Berita Republik – Viral
Tanjung Redeb 1 APRIL 2026
Di kedalaman hutan Kalimantan, terdapat makhluk yang telah menyaksikan perubahan bumi selama jutaan tahun. Namun hari ini, cerita panjang badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) berada pada kalimat terakhirnya. Hanya tersisa dua individu betina di dunia ini, menjadikan spesies ini bukan sekadar hewan langka, melainkan simbol krisis keanekaragaman hayati yang dihadapi Indonesia dan dunia.
LELUHUR YANG MENYUSURI DARATAN SUNDALAND
Sejarah keberadaan mereka bermula jauh sebelum manusia mengenal tulisan. Ribuan tahun lalu, ketika permukaan air laut turun selama Zaman Es, benua Asia dan kepulauan Nusantara menyatu menjadi daratan luas yang dikenal sebagai Sundaland. Melalui jalur darat inilah leluhur badak berjalan, menjelajah hingga ke jantung hutan yang kini kita sebut Kalimantan.
Ketika air laut kembali naik dan pulau-pulau terbentuk seperti sekarang, sebagian dari mereka tetap tinggal dan beradaptasi. Di bawah naungan kanopi hutan hujan tropis yang lebat, mereka berevolusi menjadi badak terkecil di dunia, berbadan kekar namun lincah, dan uniknya masih memiliki rambut di tubuhnya, ciri yang membedakannya dari kerabat badak lainnya.
Masyarakat adat mengenalnya sebagai “Kuda Tanah” atau “Badak Berambut”. Bagi suku-suku asli, kehadiran mereka adalah tanda bahwa hutan masih sehat dan hidup. Pada awal abad ke-20, wilayah jelajah mereka masih membentang luas, dari perbatasan Kalimantan Tengah hingga kawasan Heart of Borneo. Ilmuwan Inggris, Tom Harrisson, yang pertama kali mendeskripsikan keberadaan mereka secara ilmiah pada tahun 1930-an, bahkan memberi nama spesifik harrissoni sebagai penghormatan saat itu, tak ada yang menyangka bahwa spesies ini akan menghadapi kepunahan dalam waktu kurang dari satu abad.
DUA ANCAMAN YANG MENGGERUS POPULASI
Awal kemunduran dimulai pada pertengahan abad ke-20, ketika dua musuh besar mulai bergerak, perburuan dan kerusakan habitat.
Mitos bahwa cula badak memiliki khasiat pengobatan atau status kemewahan membuatnya menjadi target perburuan ilegal yang kejam. Meskipun secara ilmiah cula tersebut hanya tersusun dari keratin bahan yang sama dengan kuku manusia dan harga di pasar gelap menjadikan badak sebagai sasaran empuk.
Namun, ancaman yang lebih besar justru datang dari perubahan wajah bumi itu sendiri. Hutan lebat yang menjadi rumah mereka mulai dibuka untuk perkebunan, pertambangan, dan pemukiman. Habitat yang dulunya satu kesatuan terpecah-pecah menjadi pulau-pulau hutan yang terisolasi. Bagi hewan yang hidup menyendiri dan memiliki wilayah jelajah luas, ini adalah hukuman mati. Mereka sulit bertemu pasangan, sementara siklus reproduksi mereka sangat lambat. Betina hanya melahirkan satu anak setiap beberapa tahun sekali.
Pada tahun 2010, para peneliti memperkirakan hanya tersisa belasan individu. Angka itu terus menyusut. Pukulan berat datang pada tahun 2015, ketika badak betina bernama Najaq ditemukan terjerat perangkap pemburu. Meski tim konservasi berjuang menyelamatkannya, infeksi luka terlalu parah dan Najaq akhirnya menghembuskan napas terakhir, satu lagi nyawa hilang karena ulah manusia.
KENYATAAN PAHIT: HANYA DUA BETINA YANG TERSISA
Pemantauan terbaru yang dilakukan sepanjang tahun 2025 melalui kamera jebakan dan survei lapangan mengungkapkan fakta yang membuat hati dingin: di seluruh Kalimantan, hanya ada dua individu yang terkonfirmasi masih hidup, dan keduanya adalah betina. Tidak ada jejak, tidak ada tanda, dan tidak ada bukti keberadaan badak jantan.
– Pahu, salah satu dari dua nyawa itu, kini tinggal di tempat yang aman namun menyedihkan: Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) Kelian di Kabupaten Kutai Barat. Ia dipindahkan ke sana pada tahun 2024, hidup di kawasan suaka seluas 5.000 hektare yang dirancang khusus untuknya, namun tanpa pasangan.
– Pari, saudaranya yang lain, masih berkeliaran di alam liar, tepatnya di Hutan Lindung Sungai Ratah, Kabupaten Mahakam Ulu. Keberadaannya masih terdeteksi, namun posisinya yang terisolasi membuatnya tak mungkin bisa berkembang biak secara alami. Rencananya, Pari akan segera dievakuasi untuk bergabung dengan Pahu, bukan untuk membentuk keluarga, melainkan untuk upaya penyelamatan ilmiah terakhir.
DARURAT KONSERVASI, PERLOMBAAN MELAWAN WAKTU
Pemerintah Indonesia telah menetapkan status ini sebagai “Darurat Konservasi”. Seluruh sumber daya dikerahkan dalam perlombaan melawan waktu yang kemungkinannya sangat tipis.
“Kita tidak bisa membiarkan satu spesies lagi hilang di depan mata kita,” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam pernyataan resminya.
“Badak Kalimantan adalah warisan dunia, dan tanggung jawab kita untuk berusaha sekuat tenaga.”
Berbagai langkah ekstrem kini sedang dipersiapkan:
– Tim pencari masih menjelajahi sudut-sudut hutan terpencil dengan harapan menemukan satu atau dua ekor jantan yang belum terdeteksi.
– Kolaborasi internasional sedang dibangun untuk menerapkan teknologi reproduksi canggih, seperti inseminasi buatan dan transfer embrio, menggunakan materi genetik yang tersimpan dari badak jantan yang telah mati sebelumnya.
– Kawasan Suaka Margasatwa Kelian terus dikembangkan dan diperluas, menjadi benteng terakhir harapan.
Bagi IUCN dan komunitas internasional, nasib badak Kalimantan adalah ujian nyata bagi komitmen dunia terhadap alam. Kehilangan mereka bukan sekadar hilangnya satu jenis hewan, tapi kerusakan pada keseimbangan ekosistem hutan yang tak dapat diperbaiki.
Hari ini, nasib “Kuda Tanah” bergantung pada seberapa jauh ilmu pengetahuan dan keteguhan hati manusia mampu bekerja. Di ujung tanduk mereka, tergantung juga masa depan hutan Kalimantan itu sendiri.
Aroel Mandang
9