Misteri Kematian Warga Binaan Lapas Narkotika Banyuasin, Keluarga Siap Tempuh Otopsi Demi Mengungkap Fakta

Misteri Kematian Warga Binaan Lapas Narkotika Banyuasin, Keluarga Siap Tempuh Otopsi Demi Mengungkap Fakta

Beritarepublikviral.com // Banyuasin, 17 Maret 2026Kematian seorang warga binaan di Lapas Narkotika Kelas IIB Banyuasin bernama SANDI (29), warga Talang Betutu, Kecamatan Sukarami, Palembang, hingga kini masih menyisakan berbagai tanda tanya. Narapidana kasus narkotika yang diketahui sedang menjalani hukuman selama 4,5 tahun tersebut dilaporkan meninggal dunia pada Selasa (10/03/2026).

Peristiwa ini menjadi sorotan setelah pihak keluarga mengaku menemukan sejumlah luka memar pada tubuh korban saat melihat kondisi jenazah. Temuan tersebut kemudian memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat terkait penyebab pasti kematian warga binaan tersebut.

Di tengah beredarnya berbagai informasi, muncul sejumlah dugaan yang berkembang di masyarakat. Salah satunya menyebut korban meninggal akibat dugaan tindakan kekerasan di dalam lapas yang kerap disebut dengan istilah “BON”. Namun hingga saat ini, informasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.

Selain dugaan tersebut, beredar pula informasi lain yang menyebutkan korban diduga terjatuh di kamar mandi sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Di sisi lain, informasi yang dihimpun juga menyebutkan bahwa pihak RSUD Sukajadi Banyuasin sempat menerima korban sebelum meninggal dunia. Bahkan terdapat keterangan yang mengarah pada adanya indikasi penyakit ginjal. Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi secara rinci mengenai kondisi medis korban sebelum meninggal dunia.

Sementara itu, Kepala Pengamanan Lapas (KPLP) Lapas Narkotika Banyuasin, Deri Isnan, saat ditemui awak media menyampaikan bahwa tidak ada tindakan kekerasan terhadap korban.

“Tidak ada kekerasan terhadap korban,” ujar Deri Isnan singkat.

Namun demikian, pernyataan tersebut belum disertai penjelasan rinci maupun bukti pendukung yang dapat memperkuat klaim bahwa tidak terjadi kekerasan terhadap warga binaan tersebut.

Pihak lapas juga belum dapat memberikan keterangan detail terkait kemungkinan adanya riwayat penyakit yang dimiliki korban. Bahkan hingga kini belum diperlihatkan dokumen atau rekaman medis yang dapat memastikan kondisi kesehatan korban sebelum meninggal dunia.

Kondisi ini membuat berbagai pertanyaan publik masih belum terjawab secara jelas, terutama terkait kronologi kejadian serta penyebab pasti meninggalnya warga binaan tersebut.

Kapolsek Talang Kelapa Banyuasin, Kompol Herli Setiawan ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari keluarga korban melalui kuasa hukum mereka.

“Sekarang masih penyelidikan. Anggota masih menyelidiki di lapangan apakah ada pidana atau tidak,” kata Kompol Herli Setiawan, Jumat (13/03/2026).

Ia menjelaskan, setelah proses penyelidikan dilakukan secara menyeluruh, barulah dapat diketahui secara pasti penyebab kematian korban serta apakah terdapat unsur pidana dalam peristiwa tersebut.

“Nanti setelah penyelidikan baru bisa diketahui apakah ada unsur pidana atau tidak. Karena sejauh ini kasus yang terjadi di Lapas Narkotika Kelas IIB Banyuasin masih berproses,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa pihak kepolisian masih terus melakukan pendalaman terhadap berbagai informasi yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

“Nanti kalau ada perkembangan diberi tahu. Sekarang masih penyelidikan,” pungkasnya.

Sementara itu, keluarga korban menyatakan siap menempuh langkah otopsi terhadap jenazah SANDI demi mengungkap secara jelas penyebab kematian yang sebenarnya. Langkah ini diambil sebagai upaya menuntut keadilan serta membuka fakta yang sebenarnya di balik meninggalnya warga binaan tersebut.

Keluarga juga menilai terdapat sejumlah kejanggalan yang terjadi dalam peristiwa tersebut, di antaranya:

1. Ditemukannya banyak luka lebam di sekujur tubuh korban.
2. Informasi kematian korban pertama kali disampaikan oleh sesama warga binaan, bukan dari pihak petugas lapas.
3. Hingga kini belum diperlihatkan rekam medis yang memastikan bahwa korban meninggal akibat penyakit tertentu.
4. Hampir satu minggu berlalu namun hasil visum belum juga selesai, sehingga memunculkan dugaan adanya kemungkinan permainan atau skenario tertentu.
5. Belum adanya atau belum diperlihatkannya rekaman CCTV yang berada di dalam lingkungan lapas.

Dengan adanya berbagai kejanggalan tersebut, keluarga berharap proses hukum dapat berjalan secara transparan dan objektif. Mereka menegaskan kesiapan untuk melakukan otopsi agar penyebab kematian SANDI dapat terungkap secara terang dan tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.

Pemberitaan ini disusun berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber yang tersedia saat ini. Seluruh dugaan maupun pernyataan yang disampaikan masih bersifat sementara dan menunggu hasil penyelidikan resmi dari pihak berwenang. Setiap pihak yang disebutkan dalam pemberitaan ini tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah serta memiliki hak jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(Tim Investigasi BR-V)