Beritarepublikviral.com Jakarta 18/3/26 – Perubahan sikap publik biasanya jatuh ke beberapa kemungkinan rasional—bukan satu jawaban tunggal, tapi spektrum. Kita lihat kasus Rismon Sianipar.
Pertama, Update informasi
Manusia yang berpikir itu bisa berubah kalau datanya berubah. Bisa saja dia awalnya yakin dengan suatu narasi (misalnya soal ijazah Joko Widodo), lalu menemukan bukti yang melemahkan posisinya. Dalam sains, ini bukan kelemahan—ini justru tanda sistem berpikir masih hidup. Tapi… perubahan drastis biasanya butuh bukti yang benar-benar kuat. Kalau tidak terlihat transparan, publik jadi curiga. Dan kecurigaan itulah yang paling kuat muncul di publik.
Kedua, Tekanan kekuasaan
Kita tidak hidup di ruang hampa. Ada struktur kekuasaan, ada jaringan kepentingan. Tekanan bisa halus (akses, relasi, reputasi) atau keras (hukum, ekonomi). Hipotesis ini populer karena sesuai dengan intuisi banyak orang: “orang gak mungkin berubah secepat itu tanpa dorongan eksternal.”
Ketiga, Realignment kepentingan (politik sebagai permainan posisi)
Dalam politik, konsistensi sering kalah oleh kepentingan. Seseorang bisa berpindah posisi karena melihat arah angin kekuasaan berubah. Kepentingan ini demi keselamatan dirinya dengan cara hipokrit. Politik adalah dunia pragmatis, mana yang paling menguntungkan itulah yang diambil.
Keempat, Overconfidence collapse (jatuh dari keyakinan berlebihan)
Kadang orang terlalu yakin di awal—narasinya kuat, retorikanya tajam. Lalu realitas pelan-pelan menggerus keyakinan itu. Saat runtuh, perubahan sikap bisa terlihat ekstrem, bahkan memalukan. Ini fenomena psikologis yang cukup umum: dari sangat yakin → sangat ragu → pindah kubu. Sejak awal, Rismon memang mencurigakan, mengkritik tajam dan menantang orang-orang Bareskrim, pejabat Polri dll yang dia aman saja tanpa resiko. Keberanian dia mengkritik terbuka sekilas mengagumkan. Tapi setelah berbalik, orang-orang kini meyakini, Rismon adalah selundupan sejak awal. (Tim)


