Ratusan Pelajar Tabanan Ikuti Sosialisasi Pencegahan Radikalisme Dan Kriminalitas Oleh Kesbangpol Bali

Ratusan Pelajar Tabanan Ikuti Sosialisasi Pencegahan Radikalisme Dan Kriminalitas Oleh Kesbangpol Bali

BR-V # Tabanan – Bali || Upaya memperkuat ketahanan generasi muda terhadap ancaman radikalisme dan kriminalitas terus digencarkan. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali berkolaborasi dengan Densus 88 Anti Teror Polri wilayah Bali dan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bali menggelar Road Show Sosialisasi Pencegahan Paparan Radikalisme dan Kriminalitas di SMA Negeri 1 Tabanan, Rabu (1/4).Kegiatan ini menyasar pelajar sebagai kelompok strategis yang rentan terhadap pengaruh negatif di era digital, sekaligus menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan di masa depan.

Para narasumber dalam kegiatan ini terdiri dari Kasatgas Densus 88 Bali dan KPAD Provinsi Bali dengan diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari pelajar, guru, serta undangan dari berbagai sekolah di wilayah Tabanan.

Dalam sambutan Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Bali yang dibacakan oleh Analis SDM Aparatur Badan Kesbangpol Provinsi Bali Anak Agung Surya Pradita, S.STP., M.Si., ditegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi yang pesat turut membuka ruang bagi penyebaran paham radikalisme dan berbagai bentuk kriminalitas di kalangan remaja.

“Radikalisme tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan, tetapi juga dapat berawal dari pola pikir intoleran, menolak perbedaan, dan mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar,” tegasnya.

Lebih lanjut, pelajar diimbau untuk memperkuat karakter, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta bijak dalam bermedia sosial. Nilai-nilai toleransi, saling menghargai, dan cinta tanah air juga ditekankan sebagai fondasi utama dalam menangkal pengaruh negatif.

Sementara itu, dalam pemaparan materi, narasumber dari Densus 88 Bali menjelaskan bahwa radikalisme umumnya ditandai dengan sikap intoleran, fanatisme berlebihan, eksklusivitas, serta kecenderungan menggunakan kekerasan. Faktor penyebabnya antara lain pengaruh lingkungan, lemahnya pemahaman ideologi, serta paparan konten negatif di media sosial.

Selain radikalisme, peserta juga diberikan pemahaman terkait berbagai bentuk kriminalitas di kalangan remaja, seperti tawuran, perundungan (bullying), penyalahgunaan narkoba, hingga cyberbullying. Dampak dari perilaku tersebut dinilai dapat merusak masa depan individu sekaligus mengganggu stabilitas sosial.

“Pelajar harus berani mengatakan tidak pada pergaulan negatif dan segera melaporkan jika menemukan indikasi tindakan menyimpang di lingkungannya,” ujar narasumber.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab, yang menunjukkan tingginya antusiasme peserta. Kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan institusi pendidikan ini diharapkan mampu membangun ketahanan ideologi sejak dini.

Melalui kegiatan ini, Kesbangpol Provinsi Bali menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam membina generasi muda agar menjadi pribadi yang berintegritas, toleran, serta memiliki wawasan kebangsaan yang kuat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Kesbangpol Bali)