Oleh: Prof. Dr. Ir. Chhablullah Wibisono, MM, IPU
Wakil Rektor I UNIBA, PW Muhammadiyah Kepri, Wakil Ketua Umum MUI Kepri, Ketua FKUB Kota Batam
Satu tahun kepemimpinan bukanlah puncak pencapaian, melainkan titik refleksi untuk menimbang arah dan kualitas pembangunan. Evaluasi yang sehat menuntut keberanian melihat fakta secara objektif, berbasis data, serta terbuka terhadap kritik konstruktif. Dalam konteks Kota Batam, refleksi ini menjadi penting karena kota ini bukan sekadar kawasan industri, tetapi simpul strategis pertumbuhan di wilayah Kepulauan Riau dengan karakter kepulauan yang unik dan kompleks.
Isu banjir, reklamasi, serta pemotongan bukit menghadirkan tantangan ekologis yang tidak bisa dipandang remeh. Dengan 98 persen wilayah berupa laut, Batam memiliki karakter geografis yang menuntut kebijakan tata ruang berbasis mitigasi bencana dan keseimbangan lingkungan. Audit ekologis terhadap proyek reklamasi, normalisasi danau serta sistem drainase, hingga pengendalian alih fungsi lahan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan sejatinya hanya menunda krisis yang lebih besar di masa depan.
Di sisi lain, tata kelola pemerintahan menjadi fondasi yang menentukan kualitas pembangunan. Transparansi tidak cukup berhenti pada slogan reformasi birokrasi. Digitalisasi pelayanan publik yang terintegrasi, dashboard transparansi anggaran, evaluasi kinerja OPD berbasis indikator kuantitatif, serta penguatan pengawasan internal harus menjadi instrumen nyata perubahan. Korupsi bukan hanya lahir dari kesempatan, tetapi juga dari sistem yang permisif. Karena itu, reformasi tata kelola merupakan agenda moral sekaligus strategis bagi masa depan Batam.
Pembangunan infrastruktur memang dapat terlihat secara kasatmata dalam waktu singkat. Namun pembangunan sumber daya manusia memerlukan visi jangka panjang dan konsistensi kebijakan. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri menjadi kunci untuk melahirkan talenta digital, maritim, dan kewirausahaan lokal yang berdaya saing. Batam perlu bergerak dari kota berbasis tenaga kerja menuju kota berbasis pengetahuan, dari sekadar labour-based city menjadi knowledge-based city yang inovatif dan adaptif terhadap perubahan global.
Stabilitas sosial menjadi modal investasi yang tak ternilai. Batam dikenal sebagai kota yang toleran dan harmonis. Moderasi beragama, dialog lintas komunitas, serta penguatan peran tokoh masyarakat adalah aset sosial yang harus dijaga. Tanpa stabilitas sosial, pertumbuhan ekonomi akan rapuh. Investasi tidak hanya mencari insentif fiskal, tetapi juga kepastian sosial dan keamanan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata diukur dari angka pertumbuhan ekonomi atau megahnya infrastruktur. Ukuran sejatinya adalah kualitas hidup masyarakat, kelestarian lingkungan, dan keadilan sosial yang dirasakan bersama. Jika tata kelola diperkuat, ekologi dijaga, dan sumber daya manusia ditingkatkan, Batam berpotensi menjadi kota maritim modern yang berkelanjutan dan beperadaban kota yang tidak hanya membangun fisik ruang, tetapi juga membangun karakter dan masa depan peradaban.

