Beritarepublikviral.com// Padang, – Kabar duka yang diterima Sastri Bakry itu datang tiba-tiba. Meski tak begitu mengejutkan, lukanya tetap dalam: Iyut Fitra berpulang ke rahmatullah. Penyair yang puisinya setajam keris, esainya sehangat kopi pagi di Padang, tawanya serenyah kerupuk sanjai Bukittinggi, dan suaranya yang menggema di Lembah Harau itu, kini telah pergi.
Iyut Fitra (Zulfitra) menghembuskan napas terakhir di RS M. Djamil, Padang, pada Senin, 27 April 2026, pukul 15.26 WIB. Sakitnya memang tak lagi bisa ia tahan.
Beberapa hari lalu, Sastri Bakry bersama Zusneli Zubir membesuknya. Ketika saya menyentuh perutnya yang membesar seperti perempuan hamil sembilan bulan, ia berteriak kesakitan. Saya pun kaget.
“Teruslah menulis, Yut. Kalau perlu bersuara saja, nanti yang menjagamu akan menuliskannya,” pesan Sastri Bakry saat hendak pamit pulang. Itu dialog terakhir kami.
Bagi saya, Iyut bukan sekadar sastrawan. Dia adik, teman, sekaligus lawan diskusi paling galak. Banyak kenangan kami tentang SatuPena Sumbar. Pandangannya, bahkan sejak International Minangkabau Literacy Festival pertama, menjadi kenangan tersendiri bagi saya.
Iyut yang Saya Kenal: Keras di Prinsip, Lembut di Hati
Orang mengenal Iyut dari puisinya yang menggugat. Tapi saya mengenal Iyut yang diam-diam mengontak saya. Kadang saya menyambut baik. Kadang saya kesal, merasa dimanfaatkan. Tapi kadang saya merasa justru memerlukannya. Sangat manusiawi.
Saya ingat betul IMLF-1 tahun 2023. Delegasi dari 12 negara hadir. Hujan deras mengguyur. Saya menunggu Iyut Fitra tampil di puncak acara. Tapi ia tak datang. Sepuluh penyair Sumbar terpilih lainnya telah tampil bergantian selama lima hari itu: Andria Catri Tamsin, Armeynd Sufhasril, Yenny Ibrahim, dan lainnya. Waktu itu saya hanya bergumam: “Sastra nggak boleh kalah sama hujan!” Itulah Iyut. Baginya, puisi bukan cuma di kertas, tapi di tindakan.
Warisan Kata yang Ditinggalkan
Buku-buku puisi Iyut banyak tersedia di Rumah Baca Teras Talenta. Saya juga berkeliling mengantar buku-bukunya ke sekolah-sekolah dan rumah baca. Buku itu donasi dari Denny JA. Karyanya jadi bacaan wajib anak-anak Teras dan pegiat sastra Sumbar. Ada beberapa puisinya yang membuat saya sedih. Seolah ia sedang menyiapkan kematiannya.
Namun, warisan terbesar Iyut bukan buku. Warisannya adalah keberanian kita untuk jujur. Ia mengajarkan bahwa penyair harus jadi nurani zaman, bukan sekadar perangkai kata indah.
Meski begitu, ada kalanya ia tak bisa menunjukkan dirinya apa adanya. Tekanan sekeliling membuatnya berpesan pada saya beberapa bulan lalu, saat saya datang bersama Refdinal Muzan:
“Uni, jan dikaluakan di medsos foto dan pertemuan awak ko. Ambo ndak kuat menerima serangan, karena kondisi sakik ko,” ujarnya lemah.
Sejak saat itu, saya dan Refdinal memang tak pernah mengunggah pertemuan kami. Bahkan ketika saya ke rumah sakit beberapa hari lalu. Saya setia pada pesannya.
Sumbar Kehilangan, Tapi Kata Tak Pernah Mati
Hari ini Tanah Minang berduka. Kita kehilangan satu penjaga kata. Tapi seperti yang sering Iyut bilang: “Penyair bisa mati, puisi tidak.”
Maka tugas kita yang ditinggalkan adalah melanjutkan yang belum selesai: menjaga literasi Sumbar tetap menyala, memastikan anak muda berani menulis jujur, dan saya bertekad membuat IMLF tetap jadi rumah untuk semua orang.
Tanpa blok, tanpa benci, tanpa kelompok. Selalu berkolaborasi dengan penuh semangat.
Selamat jalan, Iyut. Terima kasih sudah jadi adik, jadi guru, jadi teman, jadi lawan berdebat paling seru. Surga pasti lebih puitis karena ada kau di sana.
Puisi terakhirmu sudah kau tulis: dengan hidup yang selesai secara sempurna.
Al-Fatihah.
Semoga husnul khatimah. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga selalu kuat, ikhlas, tabah, dan sabar. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.(Team Satupena)

