Beritarepublikviral.com // Kepulauan Riau, April 2026 — Kota Batam sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau menghadapi tantangan serius dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Chhablullah Wibisono, MM, IPU, yang menyoroti semakin kompleksnya tekanan terhadap lingkungan seiring pesatnya perkembangan industri, perdagangan, dan jasa di Kota Batam.
Tekanan terhadap kualitas lingkungan
Menurutnya, kualitas lingkungan hidup di Batam mengalami penurunan signifikan. Kualitas air menjadi salah satu isu utama akibat pencemaran limbah domestik dan industri, serta meningkatnya sedimentasi yang mengancam ketersediaan air bersih.
Di sisi lain, kualitas udara juga menghadapi tekanan akibat emisi dari aktivitas industri dan transportasi. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Persoalan sampah dan degradasi lahan
Volume sampah yang terus meningkat belum diimbangi dengan sistem pengelolaan yang optimal. Ketergantungan pada tempat pembuangan akhir masih tinggi, sementara tingkat daur ulang relatif rendah.
Selain itu, alih fungsi lahan yang masif telah mengurangi kawasan hutan dan mangrove. Dampaknya, risiko banjir meningkat serta daya dukung lingkungan semakin menurun.
Ancaman terhadap ekosistem pesisir
Ekosistem pesisir dan laut juga menghadapi tekanan serius, seperti kerusakan terumbu karang dan pencemaran laut. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kehidupan nelayan serta keberlanjutan sumber daya laut.
Tantangan struktural pembangunan
Permasalahan lingkungan di Batam tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga struktural. Urbanisasi dan industrialisasi yang pesat belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan infrastruktur lingkungan dan koordinasi lintas sektor.
Perlunya langkah strategis
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan langkah komprehensif dan berkelanjutan. Mulai dari perlindungan sumber air, pengawasan limbah industri, pengendalian emisi, hingga penguatan pengelolaan sampah berbasis 3R.
Selain itu, penataan tata ruang serta rehabilitasi mangrove dinilai penting sebagai bagian dari mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan.
Kolaborasi jadi kunci
Upaya menjaga ekosistem laut dan lingkungan secara keseluruhan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Sinergi ini menjadi faktor utama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Pembangunan berkelanjutan sebagai tujuan
Pembangunan Kota Batam tidak hanya harus berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Keberlanjutan lingkungan harus menjadi fondasi utama agar kemajuan yang dicapai bersifat jangka panjang.
Dengan komitmen dan kesadaran kolektif, Batam diharapkan mampu menjadi kota yang maju secara ekonomi sekaligus tangguh secara ekologis.
(Nursalim)


