BRV.COM||Sleman – Peserta Indonesian Green Principal Award (IGPA) Batch 8 melakukan kunjungan edukatif ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening untuk belajar bersama mengenai pentingnya pemanenan dan pemanfaatan air hujan demi mendukung keberlangsungan hidup yang berkelanjutan.(9/5/2026)
Indonesian Green Principal Award (IGPA) merupakan program yang didesain sebagai bagian dari diseminasi Ekonomi Sirkular dalam dunia pendidikan sekaligus sebagai ajang kompetisi para kepala sekolah baik di tingkat SD, SMP maupun SMA. Melalui program ini, para peserta diajak untuk mempelajari berbagai inovasi dan praktik nyata yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing guna menciptakan ekosistem pendidikan yang ramah lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 7 Mei 2026 tersebut diikuti oleh para peserta IGPA Batch 8 dengan penuh antusias.
Mereka datang untuk memahami secara langsung bagaimana air hujan dapat dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan yang bernilai melalui konsep 5M, yaitu menampung, mengolah, minum, menabung, dan mandiri. Konsep tersebut menjadi dasar gerakan pemanfaatan air huan yang selama ini dikembangkan oleh Sekolah Air Hujan Banyu Bening.

Materi dalam kegiatan tersebut disampaikan langsung oleh founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening, yaitu Sri Wahyuningsih. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa air hujan merupakan sumber air alami yang sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari apabila dikelola dengan benar. Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk mulai mandiri terhadap kebutuhan air bersih.
Dalam sesi pembelajaran, Sekolah Air Hujan Banyu Bening juga mengenalkan inovasi penampungan air hujan melalui metode ISLAH (Instalasi Lumbung Air Hujan). Metode ini dirancang sebagai sistem penampungan air hujan yang dapat membantu masyarakat menyimpan cadangan air secara efektif untuk kebutuhan sehari-hari. Inovasi tersebut menjadi salah satu solusi dalam menghadapi tantangan krisis air bersih sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan alat pengolahan air hujan menggunakan teknologi elektrolisa. Alat tersebut bekerja dengan memecah molekul air menjadi kandungan asam dan basa sehingga air dapat diolah sesuai kebutuhan. Demonstrasi penggunaan alat elektrolisa ini menarik perhatian peserta karena memperlihatkan bagaimana teknologi sederhana dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas air dan mendukung kesehatan masyarakat.
Tidak hanya menyampaikan teori, peserta juga diajak memahami praktik sederhana pemanenan air hujan secara manual yang dapat diterapkan di rumah maupun sekolah. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan para peserta mampu membawa semangat perubahan dan mengembangkan budaya peduli lingkungan di daerah masing-masing.
Selama diskusi berlangsung, para peserta aktif bertanya mengenai pengolahan air hujan, manfaat kesehatan, hingga strategi penerapan konsep keberlanjutan di lingkungan pendidikan. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama sekaligus refleksi atas pentingnya menjaga sumber daya air di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Pada akhir sesi penyampaian materi, Yu Ning menyisipkan pesan reflektif yang menarik perhatian peserta, “Dipaksa sehat di negeri yang sakit.” Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan dan kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari kesadaran masing-masing individu.
Melalui kunjungan ini, peserta IGPA Batch 8 diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai pemanenan air hujan, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang mendorong terciptanya gaya hidup berkelanjutan di lingkungan sekolah dan masyarakat.(Red)


