🌱 PETUALANGAN RASA: KETIKA HATI MUDA MENEMUKAN SINAR DALAM DIRI

🌱 PETUALANGAN RASA: KETIKA HATI MUDA MENEMUKAN SINAR DALAM DIRI

Mahasiswa dan Mahasiswi UNP Hadir di Tengah Anak-anak Lapai: Misi Menemukan Versi Hebatku

Beritarepublikviral.com// Padang, – Bertempat di jalan Cinduamato Nomor 13, Kelurahan Lapai, Kota Padang, Sekretariat Sekolah Talenta pagi ini tak lagi diam. Dinding-dinding yang biasanya hanya berdiri tegak menyimpan cerita, pagi ini ikut tersenyum lebar, dihiasi warna-warni harapan yang cerah.

Udara pagi yang sejuk berhembus pelan, seolah membawa pesan bahagia, menyapa setiap sudut ruangan yang kini dipenuhi tawa riang dan cahaya mata berbinar. Sebuah spanduk besar terbentang gagah, bertuliskan “PETUALANGAN RASA: Misi Menemukan Versi Hebatku”, menjadi gerbang cahaya yang mengundang setiap jiwa yang hadir untuk masuk ke dalam perjalanan indah mengenal diri sendiri.

Inilah wajah nyata pengabdian, inilah bukti cinta anak muda kepada sesama. Mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Negeri Padang (UNP) hadir membawa semangat yang membara, melaksanakan pengabdian masyarakat yang bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah perjalanan jiwa yang dirancang khusus untuk anak-anak di lingkungan ini. Di bawah bimbingan dan asuhan penuh kasih dari Ibu Sastri Yunizarti Bakry, sosok yang senantiasa menyalakan lentera ilmu dan kepedulian, kegiatan ini bertransformasi menjadi ruang tumbuh yang ajaib, di mana setiap kata yang terucap dan setiap permainan yang dilakukan seolah memiliki nyawa untuk menyentuh hati.

Pukul tujuh pagi, kegiatan pun dibuka. Di tengah ruangan yang hangat, tampak sosok Ibu Sastri, memegang mikrofon dengan tangan yang lembut namun tegas. Suaranya bergema lembut, menembus keheningan pagi, memeluk setiap anak yang duduk bersimpuh di lantai dengan penuh perhatian. Wajah-wajah polos itu menatap penuh rasa ingin tahu, seolah mata mereka bertanya: “Petualangan rasa seperti apa yang akan kita lalui hari ini?”

Dalam sambutannya, Ibu Sastri berbicara seolah-olah setiap rasa dan emosi itu adalah sahabat yang perlu dikenali. Ia bercerita bahwa di dalam dada setiap anak, tersimpan lautan perasaan yang luas: ada rasa gembira yang menari riang, ada rasa sedih yang diam menangis, ada rasa marah yang berteriak minta diperhatikan, dan ada rasa takut yang bersembunyi di balik keraguan.
“Anak-anakku sayang,” ucapnya dengan nada yang membelai kalbu, “Rasa-rasa itu bukan musuh, melainkan penunjuk jalan. Mengetahui rasa berarti mengenal diri, dan mengenal diri adalah kunci emas untuk menemukan ‘Versi Hebatku’—versi diri yang paling berani, paling kuat, dan paling indah.”

Di sekelilingnya, para mahasiswa/mahasiswi bertindak sebagai sahabat dan kakak pembimbing. Mereka bergerak dengan hati-hati dan penuh kasih, duduk sejajar di lantai, meruntuhkan sekat jarak, menjadikan diri mereka jembatan penghubung antara ilmu psikologi yang mendalam dengan bahasa sederhana yang bisa dimengerti oleh jiwa-jiwa kecil itu. Warna-warni alat peraga ikut bercerita, gambar-gambar indah bernyanyi menceritakan kisah, dan permainan yang disusun pun seolah hidup, mengajak anak-anak berinteraksi, mengekspresikan apa yang ada di hati, dan berani berbicara tentang apa yang mereka rasakan.

Suasana di ruangan itu menjadi begitu magis. Dinding yang dihias lukisan ceria seolah ikut tersenyum melihat kehangatan itu. Cahaya matahari pagi yang masuk lewat celah jendela, jatuh tepat di atas kepala anak-anak, seakan langit pun ikut memberkati momen berharga ini. Di sini, pengabdian bukan sekadar memberi, melainkan saling menerima. Para mahasiswa belajar tentang ketulusan dan kesederhanaan, sementara anak-anak mendapatkan bekal berharga: kemampuan memahami diri sendiri, mengelola emosi, dan percaya bahwa mereka istimewa dengan segala keunikan yang dimiliki.

Kegiatan “Petualangan Rasa” ini menjadi bukti nyata, bahwa pendidikan dan kepedulian tidak hanya berlangsung di ruang kelas perguruan tinggi. Ia juga tumbuh subur di tengah masyarakat, menyusup masuk ke ruang-ruang kecil seperti di Jalan Cinduamato ini, menanam benih-benih kesadaran yang kelak akan tumbuh menjadi pohon besar ketahanan jiwa.

Melalui asuhan Ibu Sastri Yunizarti Bakry, terlihat jelas bagaimana ilmu pengetahuan dipadukan dengan kasih sayang, menjadikan setiap materi yang disampaikan memiliki daya hidup yang luar biasa. Pesan agung yang tersampaikan hari ini begitu mendalam: Bahwa menjadi hebat tidak harus menjadi orang lain, melainkan cukup menjadi diri sendiri yang paling baik, yang paling mengerti, dan yang paling mampu membawa kedamaian bagi diri dan lingkungan.

Saat kegiatan berakhir dengan senyum yang tak lepas dari bibir dan hati yang penuh sukacita, Sekolah Talenta kembali hening, namun kini menyimpan cerita baru yang indah. Cerita tentang pagi di mana hati-hati muda bertemu, saling menyentuh, dan sama-sama belajar: Bahwa di dalam diri kita, tersimpan kekuatan besar yang menunggu untuk ditemukan—kekuatan yang lahir dari pemahaman, kasih sayang, dan keberanian menjadi diri sendiri.(Tb Mhd Arief Hendrawan)