Beritarepublikviral.com // Banjarmasin, 9 Mei 2026 — Dugaan kecurangan dalam proses penjaringan bakal calon rektor (balon rektor) di lingkungan UIN Antasari kembali menjadi sorotan publik. Meski proses tersebut telah berlangsung sekitar lima bulan lalu, sejumlah civitas akademika mulai mempertanyakan adanya dugaan pengaturan politik dalam suksesi kepemimpinan kampus.
Informasi yang dihimpun dari beberapa sumber internal menyebutkan bahwa proses penentuan rektor diduga telah dirancang sejak awal oleh mantan rektor sebelumnya untuk mempertahankan pengaruh di lingkungan kampus.
Salah satu nama yang disebut dalam proses tersebut adalah balon rektor berinisial N.M, yang menurut sumber dipilih bukan tanpa alasan, melainkan dianggap mampu mengamankan kepentingan kelompok tertentu pasca pergantian kepemimpinan.
“Menurut informasi yang berkembang di internal, suksesi rektor memang sudah lama disetting secara politis,” ungkap salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Sumber internal juga menyebut bahwa mantan rektor diduga masih memiliki pengaruh kuat dalam menentukan arah kebijakan kampus melalui kepemimpinan rektor saat ini.
Mulai dari penempatan pejabat baru di tingkat rektorat hingga fakultas, hingga pengambilan kebijakan strategis kampus, disebut masih berada di bawah pengaruh dan arahan langsung rektor terdahulu.
“Remote-nya masih di tangan sidin,” ujar sumber internal menggambarkan dugaan kuatnya pengaruh mantan rektor terhadap kebijakan kampus saat ini.
Selain itu, sejumlah pejabat di lingkungan rektorat disebut sengaja diisi oleh kelompok muda yang dinilai minim pengalaman, sehingga dianggap lebih mudah diarahkan sesuai kepentingan tertentu.
Tak hanya itu, gaya kepemimpinan rektor saat ini juga dinilai sebagian civitas akademika cenderung menyerupai pola kepemimpinan sebelumnya yang disebut lebih bersifat sentralistik dan kurang mengakomodasi aspirasi.
Beberapa sumber internal mengaku adanya keluhan terkait kebijakan mutasi dan rolling jabatan yang dinilai dilakukan secara serampangan dan memicu keresahan di sejumlah fakultas.
“Rapat sering dilakukan, tetapi aspirasi tidak banyak diakomodasi. Kebijakan yang berjalan tetap lebih dominan keputusan pribadi,” ungkap sumber lainnya.
Situasi tersebut memunculkan anggapan di kalangan internal bahwa kepemimpinan rektor saat ini masih diatur langsung oleh rektor terdahulu melalui pengaruh dan jaringan yang masih kuat di lingkungan kampus.
Sejumlah civitas akademika berharap apabila dugaan kecurangan dan intervensi dalam proses penjaringan rektor terbukti, maka perlu dilakukan evaluasi menyeluruh, baik secara administratif maupun sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Mereka juga meminta perhatian dari Kementerian Agama RI sebagai pemangku kebijakan tertinggi di lingkungan perguruan tinggi keagamaan negeri agar melakukan pengawasan serius terhadap tata kelola kepemimpinan di UIN Antasari.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak rektorat UIN Antasari maupun pihak-pihak yang disebutkan dalam informasi tersebut belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan yang berkembang di lingkungan internal kampus.
Catatan: Pemberitaan ini disusun berdasarkan informasi dan keterangan dari sejumlah sumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan. Seluruh pihak yang disebutkan memiliki hak jawab dan asas praduga tak bersalah tetap dikedepankan sesuai ketentuan hukum dan Kode Etik Jurnalistik.
(Tim BR-V)


