Mencari Pemimpin Baru BAZNAS Makassar, Dorong Transformasi Zakat yang Lebih Progresif

Mencari Pemimpin Baru BAZNAS Makassar, Dorong Transformasi Zakat yang Lebih Progresif

Beritarepublikviral.com // Makassar, 11 April 2026Pencarian pemimpin baru Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar dinilai bukan sekadar proses administratif, melainkan momentum penting menentukan arah dan visi pengelolaan zakat ke depan.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi “Ngopi Ngobrol Pintar: Mencari Pemimpin Baru BAZNAS Makassar” yang digelar PRIMA DMI Kota Makassar di Warkop Kualiti Coffee, Jalan Toddopuli Raya, Sabtu (11/4).

Butuh pemimpin visioner

Dalam diskusi tersebut, peserta sepakat bahwa BAZNAS membutuhkan pemimpin yang mampu mendobrak kemapanan. Pemimpin diharapkan mampu mengadopsi teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur serta menjadikan zakat sebagai motor penggerak kebangkitan umat.

“BAZNAS tidak hanya sekadar ada, tetapi harus menjadi penggerak kesejahteraan umat di era berkemajuan,” menjadi salah satu poin utama dalam diskusi.

Potensi zakat besar

Kepala Bagian Kesra Kota Makassar, H. Muh. Syarief, menyebut potensi zakat di Kota Makassar mencapai Rp1,3 triliun. Potensi ini dinilai harus dikelola secara optimal demi kesejahteraan masyarakat.

Kepekaan sosial jadi kunci

Tiga pemateri, yakni H. Muh. Syarief, Ketua BAZNAS Makassar H.M. Ashar Tamanggong, dan Ketua Rumah Zakat Sulsel Amir, ST., MM, sepakat bahwa pemimpin BAZNAS harus memiliki kepekaan sosial tinggi.

Artinya, pemimpin tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi mampu memahami kondisi masyarakat hingga ke pelosok dan wilayah pesisir.

Kolaborasi pentahelix

Pemimpin BAZNAS ke depan juga dituntut memiliki kemampuan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, hingga media.

Sinergi ini diharapkan mampu menjadikan BAZNAS sebagai mitra strategis dalam pengentasan kemiskinan.

Integritas dan visi perubahan

H.M. Ashar Tamanggong menekankan bahwa pemimpin BAZNAS harus memiliki integritas dan tidak berorientasi pada kepentingan pribadi. Selain itu, pemimpin harus mampu mengubah mustahik menjadi muzakki melalui program zakat produktif.

“Pemimpin BAZNAS harus punya visi besar, mampu mengelola secara profesional, namun tetap memiliki empati terhadap masyarakat,” ujarnya.

Perpaduan profesionalisme dan empati

Diskusi juga menekankan pentingnya keseimbangan antara profesionalisme dan nilai kemanusiaan. Pemimpin ideal diharapkan memiliki ‘otak korporasi’ dalam pengelolaan dan ‘hati aktivis’ dalam pelayanan.

BAZNAS sebagai jembatan keadilan sosial

Keberhasilan BAZNAS tidak hanya diukur dari jumlah dana yang terkumpul. Namun juga dari dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya para mustahik.

“Suksesnya BAZNAS terlihat dari senyuman mustahik yang terbantu,” ungkap salah satu narasumber.

Diharapkan, pemimpin baru BAZNAS Makassar mampu membawa lembaga ini menjadi lebih profesional, transparan, dan berdampak luas bagi masyarakat.

Pemberitaan ini disusun berdasarkan hasil diskusi dan keterangan narasumber. Redaksi membuka ruang klarifikasi sesuai ketentuan Undang-Undang Pers yang berlaku.

Editor: Andi Syamsir