🕰️ Sarat Kisah 100 Tahun Jam Gadang: IMLF-4 Hadirkan 1.000 Wanita Mengukir Keindahan Busana Minangkabau

🕰️ Sarat Kisah 100 Tahun Jam Gadang: IMLF-4 Hadirkan 1.000 Wanita Mengukir Keindahan Busana Minangkabau

Suherni, ketua PPMI Jakarta dan Soni Drestiana, wakil ketua IMLF ( Rel)

Beritarepublikviral.com// Bukittinggi, – Angin gunung kembali berbisik membawa kabar bahagia, seolah-olah setiap sudut Kota Bukittinggi ikut bersorak menyambut sebuah peristiwa agung. Sang ikon kota, Jam Gadang, yang telah berdiri gagah dan setia mengawal waktu selama seabad lamanya, kini bersiap merayakan usia ke-100 tahunnya dengan kemeriahan yang tak terlupakan.

Dalam pelukan perayaan sejarah ini, Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-4 (IMLF-4) akan menggelar permadani kebudayaan mulai tanggal 3 hingga 7 Juni 2026. Di bawah naungan langit Bukittinggi, acara ini bukan sekadar pertemuan, melainkan sebuah penghormatan besar bagi warisan luhur leluhur, di mana kata-kata dan keindahan akan berjalan beriringan.

Salah satu puncak acara yang paling dinanti dan siap membius pandangan dunia adalah peragaan agung: “Seribu Wanita Berbusana Minangkabau”. Sebuah barisan keanggunan yang akan berjalan seolah menari di atas jalanan kota, mengenakan jubah tradisi yang berbicara tentang jati diri, kemuliaan, dan kehalusan budi pekerti wanita Tanah Datar.

Suherni Syam, sang koordinator acara yang juga memimpin Persatuan Perempuan Minangkabau Indonesia (PPMI), menuturkan dengan hati yang membara saat pertemuan panitia baru-baru ini. Ia menceritakan bagaimana semangat para wanita berdatangan bagai sungai-sungai kecil yang bermuara ke samudra luas. Hingga hari ini, sekitar 800 jiwa telah mendaftarkan diri; mereka datang dari penjuru ranah Minang sendiri, maupun mereka yang berdarah Minang namun telah lama berkelana di rantau jauh.

“Sebagai anak Bukittinggi, hati ini membuncah bangga. Kami ingin membiarkan dunia melihat: busana kami bukan sekadar kain yang menutup raga, melainkan jiwa budaya yang dipintal indah,” ungkap Suherni dengan nada penuh harap. Ia pun mengingatkan, bahwa saat ini banyak bentuk busana yang mulai luntur dari akar keminang-kabauannya.
Maka, gelaran ini hadir untuk membangkitkan kembali ruh busana asli, agar keaslian itu terpampang jelas dan dipahami oleh mata dunia internasional.

Soni Drestiana, Wakil Ketua IMLF-4 untuk Bidang Luar Negeri, Delegasi, dan Acara, turut menambahkan kisah di balik gagasan indah ini. Awalnya, konsep ini hanya berniat mengundang 100 wanita saja—sesuai dengan angka sakral usia Jam Gadang yang genap seabad. Angka 100 menjadi benang merah di hampir setiap sudut acara: ada peluncuran 100 buku, penanaman 100 pohon yang kelak akan tumbuh menjadi nafas kota, pameran kaligrafi sepanjang 100 meter yang seolah menulis surat cinta sejarah, antologi 100 puisi untuk Jam Gadang, hingga parade baca puisi yang mempertemukan 100 penyair dari berbagai penjuru bumi.

Namun, semangat tak bisa dibatasi angka!
Setelah bersua dengan PPMI dan melihat antusiasme masyarakat yang meluap-luap, angka itu pun berubah menjadi 1.000. Begitu undangan menyebar, respon datang bagai ombak yang tak henti menyapa pantai. Tak hanya wanita pribumi, delegasi dari negeri-negeri jauh pun terpikat pesona ini: Vietnam, Puerto Rico, hingga Bulgaria menyatakan keinginan tulusnya untuk ikut berjalan dalam barisan itu, memadu keindahan budaya mereka dengan keanggunan Minang.

“Ini kejutan indah yang tak terduga,” ujar Soni, yang telah lama berpengalaman merancang acara kultural lintas negara.

Kini, Suherni dan Soni semakin memantapkan langkah, menyiapkan setiap detil dengan penuh kasih sayang. Mereka tak hanya menyiapkan panggung, namun sedang merangkai jembatan budaya: memperkenalkan setiap lekir ornamen, setiap makna sulaman, dan setiap nilai yang tersimpan dalam busana Minang kepada 35 negara yang mengirimkan wakilnya.

Nanti, saat seribu wanita itu melangkah beriringan, Jam Gadang akan berdiri lebih gagah dari biasanya, menatap bangga putri-putri tanahnya yang membawa cahaya warisan leluhur, menjadikan hari itu sebagai salah satu lembar emas sejarah kebudayaan Indonesia.(Rel)