Menyap 35 Negara: Simbol Budaya Kabupaten Padang Pariaman Siap Rangkul Delegasi IMLF-4
Beritarepublikviral.com// Padang Pariaman, – Sebuah kabar gembira berhembus sejuk bagai angin pantai Pariaman, membawa pesan kebanggaan yang bergema dari ujung ranah hingga ke penjuru dunia. Cik Ajo dan Cik Uniang, sang duta budaya kebanggaan Kabupaten Padang Pariaman, kini berdiri tegak dengan hati yang penuh sukacita, siap menebarkan senyum dan keramahan khas tanah kelahiran mereka. Mereka telah dititipi amanah mulia: menjadi wajah terdepan yang akan menyambut kedatangan lebih dari 200 delegasi dari 35 negara berbeda, yang akan memadati Bandara Internasional Minangkabau pada tanggal 3 Juni 2026 mendatang, dalam rangka pembukaan agung Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-4 (IMLF-4).
Berita ini diungkapkan langsung oleh Aditya Seprianto, sosok yang menyandang gelar kehormatan Cik Ajo Padang Pariaman Tahun 2024. Dengan nada suara yang bergetar bangga, ia menceritakan bahwa persiapan telah melangkah jauh. Bersama penyelenggara IMLF-4, para pemangku kepentingan, serta Cik Uniang Faradisa Safira Augisty, gladi kotor telah digelar pada Kamis, 7 Mei 2026 lalu. Di Bandara Internasional Minangkabau dan Stasiun Kereta Api BIM, langkah-langkah indah dan senyum ramah telah dilatih, seolah-olah dinding-dinding bangunan ikut tersenyum melihat persiapan indah itu, dan landasan pacu pun seolah berbisik siap menyambut pesawat-pesawat pembawa tamu agung itu.
“Alhamdulillah, hati ini membuncah bahagia. Kami, wakil Padang Pariaman, dipercaya menjadi jembatan kasih sayang pertama bagi tamu-tamu dunia ini,” ujar Aditya, mahasiswa semester 8 jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di STKIP YDB Lubuk Alung, pemuda kelahiran Lubuk Alung 6 September 2002 itu. Baginya, peran ini bukan sekadar tugas, melainkan ladang ilmu yang luas. “Di sini saya belajar meniti kata-kata asing agar terdengar indah, belajar merangkai bahasa tubuh yang sopan, dan memahami seni melayani tamu sebaik tuan rumah menyambut kerabat jauh. Semoga langkah IMLF-4 ini terus tumbuh menjulang kokoh, menjadi pohon besar yang meneduhkan kebudayaan kita, dan senantiasa sukses mewariskan pesan damai ke seluruh dunia,” tambahnya dengan pandangan penuh harap.
Di sisi lain, Faradisa Safira Augisty, sang Cik Uniang Padang Pariaman 2024, memandang amanah ini sebagai sebuah kemuliaan besar yang tak ternilai harganya. Sebagai mahasiswi semester 6 jurusan Tata Rias dan Kecantikan di Universitas Negeri Padang, gadis kelahiran Padang 8 Agustus 2004 ini menyadari betul, bahwa kehadirannya bukan hanya menampilkan keelokan raga, namun keindahan jiwa dan budaya yang tersimpan di baliknya.
“Ini adalah panggung agung bagi kami,” ungkap Faradisa lembut namun tegas. “Lebih dari sekadar wawasan dan pengalaman, kesempatan ini adalah panggilan jiwa untuk mengajarkan dunia: betapa indahnya keramahan orang Minang, betapa tingginya nilai sopan santun kami, dan betapa kayanya budaya yang kami miliki. Melalui senyum dan sapaan kami, kami ingin menanamkan benih-benih cinta dan rasa hormat terhadap adat istiadat Minangkabau di hati setiap delegasi yang datang.”
Anton Wira Tanjung, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Padang Pariaman, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas kepercayaan yang dilimpahkan. Baginya, Bandara Internasional Minangkabau bukan sekadar bangunan tempat pesawat mendarat, melainkan gerbang emas Kabupaten Padang Pariaman, tempat di mana Sumatera Barat pertama kali menyapa dunia.
“Melibatkan Cik Ajo dan Cik Uniang adalah langkah cerdas dan indah,” ujar Anton. “Mereka adalah perwakilan jiwa muda kami yang berbudaya. Lewat mereka, Padang Pariaman berbicara, lewat mereka potensi kami bernyanyi, dan lewat mereka keindahan adat istiadat kami terpampang gagah di mata internasional. Inilah cara kami memperkenalkan diri: lewat wajah-wajah ceria yang membawa pesan kebaikan.”
Armaidi Tanjung, selaku Sekretaris IMLF-4, menegaskan bahwa momen kedatangan delegasi ini telah disusun sedemikian rupa agar setiap detiknya terasa magis dan berkesan abadi. Tak hanya sekadar turun dari pesawat, para tamu dunia akan disuguhi rangkaian acara yang bernyawa: tarian penyambutan yang gerakannya bercerita, pemasangan tingkuluak dan deta sebagai perhiasan kehormatan, prosesi registrasi yang hangat, hingga pembacaan puisi di Stasiun Kereta Api BIM yang akan membuat kata-kata bergetar menyentuh kalbu.
Kamis lalu, ia bersama jajaran penting telah turun langsung meninjau lokasi: mulai dari Kepala Stasiun BIM, Afrizal; Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Padang, Viola; perwakilan PT Angkasa Pura Indonesia BIM yang dipimpin Rachmad; Kantor Otoritas Bandar Udara; Balai Pengelolaan Transportasi Darat; Cabang Damri Padang; Dinas Pariwisata Padang Pariaman; hingga kehadiran istimewa Cik Ajo, Cik Uniang, dan para relawan yang siap sedia. Semua elemen bergerak serasi, bagaikan orkestra besar yang sedang menyusun nada-nada indah penyambutan.
Kini, Aditya dan Faradisa berdiri bersanding, siap menjadi cahaya penerima tamu. Di tangan merekalah tersemat harapan besar: agar setiap delegasi yang melangkahkan kaki di tanah Minang, akan pulang membawa kenangan manis, bahwa di sudut dunia ini, ada Padang Pariaman yang indah, ada Cik Ajo dan Cik Uniang yang ramah, dan ada budaya yang begitu mempesona hingga takkan lekang oleh waktu.(Rel)


