-pohon tua yang menjulang gagah dan halaman kampus yang penuh kenangan, Universitas Andalas (UNAND) kembali menuliskan lembaran emas sejarah pendidikan. Gedung Auditorium Limau Manis bergetar penuh khidmat dan haru, menyaksikan prosesi Wisuda II Tahun 2026 yang digelar selama dua hari, 9 hingga 10 Mei lalu. Sebanyak 1.321 putra-putri terbaik resmi dilepas ke pangkuan masyarakat, membawa serta ilmu, mimpi, dan harapan besar yang telah ditempa selama bertahun-tahun di kampus tertua di luar Pulau Jawa ini.
Momen agung ini merangkul lulusan dari berbagai jenjang ilmu: mulai dari Diploma III, Sarjana, Profesi, Spesialis, Magister, hingga Doktor. Mereka lahir dari rahim 156 program studi yang tersebar di 15 fakultas, mewakili kekayaan wawasan dan keberagaman keahlian yang menjadi kebanggaan tanah air. Hari itu, kampus ini seolah tersenyum bangga, melepas anak-anaknya yang telah menuntaskan perjalanan panjang akademiknya, bertransformasi dari sekadar mahasiswa menjadi insan berilmu yang siap melangkah ke panggung dunia.
Dalam suasananya yang menyentuh sanubari, Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Efa Yonnedi, S.E., M.M., berdiri tegas di mimbar kehormatan, menyampaikan pesan yang bergema bagai seruan sang pelaut kepada awak kapalnya yang akan berlayar luas ke samudra kehidupan. Beliau menegaskan, bahwa prosesi wisuda ini bukanlah garis akhir dari perjuangan, melainkan gerbang pembuka perjalanan baru, sebuah titik tolak menuju tantangan hidup yang sesungguhnya, yang jauh lebih luas dan dinamis daripada dinding-dinding ruang kuliah.
“Anak-anakku tercinta, ketahuilah: Ijazah itu ibarat kunci yang mampu membuka pintu-pintu kesempatan, namun bukan jaminan keberhasilan. Justru karakter, integritas, budi pekerti, kemampuan berkomunikasi, dan semangat belajar yang tak pernah padam itulah yang akan membuat kalian mampu bertahan, tumbuh, dan berkembang di tengah gelombang dunia kerja yang senantiasa berubah rupa,” ujar Rektor di hadapan ribuan wisudawan dan keluarga yang memenuhi ruangan, suaranya memantul dan menembus ke dalam hati setiap hadirin.
Suasana semakin larut dalam haru saat Rektor menceritakan sebuah kisah nyata yang menyentuh jiwa: tentang perjuangan sebuah keluarga yang menempuh perjalanan jauh, melewati bukit dan lembah, hanya demi bisa berdiri dan menyaksikan momen suci kelulusan anaknya. Lewat cerita itu, beliau mengingatkan kita semua, bahwa keberhasilan sejati tidak lahir dari kerja keras mahasiswa semata. Di balik setiap gelar yang disandang, tersimpan keringat, air mata, pengorbanan, dan doa-doa tulus keluarga yang menjadi tiang penyangga terkuat di belakangnya.
Tak hanya melepas lulusan, pidato Rektor pun menjadi panggung kebanggaan bagi almamater. Beliau memaparkan betapa Universitas Andalas terus melesat menanjak tinggi, namanya kian bersinar di kancah nasional maupun internasional. Saat ini, UNAND telah memegang akreditasi institusi tertinggi “Unggul” dari BAN-PT yang berlaku hingga tahun 2028, sebuah bukti mutu yang tak terbantahkan.
Prestasi gemilang pun terukir nyata dalam pemeringkatan bergengsi Times Higher Education (THE) 2025, di mana UNAND kokoh duduk di peringkat ke-8 tingkat nasional. Tak berhenti di situ, di peta dunia pun nama UNAND tercatat gagah di jajaran 201โ250 dunia untuk kategori Interdisciplinary Science Ranking, membuktikan bahwa ilmu yang dikembangkan di tanah Minang mampu bersanding sejajar dengan universitas-universitas besar di dunia.
Seiring berjalan waktu, kampus ini pun terus berubah wajah, menari mengikuti irama zaman lewat transformasi digital yang masif. Kini, tanda tangan elektronik telah memeluk setiap lembar ijazah, sistem layanan mahasiswa MyUNAND berjalan cerdas di genggaman tangan, sistem keuangan SAKU Digital bekerja dengan gesit, hingga pusat layanan terpadu hadir melayani dengan senyum dan kemudahan. Semua ini dilakukan agar para lulusan kelak tak canggung menghadapi dunia yang kian dijalari teknologi dan kecerdasan buatan.
Menanggapi tantangan zaman yang serba cepat berubah itu, Rektor berpesan dengan bijak: “Jangan pernah malu atau takut memulai langkah dari titik paling bawah. Dunia tidak menilai kalian dari mana kalian memulai, melainkan bagaimana cara kalian belajar, beradaptasi, dan berkembang dari titik awal itu. Kemauan keras, pengalaman yang dibangun, dan reputasi yang dijaga baik sejak hari pertama, itulah modal emas yang akan mengantarkan kalian pada kesuksesan.”
Sebagai bukti nyata komitmen UNAND dalam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan pendidikan inklusif, momen bersejarah juga terukir hari itu. Seorang wisudawan yang memiliki keterbatasan pendengaran turut diwisuda dengan penuh kehormatan, didampingi langsung oleh juru bahasa isyarat sepanjang acara berlangsung. Kehadiran beliau menjadi bukti hidup, bahwa ilmu itu cahaya yang terang benderang untuk semua kalangan, tanpa sekat, tanpa diskriminasi, dan terbuka lebar bagi siapa saja yang berniat menuntutnya.
Dengan dilepasnya 1.321 putra-putri terbaik ini, Universitas Andalas kini menaruh harapan besar: agar para alumni kelak tumbuh menjadi generasi yang tak hanya tajam akal dan cerdas intelektualnya, namun juga matang emosinya, kokoh karakternya, dan mampu menjadi pelita yang menyebarkan manfaat luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. (Tb Mhd Arief Hendrawan)


